Categories
Uncategorized

Membangun Komunikasi Efektif Dalam Menentukan Keberhasilan Pembelajaran

Abstrak

Komunikasi secara umum merupakan suatu proses penyampaian – penerimaan pesan antar dua orang atau lebih. Pesan yang disampaikan dapat berupa komunikasi lisan, komunukasi tulisan, komunikasi verbal, komunikasi non verbal. Komunikasi tulisan suatu proses penyampaian pesan komunikasi dengan menggunakan kata-kata dalam bentuk tulisan yang memilki makna tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa komunikasi tulisan adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili komunikasi lisan termasuk kedalamnya adalah menulis dan membaca.

Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam pembelajaran.

Dengan  menguasai dan mengembangkan beberapa strategi serta  teknik berkomunikasi secara otomatis akan meningkatkan kemampuan untuk berhubungan dengan berbagai macam orang.Seorang pendidik bisa menciptakan dan mengembangkan  komunikasi yang efektif melalui materi pembelajaran yang bisa diterima dan mudah dipahami oleh peserta didik.

Dalam komunikasi pendidikan, seorang pendidik  harus mempunyai komunikasi pribadi yang baik karena ini akan berpengaruh untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didiknya.  Seorang pendidik juga harus mempunyai peranan yang penting untuk bisa mengendalikan kondisi kelas yang sehat karena merupakan tolak ukur keberhasilan.

Bahasa tubuh merupakan bagian yang sangat penting dalam komunikasi manusia yang merupakan bagian komunikasi nonverbal untuk dapat menyampaikan pesan-pesannya sendiri. Kita bahkan bisa memahami maksud komunikasi seseorang melalui bahasa tubuhnya. Hal lain yang penting dari bahasa tubuh dalam komunikasi umumnya dan komunikasi antar pribadi khususnya adalah membantu efektivitas komunikasi kita.

Kata kunci : komunikasi, pembelajaran, Pendidik,bahasa tubuh, efektif.

A. Latar Belakang

Komunikasi pendidikan sangat diperlukan demi keberlangsungan pendidikan. Proses belajar-mengajar merupakan komunikasi antara seorang guru dengan muridnya. Di sini, diperlukan penyampaian pesan yang efektif dengan  tujuan pesan yang berisi topik-topik tertentu dapat diterima dengan  baik oleh peserta didik. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya menyadari bahwa dalam kegiatan belajar mengajar itu sesungguhnya ia sedang berkomunikasi.Guru harus pandai dan memilih kalimat yang mudah dimengerti oleh muridnya. dengan demikian pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh muridnyadan kkomunikasi pendidikan dapat berjalan dengan baik. komunikasi pada hakekatnya adalah suatu proses sosial yaitu sesuatu yang berlangsung atau berjalan antara manusia. sebagai proses sosial dalam komunikasi terjadi interaksi individu dengan lingkungannya. inilah yang akhirnya menyebabkan terjadinya proses perubahan prilaku dari tidak tahu menjadi tahu dari tidak paham menjadi paham. Didalam UU No. 20 Tahun 2003tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal three disampaikan tujuan pendidikan nasional. Yang mana tujuan tersebut adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat,  berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawqab.

B, Pembahasan

1.    Arti Komunikasi

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.  Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu: Human communication is the strategy through which people –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the surroundings and each other. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.  Ada beberapa ahli  menyatakan  beberapa pendapat tentang komunikasi;

  1. Evertt M. Rogers mendefinisikan komunikasi sebagai proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya. Pendapat senada dikemukakan oleh Theodore Herbert, yang mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang di dalamnya menunjukkan arti pengetahuan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, biasanya dengan maksud mencapai beberapa tujuan khusus
  2. Wilbur Schramm memiliki pengertian yang sedikit lebih detil. Menurutnya, komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima.(Suranto : 2005)
  3. Mulyana(2000:sixty one-sixty 9)mengungkapkanpengertiankomunikasidalampandangan:

1. Komunikasi Sebagai Tindakan Satu Arah

Komunikasisebagaisuatuprosespenyampaianpesandari komunikator ke komunikan,  misalnyatenaga pendidik  kepadapihaklain(peserta didik), baik langsung  melalui  suatu  tatap  muka  ataupun  tidak  langsung  melalui  suatu  media.  Peristiwanya: seseorang atau organisasi mempunyai suatu informasi kemudian disampaikan kepada orang lain,dan orang lain itu menerima informasi tersebut baik dengan cara mendengarkan atau dengan cara membaca (suatu quiz).

Komunikasi yang terjadi berorientasi pada pesan: amessage-centered philosophy of communication.Keberhasilan komunikasi  seperti  ini  terletak pada  penguasaan  fakta  atau  informasi  dan  pengaturan  mengenai  cara-cara penyampaian fakta atau informasi tersebut.

2. Komunikasi sebagai Interaksi

Komunikasi merupakan suatu proses sebab-akibat atau aksi-reaksi secara bergantian baik verbal ataupun non-verbal.Misalnya :seseorang menyampaikan informasi kepada pihak penerima yang kemudian  memberikan respon atas informasi yang diterimanya  itu untuk  kemudian pihak pertama  bereaksi  lagi  setelah  menerima respon  atau umpan balik dari orang atau pihak kedua,dan seterusnya.Komunikasi demikian berorientasi pada pembicara :    a speaker – centered philosophy of communication dan mengabaikan kemungkinan seseorang bisa mengirim dan atau menerima informasi pada saat yang sama. Di sini unsur  umpan balik  (feed-back) menjadi cukup penting. Bagaimana  pihak pengirim dan penerima suatu informasi bisa silih berganti peran karena persoalan umpan balik.

Komunikasi sebagai transaksi merupakan suatu proses yang bersifat personal karena makna atau arti yang diperoleh pada dasarnya bersifat pribadi. Penafsiran atas suatu informasi melalui proses penyandian (encoding course of) dan melalui penyandian kembali (decoding course of) dalam peristiwa komunikasi baik atas perilaku verbal atau pun atas perilaku non-verbal bisa amat bervariasi.

Peristiwanya:melibatkan penafsiran yang bervariasi dan pembentukan makna yang lebih kompleks.Komunikasi tidak membatasi pada kesengajaan atau respons yang teramati melainkan pula mencakup spontanitas,bersifat simultan dan kontekstual.Komunikasi ini berorientasi pada arti baru yang terbentuk: a that means-centered philosophy of communication.

Berdasarkan beberapa definisi para ahli  di atas dapat diambil pemahaman bahwa :

  1. Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses penyampaian informasi. Dilihat dari sudut pandang ini, kesuksesan komunikasi tergantung kepada desain pesan atau informasi dan cara penyampaiannya. Menurut konsep ini pengirim dan penerima pesan tidak menjadi komponen yang menentukan.
  2. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang kepada orang lain. Pengirim pesan atau komunikator memiliki peran yang paling menentukan dalam keberhasilan komumikasi, sedangkan komunikan atau penerima pesan hanya sebagai objek yang pasif.
  3. Komunikasi diartikan sebagai proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide yang disampaikan. Pemahaman ini menempatkan tiga komponen yaitu pengirim, pesan, dan penerima pesan pada posisi yang seimbang. Proses ini menuntut adanya proses encoding oleh pengirim dan decoding oleh penerima, sehingga informasi dapat bermakna.

2.   Tujuan Komunikasi

  1. Untuk mempelajari secara lebih baik dunia luar,seperti berbagai objek, peristiwa dan orang lain. Meskipun informasi tentang dunia luar itukita kenal umumnya melalui mass-media, tetapi hal itu pada akhirnya seringkali didiskusikan, dipelajari,  diinternalisasi  melalui  komunikasi  dalam pembelajaran.  Nilai-nilai,  sistem  kepercayaan,  dan  sikap-sikap nampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh pertemuan interpersonal dari pada dipengaruhi mediab ahkan sekolah.

  2. Untuk memelihara hubungan dan mengembangkan kedekatan atau keakraban. Melalui komunikasi kita berkeinginan untuk menjalin rasa cinta dan kasih sayang. Disamping cara demikian mengurangi rasa kesepian atau rasa depresi, komunikasi bertujuan membagi dan meningkatkan rasa bahagia yang pada akhirnya mengembangkan perasaan positif tentang diri kita sendir Kita diajari tidak boleh iri, dengki, dendam, saling fitnah dan saling bunuh; kita semua akan mati dan dikuburkan orang lain.

  3. Melalui komunikasi, seorang pendidik mencoba mencapai tujuan pembelajaran dengan cara berinteraksi dengan peserta didik; membagi informasi atau gagasan, melakukan tukar pengalaman, mendorong dan saling membentuk sikap- sikapdan kebiasaan-kebiasaan baru yang efektif berdasarkan persepsi yang diperoleh selama pembelajaran.

three.   Jenis-jenis Komunikasi

Komunikasi intrapersonal
Komunikasi didalam diri individu yang berfungsi agar adanya kreativitas imajinasi, suatu pemahaman untuk bisa mengendalikan diri, dan adanya kedewasaan untuk bisa mengambil keputusan sesuai dengan kapasitasnya

Komunikasi interpersonal
Komunikasi yang terjadi antara dua orang dengan ciri adanya kontak secara langsung dan adanya percakapan

Komunikasi kelompok
Komunikasi ini terdiri atas interaksi tatap muka dengan tujuan untuk saling berbagi informasi atau menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam hal ini, setiap anggota dapat saling mengetahui karakteristik pribadi anggotanya

Komunikasi masa
Komunikasi ini ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada orang banyak dengan harapan orang lain akan mengikuti pesan yang disampaikan


4.    Bentuk Komunikasi berdasarkan adanya media atau tidak

Komunikasi langsung
Komunikasi langsung adalah komunikasi yang dilakukan secara face to face (tatap muka). Selain itu juga, komunikasi langsung dapat dilakukan dengan cara melakukannya melalui telepon. Jadi dapat dikatakan bahwa komunikasi langsung merupakan salah satu cara berinteraksi antara seseorang dengan orang lain secara langsung

Komunikasi tidak langsung
Komunikasi tidak langsung adalah komunikasi yang dilakukan biasanya melalui perantara, biasanya pengirim pesan menyampaikan pesannya melalui surat atau fax.

5.    Model Proses Komunikasi

Secara sederhana komunikasi dapat dipahami sebagai suatu  proses atau aliran mengenai suatu pesan atau informasi bergerakdari suatu sumber(komunikator) hingga penerima  (komunikan) dan berlangsung dinamis.Suatu penyimpangan yang terjadi dalam komunikasi pada dasarnya merupakan hambatan. Bagan dibawah inimenggambarkan  sebuah proses komunikasi :

Tujuan sebuah proses komunikasi adalah menyampaikan suatu pesan atau informasi dari komunikator kepada penerima setepat mungkin; apapun bentuk dan cara penyampaiannya. Akan tetapi fakta dilapangan yang sering terjadi bahwa sebuah pesan atau informasi itu berubah arti (distorsi) sampai penerima. Sedangkan distorsi disebabkan karena akibat gangguan (noise) dalam proses komunikasi. Distorsi sebenarnya  tidak boleh terlalu banyak dan sering terjadi dalam sebuah komunikasi.

 Untuk meminimalisasi distorsi yang terjadi dalam sebuah proses komunikasi perlu mencermati eight komponen yaitu:

  1. Konteks(lingkungan)merupakan sesuatu yang kompleks  antara dimensi fisik,sosial-psikologis dan dimensi temporal saling mempengaruhi satu sama lain. Kita mesti memahami bahwa kenyamanan ruangan, peranan seseorang dan tafsir budaya serta hitungan waktu, merupakan contoh dari sekian banyak unsur lingkungan komunikasi.

  2. Komponen sumber-penerima menunjukkan bahwa keterlibatan pendidikdan peserta didik dalam berkomunikasi sama yaitu mereka sebagai penyampai pesan dan juga penerima.Sebagai sumber dalam berkomunikasi menunjukkan bahwa Anda mengirim pesan. Pengirim pesan berarti berbicara, menulis,memberikan isyarat tubuh atau tersenyum.Selain sebagai pengirim pesan, juga menerima pesan. Pada saat Anda berbicara dengan  orang  lain,  Anda  berusaha  untuk  memperoleh  tanggapan: dukungan,  pengertian,  simpati,  dan sebagainya;   dan   pada   saat   Anda   menyerap   isyarat-isyarat   non-verbal,   Anda   menjalankan   fungsi   penerima   dalam berkomunikasi.

  3. Encoding dan decoding ; seseorang  mengawali   proses komunikasi dengan mengemas sebuah pesan yang dituangkan kedalam gelombang suara atau kedalam selembar kertas.  Kode-kode  yang dihasilkan ini berlangsung  melalui proses pengkodean  (enkoding). Bagaimana  suatu pesan terkodifikasi,  amat tergantung pada keterampilan,sikap, pengetahuan  dan sistem sosial budaya yang mempengaruhi. Artinya, keyakinan dan nilai-nilai yang dianut memiliki peranan dalam menentukan tingkat efektivitas sumber komunikasi. Proses kodifikasi(pengkodean) dipihak sumber komunikasi hingga pesan itu terkode, pada dasarnya mengandung unsur penafsiran subjektifatas simbol-simbol yang terdiri dariperspektif sosial budaya yang bisa menimbulkan distorsi bahkan makna yang berlainan sama  sekali. Sebelum suatu pesan itu disampaikan atau diterimakan dalam berkomunikasi kita berusaha menghasilkan pesan simbol-simbol patut diterjemahkan lebih dahulu kedalam ragam kode atau simbol tertentu oleh si-penerima melalui mendengarkan atau membaca.

  4. Kompetensi Komunikasi; mengacu pada kemampuan Anda berkomunikasi secara efektif (dari SpitzbergdanCupach,1989). Kompetensi ini mencakup pengetahuan tentang peranlingkungan dalam mempengaruhi isi dan bentuk pesan komunikasi. Suatu topik pembicaraan dapat dipahami karena hal itu layak dikomunikasikan pada orang tertentu dalam lingkungan tertentu akan tetapi bisa tidak layakun tuk orang dan lingkungan yang lain.Kompetensi komunikasi juga mencakup kemampuan tentang tata cara perilaku non-verbal seperti kedekatan, sentuhan fisik,dan suara keras.

  5. Pesan dan Saluran : Pesan sebenarnya merupakan produk fisik dari proses kodifikasi. Jika seseorang itu berbicara maka pembicaraan itu adalah pesan.Jika seseorang itu menulis maka tulisan itu adalah pesan.Bila kita melakukan suatu gerakan maka gerakan itu adalah pesan.Pesan itu dipengaruhi oleh kode atau kelompok simbol yang digunakan untuk mentransfer makna atau isi dari pesan itu sendiri dan dipengaruhi oleh keputusan memilih dan menata kodedan isi tersebut. Menurut  Sendjaja(1994) mengutip pendapat  Reardon bahwa kendala utama dalam berkomunikasi seringkali  lambang atau simbol yang sama mempunyai makna yang berbeda. Kurangnya kecermatan dalam memilih kode atau mentransfer makna dan menata kode serta isi pesan dapat memunculkan sumber distorsi komunikasi.  Saluran merupakan medium; lewat mana suatu pesan itu berjalan. Saluran dipilih oleh sumberkomunikasi. Sedangkan sumber komunikasi dapat dibedakan berdasarkan jaringan otoritas dan pelaksanaan yang disebut formal dan saluran casual biasanya digunakan untuk meneruskan pesan-pesan pribadi atau pesan-pesan sosial yang menyertai pesan-pesan yang disampaikan secara formal.

  6. Umpan balik secara efektif adalah suatu cara  yang  dapat dipertimbangkan untuk  menghindari dan  mengoreksi terjadinya distorsi. Umpan balik merupakan pengecekan sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam mentransfer makna pesan antara komunikator dan komunikan.Setelah si-penerima pesan melaksanakan pengkodean kembali, maka yang bersangkutansesungguhnya telah berubah menjadi sumber. Maksudnya bahwayang bersangkutan  mempunyai tujuan tertentu, yakni untuk memberikan respon atas pesan yang diterima, dan ia harus melakukan  penkodean  sebuah pesan dan mengirimkannya  melaluisalurantertentukepada pihakyang semula bertindaksebagai pengirim. Umpanbalik menentukan apakah suatu pesan telah benar -benar dipahami atau belum dan adakah suatu perbaikan patut dilakukan.
  7. Gangguan  merupakan komponen yang mendistorsi sebuahpesan.Gangguan dapat terjadi pada kedua belah pihak baik penyampai atau penerima pesan dalam komunikasi. Gangguan ini dapat berupa fisik, psikologis dan semantik ataukebahasaan. Misalnya desingan suara mobil, pandangan atau pikiran yang sempit dan penggunaan istilah yang menimbulkan arti yang berbeda-beda, merupakan contoh dari masing-masing jenis gangguan yang dapat mendistorsi pesan yang dimaksudkan dalam komunikasi.

  8. Efek Komunikasi. Pada setiap peristiwa komunikasi selalu mempunyai konsekuensi atau dampak atas satu atau lebih yang terlibat. Dampak itu berupa perolehan pengetahuan, sikap-sikap baru atau memperoleh cara-cara gerakan baru sebagai refleksi sikomotorik.

6.    Persepsi dan Hubungan Interpersonal

Dalam setiap komunikasi yang melibatkan dua orang atau beberapa orang, akan ditemukan beragam pribadi yang harus dikenali, yaitu diri kita sendiri dan diri pihak/orang lain yang menjadi  partner komunikasi. Sedangkan untuk mengenali  orang lain bukanlah perkara mudah dan sederhana. Hal itu akan berhubungan dengan proses psikologis yaitu persepsi. Persepsi merupakan proses inside dalam diri seseorang yang memungkinkan ia memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan sehingga hal itu mempengaruhi perilaku yang bersangkutan.

Proses persepsi melibatkan penginderaan atas suatu objek yaitu melalui penglihatan, pendengaran,  penciuman,  perabaan,  dan  pengecapan; kemudian  perhatian  atas  sesuatu  objek / pesan tersebut dapat menarik perhatian; dan interpretasi.   Karena itu, persepsi merupakan inti komunikasi sedangkan penafsiran (interpretasi) merupakan inti persepsi (Mulyana,2000).

Secara  teoritik  persepsi  baik terhadap  lingkungan  fisik  ataupun terhadap  lingkungan  sosial  (termasuk lingkungan masyarakat  atau  organisasi    seperti  halnya  sekolah)  tidak  akan  akurat  dan  banyak  memiliki  keterbatasan  untuk  dijadikan perolehan pengetahuan/informasi. Dalam memahami suatu objek dan mempersepsi orang lain, kita harus membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap, yaitu informasi yang hanya diperoleh melalui kelima indera kita. Maka, ketika kita berkomunikasi, kita akan mendasarkan persepsi terhadap orang lain atas perilaku komunikasinya yang dapat kita amati.

Jendela Johariadalah salahsatu modelinovatifuntukmemahamitingkat-tingkat kesadarandan penyingkapan diri dalam komunikasi dalam pelatihan (Tubbsdan Moss; Editor:Mulyana,1996:13).Modelini menawarkan  suatu  cara  melihat  kesaling-bergantungan  hubungan  antara  intrapersonal dan  hubungan  interpersonal.  Model Jendela Johari digambarkan dalam empat kuadran yang mirip empat kaca pada sebuah jendela seperti gambar dibawah ini.

Kuadran pertama disebut kuadran terbuka.Tahap ini mencerminkan keterbukaan Anda pada dunia secara umum. Kuadran ini mencakup semua aspek diri Anda yang Anda ketahui dan diketahui oleh orang lain.Kuadran ini menjadi dasar dalam berkomunikasi antar dua orang.

Kuadran kedua adalah kuadran gelap meliputi semua hal mengenai diri Anda yang dirasakan orang lain tetapi tidak anda rasakan. Contoh Anda terlalu memonopoli percakapan tanpa Anda sadari.

Kuadran ketiga,kuadran tersembunyi. Kuadran ini menentukan kebijaksanaan. Kuadran ini dibangun oleh semua hal yang Anda lebih suka tidak membeberkannya kepada oranglain.Misalkan permasalahan perceraian orang tua Anda, gaji Anda, perasaan Anda pada sahabat sekamar.

Kuadran keempat, sering disebut kuadran tak terketahui. Kuadran gelap tidak Anda ketahui meskipun diketahui orang lain.Kuadran ini mewakili segala sesuatu tentang diri Anda yang belum pernah ditelusuri, oleh Anda atau oleh orang lain. Anda hanya dapat menduga bahwa hal ini ada, atau menyadarinya dalam retrospeksi.

Tahapan hubungan interpersonal berlangsung dalam beberapa tahap, mulai tahap interaksi awal sampai tahap  pemutusan  (dissolution). Seorang  kawan  yang  akrab  tidak  begitu  saja  terjadi  setelah  adanya  pertemuan,  untuk menumbuhkan keakraban  dilakukan secara bertahap.Terdapat lima tahapan yang dikemukakan DeVito (1986b) dimana tahapan ini dapat menjadi dasar dalam menjalin hubungan. Kelima tahap itu adalah kontak, keterlibatan, keakraban, perusakan dan pemutusan.

  • Tahap pertama kita membuat kontak, ada beberapa macam persepsi alat indra, Anda melihat, mendengar dan membaui  seseorang. Beberapa  peneliti,  dalam  tahap  ini  selama  empat  menit  pertama  (interaksi  awal),  Anda  akan memutuskan apakah ingin melanjutkan hubungan ini atau tidak.Pada tahap ini penampilan fisik begitu penting, karena dimensi fisik begitu terbuka untuk diamati secara mudah. Namun demikian, kualitas-kualitas lain, seperti bersahabat, kehangatan, keterbukaan,dan dinamisme juga terungkap dalam tahap ini.Jika Anda menyukai orang tersebut maka akan berlanjut ketahap kedua.
  • Pada tahap ini Anda mengikat diri Anda lebih jauh. Anda mengikatkan diri untuk lebih mengenal orang lain. Anda mungkin membina hubungan primer, sehingga orang lain itu menjadi sahabat baik atau kekasih Anda. Komitmen ini dapat menjadi berbagai bentuk, perkawinan, membantu orang itu atau mengungkapkan rahasia besar Anda. Tahap ini hanya disediakan untuk sedikit orang paling banyak empat orang, karena jarang sekali orang memiliki lebih dari empat orang sahabat.
  • Dalam tahap berikutnya merupakan penurunan hubungan, ketika ikatan diantara kedua pihak melemah. Pada tahap perusakan, Anda mulai merasa bahwa hubungan ini mungkin tidaklah seperti yang Anda pikirkan sebelumnya. Anda berdua menjadi semakin jauh, makin sedikit waktu senggang yang Anda lalui bersama dan apabila Anda berdua bertemu Anda saling berdiam diri tidak lagi banyak mengungkapkan diri. Jika tahap perusakan ini berlanjut Anda memasuki tahap pemutusan.
  • Tahap pemutusan adalah pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua pihak.Jika bentuk ikatan itu adalah perkawinan pemutusan hubungan dilambangkan dengan perceraian, walaupun pemutusan hubungan aktual dapat berupa hidup terpisah.Dalam bentuk materi inilah tahap ketika harta kekayaan dibagi dan pasangan suami istri saling berebut hak pemeliharaan anak.

7.   Mendengarkan dan Berbicara

Mendengarkan dan berbicara merupakan hal yang utama dalam berkomunikasi secara interpersonal. Pendengar aktif adalah mendengar untuk mengerti apa yang dikatakan dibalik pesan itu. Apabila terjadi kekurangan dalam proses mendengarkan maka yang terjadi adalah ketidak-mengertian bahasa yang digunakan dalam menerjemahkan pesan yang disampaikan, kurangnya waktu untuk menerjemahkan pesan dalam bentuk kata-kata, atau mengabaikan isyarat nonverbal yang mengiringi pesan verbal.

Seseorang yang mendengarkan dengan aktif harus dapat mengetahui juga pesan yang diterima secara keseluruhan  dan dari sudut pandang yang berbeda dari apa yang dikatakan seseorang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendengarkan secara aktif, yaitu:

  • Mendengarkan dengan menangkap ungkapan nonverbal sebaik isyarat verba Pada saat mendengarkan dengan aktif, penerima  akan  mendapat  umpan  balik  dengan  menguraikan  sendiri  kata-kata  tentang pesan  yang disampaikan oleh sumber.
  • Penerima pesan mengecek kembali (notion check) yaitu apa yang terkandung dalam sebuah pesan yang diterimanya untuk mengerti pesan apa yang sesungguhnya.
  • Gambaran  perilaku  (habits  descriptions)  ini  merupakan  gambaran  individu  yang  sangat  spesifik.  Kegiatan pengamatan kepada orang lain tanpa membuat keputusan atau mengeneralisasi tentang  apa latar belakang dan sifat-sifatnya.

Teknik mendengarkan efektif  dapat membantu para komunikator mempunyai informasi yang akurat. Pastikan bahwa kualitas informasi yang baik tidak hanya merupakan tantangan dalam mendengarkan. Keduanya baik pengirim maupun penerima harus  memastikan  bahwa  mereka mempunyai  kualitas  ketepatan  dari  informasi  yang  benar.  Brownell  menyatakan  bahwa efektivitas mendengarkan dapat dimengerti melalui indikator perilaku: seseorang merasa berhubungan dengan mendengarkan secara efektif dalam enam unsur yang dikenal HURIERModel (Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting, Evaluating, and Responding).

 


eight.    KetrampilanBerbicara

Ketrampilan  verbal  dalam  berbicara  merupakan  kemampuan  mengekspresikan  bahan  pembicaraan  dalam bahasa kata-kata.Tidak ada aturan yang mengikat atau standar dalam penggunaannya, baik menyangkut panjang kata-kata maupun rincian uraian yang akan disampaikan. Semuanya tergantung pada unsur tingkat pengalaman, panjang pembicaraan, materi pembicaraan,serta waktu yang tersedia.

Dalam berbicara tidak baik mengunakan kata-kata jargon yaitu kata-kata yang dibuat dan digunakan  untuk kalangan tertentu saja dimana orang lain tidak mengerti. Untuk menghindari kata-kata jargon dalam komunikasi disarankan untuk mengunakan kata-kata yang pendek, sederhana, dan langsung pada sasaran. Sedangkan teknik yang dapat digunakan dalam meningkatkan effektifitas penampilan berbicara verbal adalah sebagai berikut:

  1. Percaya diri: adalah keyakinan  pada kemampuan dan penilaian diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif.  Hal ini termasuk kepercayaan atas kemampuannya menghadapi lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas  pendapatnya.
  2. Ucapkan  kata-kata  dengan  jelas  dan  perlahan-lahan,  berikan  penekanan dan pengulangan untuk  hal-hal yang dianggap penting.
  3. Berbicaralah  dengan  wajar sebagaimana biasanya,   jangan  terkesan  seperti  penyair  atau  sedang berdeklarasi
  4. Hindari suara monoton, gunakan tekanan dan irama tertentu untuk menampilkan poin-poin tertentu seperti marah dengan nadatinggi, sedih dengan suara memelas, tetapi hindarkan kesan seperti pemain drama.
  5. Menarik napas dalam-dalam,dua sampai dua kali untuk mengurangi  ketegangan. Atur napas secara normal jangan terkesan seperti yang sedang dikejar-kejar.
  6. Hindari sindro mem, ah, anu, apa dan sebagainya.Jika terpojok dan kehabisan bicara.
  7. Membaca paragraf yang dianggap penting dari teks tulisan.Jangan merasa malu dengan hal ini karena pendengar akan berfikir bahwa kita akan menekankan poin pembicaraan.
  8. Siapkan air minum (terutama mereka yang sering kali kehabisan napas jika berbicara).

9.    Pengertian Komunikasi Nonverbal dan Bahasa Tubuh

Dalam daftar istilah Cultural and Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Komprehensif dinyatakan, komunikasi nonverbal adalah ”semua eksprsi eksternal selain kata-kata terucap atau tertulis (spoken and written word), termasuk gerak tubuh, karakteristik penampilan, karakteristik suara, dan penggunaan ruang dan jarak (Fiske, 2004;281). Sedangkan Harris (1990:7) menyebutkan komunikasi nonverbal diacukan pada bahasa tubuh, seperti gerak-gerik tubuh. Pengertian yang lebih ringkas diberikan Jandt (1998:97) yang menyebut komunikasi nonverbal sebagai ”pesan yang disampaikan tanpa menggunakan kata-kata”.

Secara sederhana bahasa tubuh dapat diartikan, ”penyampaian pesan nonlisan yang menggunakan kemampuan seluruh anggota badan untuk menyampaikan pesan”, seperti menggunakan gerak tubuh, mimik wajah, isyarat tangan dan jarak tubuh. Pease (1987) menyebut bahasa tubuh itu mencakup mulai dari isyarat tangan, isyarat mata, posisi tubuh hingga jarak yang dibangun antara dua orang yang berbicara.

Fungsi Komunikasi Nonverbal

Jandt (1998:100-one hundred and one) menyebutkan beberapa fungsi komunikasi nonverbal dalam komunikasi manusia, yaitu sebagai berikut. Menggantikan pesan lisan, yang biasanya dilakukan bila situasi tak memungkinkan untuk menyampaikan pesan lisan.

  • Menyampaikan pesan-pesan yang enak disampaikan secara lisan, penyampaian dengan menggunakan isyarat tanpa merasa menyinggung perasaan atau mempermalukan.
  • Membentuk kesan yang mengarahkan komunikasi, ada saatnya kita mengelola kesan orang lain terhadap diri kita melalui pesan nonverbal.
  • Memperjelas relasi, mengingat pesan komunikasi itu mengandung isi dan informasi tentang relasi.
  • Mengatur interaksi, ini terjadi, misalnya manakala kita terlibat dalam percakapan antar pribadi.
  • Memperkuat dan memodifikasi pesan-pesan verbal, isyarat-isyarat nonverbal dapat menjadi mata pesan yang mempengaruhi penyandibalikan (decoding) pesan.
  • Sedangkan Wood (1994:152-100 and fifty five) menyebut ada 3 (tiga) fungsi komunikasi nonverbal, yaitu:
  • komunikasi nonverbal melengkapi komunikasi verbal;
  • komunikasi nonverbal mengatur interaksi;
  • komunikasi nonverbal membangun relasi tingkatan makna, yang pada dasarnya terdiri dari tiga dimensi-dimensi primer relasi tingkat makna, yaitu responsivitas, menunjukan suka-tidak suka, dan kekuasaan atau kontrol.

Jenis-Jenis Komunikasi Nonverbal

Jandt (1998:104-116) mencatat ada (9) sembilan jenis komunikasi nonverbal, yaitu sebagai berikut:

  • Proxemics (Kedekatan), Istilah ini berasal dari Edward Hall yang mengambilnya dari kata Proximity (kedekatan) untuk menunjukan adanya ruang atau tetorial baku dan ruang personal yang kita gunakan dalam berkomunikasi.
  • Kinesics (Kinesik), Istilah ini digunakan untuk menunjukan gerak-gerik atau sikap tubuh (gestures), gerak tubuh (physique movement), ekspresi wajah, dan kontak mata.
  • Chronemics (Kronemik), Istilah ini berkaitan dengan waktu. Ada yang memandang waktu itu berjalan linier atau mengikuti garis lurus yang bergerak dari titik awal menuju titik akhir.
  • Paralanguage (Parabahasa), Istilah ini menunjuk pada unsur-unsur nonverbal sauara dalam percakapan verbal.
  • Kebisuan, Istilah ini dipandang agak membingungkan karena membisu dipandang tidak berkomunikasi. Namun sebenarnya, dalam kebisuan orang mengkomunikasikan sesuatu.
  • Haptics, Istilah ini berkaitan dengan penggunaan sentuhan dalam berkomunikasi.
  • Tampilan Fisik dan Busana, Istilah ini menunjukan pesan nonverbal dapat juga berupa tampilan fisik dan busana yang dikenakan.
  • Olfactics, Istilah ini berkaitan dengan penggunaan indera penciuman dalam berkomunikasi nonverbal. Bukan hanya bau wangi parfum, tetapi juga bau badan berpengaruh terhadap komunikasi.
  • Oculesics, Istilah ini menunjuk pada pesan yang disampaikan melalui mata.
  • Dengan demikian, komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan-pesan nonverbal merupakan bagian dari setiap bentuk komunikasi manusia. Tanpa ada pesan nonverbal, kita akan merasakan komunikasi berlangsung hambar dan dingin karena fungsi komunikasi nonverbal yang amat penting dalam kegiatan komunikasi.

Jenis-Jenis Komunikasi Nonverbal

Bahasa Tubuh

Bahasa tubuh pada dasarnya penyampaian pesan dengan menggunakan tubuh kita sendiri sebagai penyampai pesannya diluar mulut kita. Dalam berkomunikasi melalui bahasa tubuh, manusia menggunakan semua unsur komunikasi, kecuali ungkapan lisan. Sebagai bagian dari komunikasi nonverbal, fungsi-fungsi komunikasi nonverbal pun melekat pada fungsi bahasa tubuh.

Ekspresi Wajah

Baskin dan Aronoff (1980:104) menyebutkan sejumlah kondisi emosional yang tampak pada wajah yang sifatnya common, seperti berikut  ini:

  • Tertarik adalah  Emosi yang menunjukan senang yang mungkin terkait dengan observasi atas satu fenomena baru untuk pertama kalinya.
  • Gembira adalah  Ekspresi kesenangan atau kegembiraan, yang dekat dengan emosi positif yang sudah ada.
  • Terkejut adalah  Ekspresi yang merupakan respons awal terhadap stimulus yang tiba-tiba muncul yang melebihi ambang batas.
  • Takut adalah  Ekspresi yang terkait dengan naluri menjaga diri. Pada manusia ada tentang luas kemungkinan rasa takut mulai dari yang ancaman bahaya yang biasa-biasa saja hingga teror complete.
  • Kesedihan adalah  Ekspresi kekecewaan terhadap beberapa peristiwa yang terjadi saat ini atau pada masa lalu, kekecewaan atas sesuatu yang tak bisa kita kendalikan sepenuhnya hingga hinaan atau cacian tentang diri kita yang sebenarnya bisa kita lakukan dengan lebih baik.
  • Marah adalah  Ekspresi yang bersumber sari sesuatu yang mungkin membuat sedih yang ingin kita hindari. Juga merupakan ekspresi terbuka rasa permusuhan yang membentang mulai dari ketidak senangan yang biasa-biasa saja hingga amukan.
  • Jijik adalah  Ekspresi tidak bisa menerima atau merendahkan yang sangat kuat. Pengirim pesan ini melihat dirinya jelas lebih unggul dibandingkan penerima pesan.

Mata

Kepribadian yang kuat diidentikan dengan sorot mata yang tajam. Permainan mata juga dianggap sebagai bagian penting dalam perjuangan hidup. Konon mata manusia, akan membesar atau berkonsentrasi karena sikap dan suasana hatinya berubah dari positif ke negatif (Pease, 1987:ninety three).

Anggota Badan

Baskin Aronoff (1980:106) memyebutkan beberapa fungsi gerakan anggota tubuh dalam komunikasi. Fungsi tersebut adalah (a) mengilustrasikan apa yang kita komunikasikan, (b) menekankan pada apa yang kita komunikasikan, (c) menata interaksi dalam komunikasi, (d) menunjukan emosi, khususnya tingkat emosi, dan (e) menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan kebutuhan emosional. Bahasa tubuh merupakan bagian sangat penting dalam komunikasi manusia. Bahasa tubuh, sebagai bagian komunikasi nonverbal, juga menyampaikan pesan-pesannya sendiri. Kita bahkan bisa memahami maksud komunikasi seseorang melalui bahasa tubuhnya. Bahkan kita pun bisa memperoleh ”bocoran”mengenai kondisi emosi lawan komunikasi kita melalui bahasa tubuhnya. Hal lain yang penting dari bahasa tubuh dalam komunikasi adalah membantu efektivitas komunikasi kita. Pesan verbal diperkuat dengan pesan nonverbal atau bahasa tubuh atau pesan nonverbal  dapat menggantikan pesan verbal. Pesan verbal tersebut dapat dilakukan baik karena situasinya seperti ditengah keramaian atau pun karena memang isi pesannya seperti pesan yang bernada kritik terhadap orang yang dekat dengan kita.

Dengan demikian, dalam komunikasi antarpribadi, bahasa tubuh memainkan peran penting. Penggunaan zona dalam komunikasi antarpribadi merupakan salah satu aspek penting bahasa tubuh. Kita akan membawa lawan komunikasi kita pada zona intim untuk menunjukan keakraban sehingga suasana komunikasi antarpribadi bisa terbangun. Kita pun menggunakan bahasa tubuh lainnya, seperti tatapan mata dan sentuhan. Ini menunjukan bahasa tubuh sangat penting dalam komunikasi antarpribadi karena bukan hanya membantu menyampaikan pesan tetapi juga menunjukan sikap kita terhadap lawan komunikasi


B. Strategi  meningkatkan Komunikasi

Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan atau planning dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.

Demikian pula dengan strategi komunikasi yang merupakan perpaduan antara perencanaan komunikasi dengan menajemen komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan bagaimana operasional praktis yang harus dilakukan, dalam arti bahwa pendekatan bisa berbeda-beda sewaktu-waktu tergantung pada situasi dan kondisi.

 Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan komunikasi yaitu;

1.   Mengenali sasaran komunikasi

Sebelum melakukan komunikasi  seseorang  perlu mengetahui dan memahami  siapa saja yang akan menjadi sasaran komunikasi tersebut. Sudah tentu ini tergantung pada tujuan komunikasi, apakah agar komunikan hanya sekedar mengetahui ataukah agar komunikan melakukan tindakan tertentu. Apapun tujuan, metode, dan banyaknya sasaran, pada diri komunikan perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

Kerangka referensi

Kerangka referensi seseorang terbentuk dalam dirinya sebagai hasil dari perpaduan  pengalaman, pendidikan, cita-cita, gaya hidup, norma hidup, standing sosial, ideologi, dan lain-lain.

Situasi dan kondisi

Faktor situasi  ini terjadi pada saat komunikan akan menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator. Situasi yang bisa menghambat komunikasi harus bisa diantisipasi sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud kondisi adalah keadaan fisik dan psikis komunikan pada saat ia sedang menyampaikan atau   menerima pesan komunikasi. Komunikasi kita tidak akan efektif jika komunikan sedang marah, sedih, bingung, sakit, atau lapar.

2.   Pemilihan media komunikasi

Ada berbagai macam  media komunikasi yang jumblahnya banyak, mulai dari yang tradisional sampai dengan  trendy. Untuk mencapai sasaran komunikasi  kita bisa memilih salah satu atau menggabungkan beberapa media  tergantung dari tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan dipergunakan. Peran media sangatlah penting untuk membantu proses komunikasi tersebut dan  masing-masing media memiliki  kelebihan atau keunggulan dan kekurangan.

three. Pengkajian tujuan pesan

Penentuan tujuan berkomunikasi sangat penting bagi komunikator dalam berkomunikasi  karena akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan teknik yang akan diambil.

4. Peranan komunikator dalam komunikasi

Ada beberapa faktor  esensi yang harus diperhatikan oleh  komunikator melakukan komunikasi yaitu;

Daya tarik sumber

Seorang komunikator akan berhasil dalam komunikasi jika mampu mengubah sikap, opini, dan perilaku komunikan melalui mekanisme daya tarik, yakni ketika pihak komunikan merasa bahwa komunikator ikut serta dengannya. Dengan kata lain, komunikan merasa memiliki kesamaan dengan komunikator sehingga komunikan bersedia taat pada isi pesan yang disampaikan komunikator.

Kredibilitas sumber

 Faktor kedua yang bisa menyebabkan komunikasi berhasil adalah kepercayaan komunikan pada komunikator. Kepercayaan ini banyak bersangkutan dengan profesi keahlian yang dimiliki seorang komunikator.

 Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran banyak ditentukan oleh keaktifan antara pendidik dan peserta didik dalam bentuk timbal balik berupa pertanyaan, jawaban pertanyaan atau berupa perbuatan baik secara fisik maupun secara psychological. Adanya umpan balik ini memungkinkan pembelajar mengadakan perbaikan-perbaikan cara komunikasi yang pernah dilakukan. Keefektifan komunikasi dapat mengambarkan kemampuan orang dalam menciptakan suatu pesan dengan tepat, yaitu pengirim pesan dapat mengetahui bahwa penerima pesan mampu menginterprestasikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si pengirim.

Selain itu keefektifan pembelajaran sangat ditentukan oleh adanya perhatian dan minat pebelajar. Ini sesuai dengan model “AIDA singkatan dari Attention (perhatian ), Interest (minat), Desire (hasrat), dan Action (kegiatan)” . Maksudnya agar terjadi kegiatan pada diri pebelajar sebagai komunikan, maka terlebih dahulu harus dibangkitkan perhatian dan minatnya kemudian dilanjutkan dengan penyajian bahan. Dengan demikian timbul hasratnya untuk melaksanakan kegiatan, sehingga walaupun persepsinya tidak terlalu sama dalam menerima pesan tetapi perbedaannya tidak terlalu banyak. Karena secara psikologis setiap orang akan menanggapi dan memberi makna yang berbeda-beda sesuai dengan karakternya masing-masing.

Komunikasi yang jelas dalam sebuah pembelajaran adalah salah satu syarat bahwa pembelajaran berlangsung efektif. Jadi bila kita ingin menjadi guru yang efektif, marilah kita bersama-sama memperbaiki kemampuan kita berkomunikasi kepada peserta didik dalam setiap pembelajaran.

 Ada beberapa komponen dalam komunikasi pembelajaran yang efektif, yaitu:

  • Penggunaan terminologi yang tepat
  • Presentasi yang berkesinambungan dan sistematis
  • Sinyal transisi atau perpindahan topik bahasan
  • Tekanan pada bagian-bagian penting pembelajaran
  • Kesesuaian antara tingkah laku komunikasi verbal dengan tingkah laku komunikasi nonverbal.

 Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi yang efektif:

 1) Respect adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Jika kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan seseorang. Pahami bahwa seorang pendidik harus bisa menghargai setiap peserta didik yang dihadapinya. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam  berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektivitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai tim.

 Menurut Dale Carnegie dalam bukunya “How to Win Friends and Influence People”, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang psikolog yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa “Prinsip paling dalam dari sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai”. Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan.

 Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati akan menggenggam orang dalam telapak tangannya. Charles Schwaab, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuan dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk  membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal–hal terbaik adalah dengan memberikan penghargaan yang tulus.

 Berikan sebuah penghargaan yang tulus kepada masing–masing peserta didik. Sehingga peserta didik dapat membedakan antara perlakuan yang tulus dan tidak tulus. Ketika memberikan penghargaan maka Anda sebagai seorang pendidik akan dihargai oleh peserta didik. 

 2)  Emphaty, kemampuan menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi orang lain. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi didunia pendidikan. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan, perilaku, dan keinginan dari peserta didik. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun sebuah suasana kondusif di dalam proses belajar-mengajar. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologi atau penolakan dari penerima.

 three)  Audible  berarti “dapat didengarkan” atau bisa dimengerti dengan baik.  Sebuah pesan harus dapat disampaikan dengan cara atau sikap yang bisa diterima oleh si penerima pesan.  Raut muka yang cerah, bahasa tubuh yang baik, kata-kata yang sopan, atau cara menunjuk, termasuk ke dalam komunikasi audible.

 four) Clarity adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi.

Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme peserta didik dalam proses belajar-mengajar.

Perjelas maksud Anda dalam mengajar sesuatu, sampaikan secara sistematis dan teratur, gunakan alat bantu peraga jika memang diperlukan. Semakin peserta didik merasakan mendapat banyak ilmu dari Anda, maka peserta didik akan semakin terpacu untuk terus menghadiri dan memperhatikan pelajaran yang Anda sampaikan.

 Dengan cara seperti ini peserta didik tidak akan menganggap lagi proses belajar-mengajar sebagai formalitas tetapi akan mengganggapnya sebagai sebuah kebutuhan pokok bagi kehidupannya.

 5) Humble atau rendah hati adalah menghargai orang lain, mau mendengar, menerima kritik, tidak sombong, dan tidak memandang rendah orang lain.

Seperti yang disampaikan Wilbur Schramm, “the condition of success in communication”, yakni kondisi yang harus dipenuhi jikakita menginginkan agar suatu pesan yang membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki dengan memperhatikan:

  • Pesan harus dirancang dan disampaikan dengan menarik.
  • Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman antara komunikator dan komunikan, sehingga dimengerti.
  • Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan.
  • Pesan  harus  menyarankan  suatu  jalan  untuk  memperoleh  kebutuhan komunikan.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana  bisa menarik  perhatian komunikan. Dengan  mendapatkan perhatian komunikan  maka kita juga akan membuat komunikan tertarik untuk mengetahui isi pesan yang disampaikan. Penyajian pesan agar menarik, jelas pada awalnya, tergantung pada packaging pesan sesuai dengan media yang akan digunakan.

Saat  menggunakan  media  cetak  misalnya,  pesan  yang  disampaikan haruslah  disajikan  dengan  menarik.  Baik  dari  segi content material materials,  maupun  tampilan secara keseluruhan. Bisa diakali dengan pemilihan font (jenis huruf), warna ataupun desain grafis secara keseluruhan.  Isi sesuai dengan konsep komunikasi yang dinamakan AIDDA, dikembangkan sekitar dasawarsa 1920-an. AIDDA merupakan singkatan dari Attention   (Perhatian)   Interest   (Minat)   Decision   (Keputusan)   dan   Action (Kegiatan).

Untuk menjadikan sebuah komunikasi akan menjadi lebih effektif maka perlu memperhatikan beberapa hal;

  1. Berikan kesan bahwa anda antusias berbicara dengan mereka. Ketika anda memberikan kesan bahwa anda sangat antusias berbicara dengan mereka dan bahwa anda peduli kepada mereka, anda membuat perasaan mereka lebih positif dan percaya diri. Mereka akan lebih terbuka kepada anda dan sangat mungkin memiliki percakapan yang mendalam dengan anda.
  2. Ajukan pertanyaan tentang minat mereka – jenis  pertanyaan terbuka akan membuat mereka berbicara tentang minat dan kehidupan mereka. Galilah sedetail mungkin sehingga akan membantu mereka memperoleh perspektif baru tentang diri mereka sendiri dan tujuan hidup mereka.
  3. Beradaptasi dengan bahasa tubuh dan perasaan mereka – Rasakan bagaimana perasaan mereka pada saat ini dengan mengamati bahasa tubuh dan nada suara. Dari sudut pandang ini, anda dapat menyesuaikan kata-kata, bahasa tubuh, dan nada suara anda sehingga mereka akan merespon lebih positif.
  4. Tunjukkan rasa persetujuan: Katakan kepada mereka apa yang anda kagumi tentang mereka dan mengapa – Salah satu cara terbaik untuk segera berhubungan dengan orang adalah dengan menjadi jujur dan memberitahu mereka mengapa anda menyukai atau mengagumi mereka. Jika menyatakan secara langsung dirasakan kurang tepat, cobalah dengan pernyataan tidak langsung. Kedua pendekatan tersebut bisa sama-sama efektif.
  5. Dengarkan dengan penuh perhatian semua yang mereka katakan – Jangan terlalu berfokus pada apa yang akan Anda katakan selanjutnya selagi mereka berbicara. Sebaliknya, dengarkan setiap kata yang mereka katakan dan responlah serelevan mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa anda benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan dan anda sepenuhnya terlibat di dalam suasana bersama dengan mereka. Juga pastikan untuk bertanya setiap kali ada sesuatu yang tidak mengerti pada hal-hal yang mereka katakan. Anda tentu saja ingin menghindari semua penyimpangan yang mungkin terjadi dalam komunikasi jika anda ingin mengembangkan hubungan yang sepenuhnya dengan orang tersebut.
  6. Beri mereka kontak mata yang lama – kontak mata yang kuat mengkomunikasikan kepada orang lain bahwa anda tidak hanya terpikat oleh mereka dan apa yang mereka katakan tetapi juga menunjukkan bahwa anda dapat dipercaya. Ketika dilakukan dengan tidak berlebihan, mereka juga akan menganggap anda yakin pada diri anda sendiri karena kesediaan anda untuk bertemu mereka secara langsung. Akibatnya, orang secara alami akan lebih memperhatikan anda dan apa yang anda katakan.
  7. Ungkapkan diri anda sebanyak mungkin – Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan kepercayaan seseorang adalah dengan mengungkapkan diri secara terbuka. Bercerita tentang kejadian yang menarik dari hidup anda atau hanya menggambarkan contoh lucu dari kehidupan normal sehari-hari. Ketika anda bercerita tentang diri anda, pastikan untuk tidak menyebutkan hal-hal yang menyimpang terlalu jauh dari minat mereka atau bahkan berlebihan. Anda dapat membiarkan mereka mengetahui lebih jauh tentang diri anda seiring berjalannya waktu.
  8. Berikan kesan bahwa anda berdua berada di tim yang sama – Gunakan kata-kata seperti “kami, kita ” untuk segera membangun sebuah ikatan. Bila anda menggunakan kata-kata tersebut, anda membuatnya tampak seperti anda dan mereka berada di tim yang sama, sementara orang lain berada di tim yang berbeda.
  9. Berikan mereka senyuman terbaik anda – Ketika anda tersenyum pada orang, anda menyampaikan pesan bahwa anda menyukai mereka dan kehadiran mereka membawa anda kebahagiaan. Tersenyum pada mereka akan menyebabkan mereka sadar ingin tersenyum kembali pada anda yang secara langsung akan membangun hubungan antara anda berdua.
  10. Menawarkan saran yang bermanfaat – Kenalkan tempat makan yang pernah anda kunjungi, movie yang anda tonton, orang-orang baik yang mereka ingin temui, buku yang anda baca, peluang karir atau apa pun yang terpikirkan oleh anda. Jelaskan apa yang menarik dari orang-orang, tempat atau hal-hal tersebut. Jika anda memberi ide yang cukup menarik perhatian mereka, mereka akan mencari anda ketika mereka memerlukan seseorang untuk membantu membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
  11. Beri mereka motivasi – Jika orang yang anda hadapi lebih muda atau dalam posisi yang lebih sulit dari anda, mereka mungkin ingin mendengar beberapa kata motivasi dari anda karena anda lebih berpengalaman atau anda tampaknya menjalani kehidupan dengan baik . Jika anda ingin memiliki hubungan yang sehat dengan orang tersebut, anda tentu saja tidak ingin tampak seperti anda memiliki semuanya sementara mereka tidak. Yakinkan mereka bahwa mereka dapat melampaui masalah dan keterbatasan mereka, sehingga mereka akan berharap menjadikan anda sebagai teman yang enak untuk diajak bicara.
  12. Tampil dengan tingkat energi yang sedikit lebih tinggi dibanding orang lain – Umumnya, orang ingin berada di sekitar orang-orang yang akan mengangkat mereka, bukannya membawa mereka ke bawah. Jika anda secara konsisten memiliki tingkat energi yang lebih rendah daripada orang lain, mereka secara alami akan menjauh dari Anda menuju seseorang yang lebih energik. Untuk mencegah hal ini terjadi, secara konsisten tunjukkan dengan suara dan bahasa tubuh anda bahwa anda memiliki tingkat energi yang sedikit lebih tinggi sehingga mereka akan merasa lebih bersemangat dan positif berada di sekitar Anda. Namun jangan juga anda terlalu berlebihan berenergik sehingga menyebabkan orang-orang tampak seperti tidak berdaya. Energi dan gairah yang tepat akan membangun antusiasme mereka.
  13. Sebut nama mereka dengan cara yang menyenangkan telinga mereka – nama seseorang adalah salah satu kata yang memiliki emosional yang sangat kuat bagi mereka. Tapi hal itu belum tentu seberapa sering anda katakan nama seseorang, namun lebih pada bagaimana anda mengatakannya. Hal ini dapat terbantu dengan cara anda berlatih mengatakan nama seseorang untuk satu atau dua menit sampai anda merasakan adanya emosional yang kuat. Ketika anda menyebutkan nama mereka lebih menyentuh dibanding orang lain yang mereka kenal, mereka akan menemukan bahwa anda lah yang paling berkesan.
  14. Tawarkan untuk menjalani hubungan selangkah lebih maju – Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk memajukan persahabatan anda dengan seseorang: tawaran untuk makan dengan mereka, berbicara sambil minum kopi, melihat pertandingan olahraga, dll. Meskipun jika orang tersebut tidak menerima tawaran anda, mereka akan tetap tersanjung bahwa anda ingin mereka menjalani persahabatan ke tingkat yang lebih dalam. Di satu sisi, mereka akan memandang anda karena anda memiliki keberanian untuk membangun persahabatan bukan mengharapkan persahabatan yang instan.

C.   Melaksanakan Komunikasi dalam Pembelajaran

(Melaksanakan komunikasi efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi kegiatan/permainan yang mendidik)

Proses Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses, bukan sesuatu yang bersifat statis. Komunikasi memerlukan tempat, dinamis, menghasilkan perubahan dalam usaha mencapai hasil, melibatkan interaksi bersama, serta melibatkan suatu kelompok.

Pengirim pesan melakukan encode, yaitu memformulasikan pesan yang akan disampaikannya dalam bentuk code yang sedapat mungkin dapat ditafsirkan oleh penerima pesan. Penerima pesan kemudian menafsirkan atau males-decode code yang disampaikan oleh pengirim pesan. Jika dilihat dari prosesnya, komunikasi dibedakan atas komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan. Sedangkan komunikasi nonoverbal adalah komunikasi yang menggunakan isyarat, gerak gerik, gambar, lambing, mimik muka, dan sejenisnya.

Menurut Endang Lestari G dalam bukunya yang berjudul “Komunikasi yang Efektif” ada dua model proses komunikasi, yaitu :

Model ini mempunyai ciri sebuah proses yang hanya terdiri dari dua garis lurus, dimana proses komunikasi berawal dari komunikator dan berakhir pada komunikan. Berkaitan dengan mannequin ini ada yang dinamakan Formula Laswell. Formula ini merupakan cara untuk menggambarkan sebuah tindakan komunikasi dengan menjawab pertanyaan: who, says what, in wich channel, to whom, dan with what impact.

Model ini ditandai dengan adanya unsur umpan balik (suggestions). Pada hakekatnya mannequin sirkuler ini merupakan proses komunikasi yang berlangsung dua arah. Melalui mannequin ini dapat diketahui efektif dan tidaknya suatu komunikasi, karena komunikasi dikatakan efektif apabila terjadi umpan balik dari pihak penerima pesan.

Proses komunikasi dapat berlangsung satu arah dan dua arah. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang terjadi adanya arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Dalam proses komunikasi yang baik akan terjadi tahapan pemaknaan terhadap pesan (which means) yang akan disampaikan oleh komunikator, kemudian komunikator melakukan proses encoding, yaitu interpretasi atau mempersepsikan makna dari pesan tadi, dan selanjutnya dikirim kepada komunikan melalui channel yang dipilih. Pihak komunikan menerima informasi dari pengirim dengan melakukan proses decoding, yaitu menginterpretasi pesan yang diterima, dan kemudian memahaminya sesuai dengan maksud komunikator. Sinkronisasi pemahaman antara komunikan dengan komunikator akan menimbulkan respon yang disebut dengan umpan balik.

Desain Pesan dalam Pembelajaran

Pembelajaran merupakan sebuah proses komunikasi yang dilakukan secara sengaja dan terencana, karena memiliki tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Agar pesan pembelajaran yang ingin ditransformasikan dapat sampai dengan baik, maka  perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut; Malcolm sebagaimana disampaikan oleh Abdul Gaffur dalam handout kuliah Teknologi Pendidikan PPs UNY (2006) menyarankan agar pendidik perlu mendesain pesan pembelajaran tersebut dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

Kesiapan disini mencakup kesiapan psychological dan fisik. Untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam menerima belajar dapat dilakukan dengan tes diagnostik atau tes prasyarat. Ada dua jenis motivasi yaitu inside dan eksternal, yang dapat ditumbuhkan dengan pemberian penghargaan, hukuman, serta deskripsi mengenai keuntungan dan kerugian dari pembelajaran yang akan dilakukan.

Pada dasarnya perhatian manusia adalah sangat flrksibel dan cenderung sering berubah-ubah. Sehingga dalam mendesain pesan belajar, pendidik harus pandai-pandai membuat daya tarik  guna mengendalikan perhatian peserta didik pada saat belajar.  Sedangkan penarik perhatian dapat dilakukan melalui: warna, efek musik, pergerakan/perubahan, humor, kejutan, ilustrasi verbal dan seen, serta sesuatu yang aneh.

  •     Partisipasi Aktif Peserta didik

Pendidik  harus mampu dan berusaha untuk membuat peserta didik aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu cara untuk menumbuhkan keaktifan peserta didik dapat melakukan rangsangan-rangsangan berupa : tanya jawab, praktik dan latihan, drill, membuat ringkasan, kritik dan komentar, serta pemberian proyek (tugas).

Agar peserta didik dapat menerima dan memahami materi dengan baik, maka penyampaian materi sebaiknya dilakukan berulang kali.

Dalam proses pembelajaran sebagaimana yang terjadi pada komunikasi perlu adanya umpan balik yang tepat dan sesuai oleh pendidik. Sehingga Umpan balik tersebut dapat memotivasi dan memberikan semangat bagi peserta didik. Umpan balik yang diberikan dapat berupa : informasi kemajuan belajar peserta didik, penguatan terhadap jawaban benar, meluruskan jawaban yang keliru, memberi komentar terhadap pekerjaan peserta didik, dan dapat pula memberi umpan balik yang menyeluruh terhadap performansi peserta didik.

  •     Materi relevan degan peserta didik

Agar materi pelajaran yang diterima peserta belajar tidak menimbulkan kebingungan atau bias dalam pemahaman, maka sedapat mungkin harus dihindari materi-materi yang tidak relevan dengan topik yang dibicarakan. Dalam mendesain pesan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : materi yang disajikan hanyalah informasi yang penting, memberikan define materi, memberikan konsep-konsep kunci yang akan dipelajari, membuang informasi distraktor, dan memberikan topik diskusi.


Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran

Komunikasi yang efektif terjadi apabila terdapat aliran informasi dari dua arah antara komunikator dengan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut memahaminya. Ada 5 aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif, yaitu :

Komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi secara jelas sehingga mudah diterima dan dipahami.

Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan.

Konteks atau sering disebut dengan situasi, adalah bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan  dimana komunikasi itu terjadi.

Bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap

Komunikasi tidak hanya berhubungan dengan bahasa saja tetapi perlu memperhatikan tatakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. (Endang Lestari G : 2003)

Menurut Santoso Sastropoetro (Riyono Pratikno : 1987) berkomunkasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan, atau sering disebut dengan “the communication is in tune”. Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, harus dipenuhi beberapa syarat :

  • menciptakan suasana komunikasi yang menguntungkan
  • menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti
  • pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi pihak komunikan
  • pesan dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan
  • pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan.

Dalam sebuah proses pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang merupakan materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif dari peserta didik. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung secara casual antara dua orang individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati ke hati, karena diantara keduabelah pihak terdapat hubungan saling mempercayai. Komunikasi antar pribadi akan berlangsung efektif apabila pihak yang berkomunikasi menguasai keterampilan komunikasi antar

Dalam kegiatan belajar mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta didik. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi seorang pengajar memiliki tanggung jawab terhadap keefektipan berkomunikasi dalam proses pembelajaran. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini.

Sokolove dan Sadker seperti dikutip IGAK Wardani dalam bukunya membagi keterampilan antar pribadi dalam pembelajaran menjadi tiga kelompok, yaitu :

Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan peserta didik.

Kemampuan yang berkaitan dengan penciptaan iklim yang positif dalam proses belajar mengajar. Pendidik mampu memotivasi peserta didik untuk dapat mengungkapkan perasaan atau masalah yang dihadapinya tanpa merasa dipaksa atau dipojokkan. Iklim semacam ini dapat ditumbuhkan oleh pendidik dengan dua cara, yaitu menunjukkan sikap memperhatikan dan mendengarkan dengan aktif. Untuk menumbuhkan iklim semacam ini,

Kemampuan menjelaskan perasaan yang diungkapkan peserta didik.

Apabila peserta didik telah bebas mengungkapkan drawback yang dihadapinya, selanjutnya tugas pendidik adalah membantu mengklarifikasi ungkapan perasaan mereka tersebut. Untuk kepentingan ini, pendidik perlu menguasai dua jenis keterampilan, yaitu merefleksikan dan mengajukan pertanyaan inventori. Pertanyaan inventori adalah pertanyaan yang menyebabkan orang melacak pikiran, perasaan, dan perbuatannya sendiri, serta menilai kefektifan dari perbuatan tersebut. Pertanyaan inventori dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, pertanyaan yang menggiring peserta didik untuk mengidentifikasi pola-pola perasaan, pikiran, dan perbuatannya, dan pertanyaan yang menggiring peserta didik untuk mengidentifikasi konsekuensi/akibat dari perasaan, pikiran, dan perbuatannya.

 Agar dapat merefleksikan ungkapan perasaan peserta didik secara efektif, pengajar perlu mengingat hal-hal berikut :

  • Hindari prasangka terhadap pembicara atau topik yang dibicarakan.
  • Perhatikan dengan cermat semua pesan verbal maupun nonoverbal dari pembicara.
  • Lihat, dengar, dan rekam dalam hati, kata-kata/perilaku khas yang diperlihatkan pembicara.
  • Bedakan/simpulkan kata-kata/pesan yang bersifat emosional.
  • Beri tanggapan dengan cara memparaphrase kata-kata yang diucapkan, menggambarkan perilaku khusus yang diperlihatkan, dan tanggapan mengenai kedua hal tersebut.
  • Jaga nada suara, jangan sampai berteriak, menghakimi, atau seperti memusuhi.
  • Meminta klarifikasi terhadap pertanyaan atau pernyataan yang disampaikan.
  • Mendorong Peserta didik untuk Memilih Perilaku Alternatif.

Komunikasi dan interaksi didalam kelas dan diluar kelas sangat menentukan efektivitas dan mutu pendidikan. Pendidik mempunyai peran untuk menjelaskan sedang peserta didik yang bertanya, berbicara dan mendengarkan yang terjadi silih berganti, semuanya itu merupakan bagian dari pendidikan yang penting serta berlaku dalam kehidupan. Bertanya pun harus jelas serta menggunakan bahasa yang baik dan benar, supaya diperoleh jawaban yang baik dan benar pula. Mereka yang pandai mendengarkan sangatlah beruntung karena dapat belajar dan mendapatkan informasi lebih banyak. Peserta didik hendaknya diberi motivasi untuk bertanya tentang sesuatu yang belum jelas atau masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dengan demikian pendidik dipacu untuk senantiasa mengikuti perkembangan dan peserta didik memahami semua materi yang dibahas.

Keberhasilan pendidikan salah satu faktornya tidak lepas dari keberhasilan proses pembelajaran. Ketika proses pembelajaran didukung oleh kemampuan pendidik dalam memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi dan berkontribusi serta keterlibatan dalam pembelajaran. Jika proses pembelajaran sangat menarik maka peserta didik akan merasa senang  dan merasa perlu mengikuti proses belajar mengajar. Secara tidak langsung pendidik akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta dapat membaca pikiran atau gagasan peserta didik. Jika dalam pembelajaran terjadi komunikasi yang efektif antara pengajar dengan peserta didik, maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran tersebut berhasil.

D. Kesimpulan

Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian atau penerimaan pesan antara dua orang atau lebih.  Sedangkan pesan bentuknya berupa komunikasi lisan, komunukasi tulisan, komunikasi verbal, komunikasi non verbal. Komunikasi tulisan adalah proses penyampaian pesan dengan menggunakan kata-kata dalam bentuk tulisan yang memilki makna tertentu. Dengan kata lain bahwa komunikasi tulisan adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili komunikasi lisan termasuk kedalamnya adalah menulis dan membaca.

Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi yang disampaikan  pendidik kepada peserta didik, sehingga  peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi untukmenciptakan  perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pendidik merupakan orang yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran.

Pendidik yang menguasai beberapa strategi dan teknik komunikasi dan mampu mengembangkanya maka secara otomatis akan meningkatkan kemampuan untuk berhubungan dengan berbagai macam orang.Seorang pendidik bisa menciptakan dan mengembangkan  komunikasi yang efektif melaluipenyusunan dan pembuatan materi pembelajaran yang bisa diterima dan mudah dipahami oleh peserta didik.

Dalam komunikasi pendidikan, seorang pendidik  harus mempunyai komunikasi pribadi yang baik. Dengan demikian ia akan  berpengaruh dalam menciptakan hubungan harmonis antara pendidik dan peserta didiknya.  Seorang pendidik juga harus mempunyai peranan yang penting untuk bisa mengendalikan kondisi kelas yang sehat karena merupakan tolak ukur keberhasilan.

Bahasa tubuh merupakan bagian yang sangat penting dalam komunikasi manusia yang merupakan bagian komunikasi nonverbal. Untukdapat menyampaikan pesan-pesannya sendiri maka  harus bisa memahami maksud komunikasi seseorang melalui bahasa tubuhnya. Hal lain yang penting dari bahasa tubuh dalam komunikasi umumnya dan komunikasi antar pribadi khususnya adalah membantu efektivitas komunikasi kita.

RUJUKAN

  1. Devito,  Joseph  A.  (1996).  Human  Communication.  Alih  bahasa  oleh  Maulana,  Agus.  (1997).  Komunikasi  Antar Manusia.Jakarta:ProfessionalBooks.
  2. Devito,Joseph A.(1992).TheInterpersonalCommunicationBook.SixthEdition.NewYork:HarperCollinsPublishers.
  3. Gurnitowati, Endang Lestari; Maliki,M.A. (2001). Komunikasi Yang Efektif Bahan Ajar Diklat Prajabatan Golongan III. Jakarta:LembagaAdministrasiNegaraRepublikIndonesia.
  4. Mulyana,Deddy.(2002).Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
  5. Mulyana,Deddy.(2000).IlmuKomunikasi:Suatu Pengantar.Bandung:PT.RemajaRosdakarya.
  6. Pepper,GeraldL.(1995).CommunicatingInOrganizations:ACulturalApproach.InternationalEditions.NewYork: McGraw-Hill,Inc.
  7. Sastrodiningrat, Soebagio;dkk. (1986). Perilaku Administrasi.  Jakarta: Karunika Universitas Terbuka. Sendjaja, Djuarsa; dkk.(1994).TeoriKomunikasi,Jakarta:UniversitasTerbuka.
  8.  Soeprapto,H.R.Riyadi.(2002).InteraksiSimbolik;PerspektifSosiologiModern.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
  9.  Triguno.(2000).BudayaKerja;MenciptakanLingkunganyangKondusiveUntukMeningkatkanProduktivitasKerja.
  10.  Jakarta:PT.GoldenTerayon Press.
  11.  Tubbs,StewartL.;Moss,Sylvia;EditorMulyana,Deddy.(1996).HumanCommunication:Konteks-KonteksKomunikasi.
  12.  BukuKedua.Bandung:PT.RemajaRosdakarya.
  13.  Veeger,K.J.Redaksi: Bertens,K .dan Nugroho,A.A. (1993). Realitas Sosial; refleksi filsafat sosial atas hubungan individu-masyarakat dalam sejarah sosiologi. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.
  14.  http://grandmall10.wordpress.com/2010/10/20/peran-komunikasi-terhadap-lancarnya-proses-belajar-mengajar/ diakses pada tgl.12 Februari  2015 pkl.19.00.
  15.  http://yogoz.wordpress.com/2011/02/12/komunikasi-pembelajaran/#more, diakses pada 11 Maret  2015, pkl.20.00.
  16.  Gafur, Abdul. (2006). Handout Kuliah Landasan Teknologi Pendidikan. PPs UNY. Yogyakarta
  17.  Lestari G, Endang dan Maliki, MA. (2003). Komunikasi yang Efektif. Lembaga Administrasi Negara. Jakarta.
  18.  Wardani, IGAK. (2005). Dasar-Dasar Komunikasi dan Keterampilan Dasar Mengajar. PAU-DIKTI DIKNAS. Jakarta.

Aris Dwi Cahyono, M.Pd.
Widyaiswara Madya Progli Manajemen Pendidikan Vokasi
PPPPTK BOE Malang

Categories
Uncategorized

Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan

Komunikasi merupakan komponen penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab hanya dengan berkomunikasi, seseorang  bisa menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya kepada orang lain. Baik itu untuk menyampaikan informasi maupun untuk mendapatkan informasi dan semacamnya. Dalam bidang keperawatan, komunikasi juga mutlak diperlukan. Salah satunya komunikasi antara perawat dengan pasiennya.

Dalam bidang keperawatan,  komunikasi merupakan metoda utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan. Dalam hal ini,  perawat dituntut  untuk memiliki keterampilan berkomunikasi secara terapeutik. Kominikasi yang dijalin oleh perawat dengan pasiennya dalam proses keperawatan ini disebut dengan komunikasi terapeutik.

Komunikasi terapeutik dalam keperawatan bukan hanya sekedar komunikasi biasa, komunikasi ini dilakukan oleh perawat untuk membantu/ mendukung proses penyembuhan pasien. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini akan PakarKomunikasi jelaskan mengenai komunikasi terapeutik dalam keperawatan

Baca juga:

Pengertian Komunikasi Terapeutik

Berikut pengertian komunikasi terapeutik dalam keperawatan menurut beberapa ahli:

  • Northouse (1998): Komunikasi terapeutik adalah kemampuan perawat dalam membantu klien untuk dapat beradaptasi dengan stress yang dialaminya. Serta mengatasi gangguan psikologis, dan belajar untuk berhubungan baik dengan orang lain. (baca: Teori Semiotika Ferdinand De Saussure)
  • Stuart G.W (1998): komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara  perawat dan pasiennya. Dimana dalam hubungan ini, perawat dan klien bersama-sama belajar untuk memperbaiki pengalaman emosional klien. (baca: Sistem Pers di Indonesia)
  • Sundeen (1990): hubungan terapeutik merupakan sebuah hubungan kerjasama. Hubungan ini ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman antara perawat dan pasien untuk membina hubungan intim yang terapeutik. (Baca: Komunikasi Asertif)
  • Mahmud Machfoedz (2009): Komunikasi Terapeurik merupakan pengalaman interaktif antara perawat dan pasien ya ng didapatkan secara bersama melalui komunikasi. Komunikasi disini bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang pasien hadapi. (baca: Jurnalistik Televisi)
  • Wahyu Purwaningsih dan Ina Karlina (2010): komunikasi terapeutik berfokus pada klien dalam memenuhi kebutuhan klien, serta memiliki tujuan spesifik, dan batas waktu yang ditetapkan bersama. Merupakan hubungan timbal balik saling berbagi perasaan yang berorientasi pada masa sekarang.

Baca juga:

2. Tujuan Komunikasi Terapeutik

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, fokus komunikasi terapeutik dalam keperawatan adalah penyembuhan pasien. Berikut rincian tujuan dilakukannya komunikasi terapeutik:

  • Terjadinya perubahan dalam diri pasien dalam bentuk kesadaran diri serta penerimaan diri yang diikuti peningkatan akan penghormatan diri, sehingga pasien terhindar dari rasa stress dan depresi akibat penyakit kronis yang dideritanya. (baca: Model Komunikasi)
  • Pasien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain, sehingga memiliki kemampuan dalam membina hubungan intrapersonal yang tidak superficial serta saling bergantung.
  • Meningkatkan fungsi dan kemampuan pasien dalam mencapai tujuan dan penetapan tujuan yang realistis, sesuai dengan kemampuan pasien. Tidak terlalu tinggi (perfect) atau terlalu rendah (rendah diri).
  • Meningkatnya integritas diri pasien, dan kejelasan akan identitas dirinya. Biasanya pasien menggalami gangguan identitas personal, dan rendah diri. (baca: Jenis Metode Penelitian Kualitatif)

Baca juga:

three. Prinsip Komunikasi Terapeutik

Menurut Suryani (2005), komunikasi terapeutik dalam keperawatan mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:

A. Melihat permasalahan dari sudut pandang pasien

Untuk dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi pasien, perawat harus memandang masalah tersebu dari sudut pandang klien. Perawat hendaknya mendengarkan secara aktif dan sabar apa yang dikomunikasikan oleh pasien, sehingga perawat menyimak keseluruhan masalah dan dapat merumuskan diagnosa yang sesuai dengan masalah klien dengan baik. Karna diagnose yang salah, bukannya memperbaiki,  malah akan bisa merusak pasien.

B. Tidak mudah dipengaruhi masa lalu pasien dan masalalu perawat sendiri

Seseorang tidak akan mampu berbuat yang terbaik saat ini, jika dia masih dihantui oleh penyesalan masa lalunya. Perawat yang memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan dalam hidupnya, akan sulit untuk dapat membantu pasien, sebelum dia sendiri menyelesaikan masalah pribadinya tersebut.

C. Empati bukan simpati

dengan sikap empati, perawat akan mampu merasakan dan memikirkan masalah yang dialami pasien dari sudut pandang klien. Namun perawat tidak larut dalam masalah tersebut, sehingga dapat melihat masalah secara objektif dan dapat memberikan alternatif pemecahan masalah. (baca: Konvergensi Media)

D. Menerima apa adanya

Penerimaan yang tulus dari perawat akan membuat pasien merasa aman dan nyaman, sehingga hubungan terapeutik dapat berjalan dengan baik. Perawat hendaknya tidak memberikan penilaian atau kritik terhadap pasien, karna itu menunjukkan bahwa perawat tidak menerima pasien apa adanya. (baca: Fotografi Jurnalistik)

Prinsip Lainnya:

  • Kejujuranuntuk dapat membina hubungan saling percaya, diperlukan kejujuran. Pasien akan jujur dan terbuka hanya jika dia yakin perawat juga jujur sehingga dapat dipercaya.
  • Ekspresif, tidak membingungkan: perawat sebaiknya menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan didukung oleh komunikasi nonverbal. (baca: Teori Komunikasi Kelompok)
  • Bersikap positif: perawat hendaknya bersikap hangat, penuh pernghargaan dan perhatian yang tulus terhadap pasien. (baca: Teknik Dasar Fotografi)
  • Sensitif terhadap perasaan pasien: perawat harus mampu untuk peka akan perasaan yang dialami pasien,. Ini sangat penting agar perawat tidak melakukan pelanggaran batas, privasi, atau menyinggung perasaan pasien.

Baca juga:

four. Metode Komunikasi Terapeutik

Stuart dan Sundeen dalam buku ‘Buku Saku Keperawatan Jiwa’ (1998 ) menyebutkan metode atau teknik yang digunakan dalam komunikasi terapeutik dalam bidang keperawatan antara lain:

  • Mendengarkan dengan penuh perhatian: perawat harus menjadi pendengar yang aktif, beri kesempatan pasien untuk lebih banyak berbicara. Dengan begitu perawat dapat mengetahui perasaan pasien.
  • Menunjukkan penerimaan: menerima bukan berarti menyetujui, namun kesediaan untuk mendengarkan tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan akan apa yang dikatakan pasien.
  • Menanyakan pertanyaan yang berkaitan: ini dilakukan untuk mendapatkan informasi spesifik mengenai hal yang diampaikan pasien. (baca: Analisis Framing)
  • Mengulangi ucapan klien menggunakan kata-kata sendiri: ini dilakukan untuk mendapatkan umpan balik. Bahwa perawat mengerti pesan pasien, dan berharap komunikasi dilanjutkan kembali.
  • Mengklasifikasi: usaha perawat untuk menjelaskan kata-kata ide atau pikiran yang kurang jelas dari pasien.
  • Memfokuskan: Bahan pembicaraan dibatasi agar pembicaraan lebih spesifik.
  • Menyatakan hasil observasi: perawat menguraikan kesan yang didapatnya dari isyarat nonverbal yang dilakukan pasien. (baca: Strategi Komunikasi Pemasaran)
  • Menawarkan informasi: memberikan tambahan informasi yang bertujuan untuk memfasilitasi klien dalam mengambil keputusan. (baca: Etnografi Komunikasi)
  • Diam: dengan diam, pasien dan perawat memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Mengorganisir pikiran dan memproses informasi yang didapatkan.
  • Meringkas: pengulangan ide utama secara singkat. (baca: Teori Efek Media Massa)
  • Memberi penghargaan kepada pasien.
  • Memberi pasien kesempatan untuk memulai pembicaraan, memberi inisiatif dalam memilih topic pembicaraan. (baca: Nilai Berita)
  • Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan, dalam metoda ini perawat memberikan pasien kesempatan untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang berlangsung.
  • Menempatkan kejadian secara berurutan, untuk membantu perawat juga pasien melihatnya dalam suatu perspektif. (baca: Prospek Kerja Ilmu Komunikasi)
  • Memberikan pasien kesempatan untuk menguraikan persepsinya.
  • Refleksi: memberikan pasien kesempatan untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya. (baca: Pengertian Jurnalistik Menurut Para Ahli)

Baca juga:

5. Tahap-Tahap Komunikasi Terapeutik

Berikut tahapan komunikasi terapeutik dalam keperawatan, diantaranya:

  • Tahap Persiapan/ Pra-interaksi:

Pada tahap ini perawat mengeksplorasi perasaannya,  menganalisis  kelebihan dan kekurangan dirinya, dan mengumpulkan informasi mengenai pasiennya. Kemudian merencanakan pertemuan pertama dengan pasien. Ini dilakukan untuk mengurangi rasa cemas yang mungkin dialami perawat ketika pertamakali melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien. (baca: Paradigma Komunikasi)

  • Tahap Perkenalan/ Orientasi:

Tahap ini selalu dilakukan ketika dikalukan pertemuan dengan pasien. Tujuannya untuk memvalidasi keakuratan information dan rencana yang telah dibuat. Dalam tahap ini mperawat membina rasa saling percaya, menggali pikiran dan perasaan pasien,meindentifikasi masalah, dan merumuskan tujuan interaksi.

Tahap ini merupakan inti proses komunikasi terapeutik. Dalam tahap ini perawat dituntut untuk dapat membantu klien menyampaikan perasaan dan pikirannya, lalu menganalisis pesan yang disampaikan serta respon pasien dan mendefinisikan masalah yang dihadapi pasien serta mencari pemecahan masalahnya.

Tahap ini dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir. Terminasi sementara merupakan akhir sesi pertemuan dimana perawat dan pasien masih akan bertemu kembali di sesi pertemuan lain. Terminasi akhir dilakukan perawat setelah semua proses keperawatan telah selesai dilaksanakan. Dalam tahap ini perawat mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi, serta tindak lanjutnya (untuk terminasi sementara).

Demikian penjelasan terkait Komunikasi terapeutik dalam keperawatan.

Artikel Komunikasi Lainnya

Diketahui diri sendiri

Tidak diketahui diri sendiri

Diketahui orang lain

Terbuka

1

Gelap

2

Tidak diketahui orang lain

Tersembunyi

three

Tidak diketahui

4

Gambar jendela Johari