Categories
Uncategorized

Komunikasi Terapeutik (pengertian, Fungsi, Karakteristik, Prinsip Dan Teknik)

Apa itu Komunikasi Terapeutik? 

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dirancang dan direncanakan untuk tujuan terapi, dalam rangka membina hubungan antara perawat dengan pasien agar dapat beradaptasi dengan stress, mengatasi gangguan psikologis, sehingga dapat melegakan serta membuat pasien merasa nyaman, yang pada akhirnya mempercepat proses kesembuhan pasien.

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan pasien meliputi: realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri merupakan salah satu bentuk dari berbagai macam komunikasi yang dilakukan secara terencana dan dilakukan untuk membantu proses penyembuhan pasien.

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien dan membina hubungan yang terapeutik antara perawat dan klien. Komunikasi terapeutik juga dapat dipersepsikan sebagai proses interaksi antara klien dan perawat yang membantu klien mengatasi stress sementara untuk hidup harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah dan mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi realisasi diri.

Berikut definisi dan pengertian komunikasi terapeutik dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Yubiliana (2017), komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang terjalin dengan baik, komunikatif dan bertujuan untuk menyembuhkan atau setidaknya dapat melegakan serta dapat membuat pasien merasa nyaman dan akhirnya mendapatkan kepuasan. 
  • Menurut Priyanto (2009), komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.
  • Menurut Purwanto (1994), komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. 
  • Menurut Stuart & Sundeen (1995), komunikasi terapeutik adalah cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi orang lain. 
  • Menurut Suryani (2005), komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Seorang penolong atau perawat dapat membantu klien mengatasi masalah yang dihadapinya melalui komunikasi.

Fungsi Komunikasi Terapeutik 

Komunikasi terapeutik dapat digunakan sebagai terapi untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien atau meningkatkan rasa percaya pasien terhadap perawatnya. Dengan pemberian komunikasi terapeutik diharapkan dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien karena pasien merasa bahwa interaksinya dengan perawat merupakan kesempatan untuk berbagi pengetahuan, perasaan dan informasi dalam rangka mencapai tujuan perawatan yang optimal, sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat.

Menurut Stuart dan Sundeen (1995), fungsi komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut: 

  1. Meningkatkan tingkat kemandirian klien melalui proses realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri. 
  2. Identitas diri yang jelas dan rasa integritas yang tinggi.
  3. Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dan mencintai. 
  4. Meningkatkan kesejahteraan klien dengan peningkatan fungsi dan kemampuan memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.

Pemberian komunikasi terapeutik yang diberikan oleh perawat pada pasiennya berisi tentang diagnosa penyakit, manfaat, urgensinya tindakan medis, resiko, komplikasi yang mungkin dapat terjadi, prosedur alternatif yang dapat dilakukan, konsekuensi yang dapat terjadi apabila tidak dilakukan tindakan medis, prognosis penyakit, dampak yang ditimbulkan dari tindakan medis serta keberhasilan atau ketidakberhasilan dari tindakan medis tersebut.

Tujuan Komunikasi Terapeutik 

Pelaksanaan komunikasi terapeutik bertujuan membantu pasien memperjelas penyakit yang dialami, juga mengurangi beban pikiran dan perasaan untuk dasar tindakan guna mengubah ke dalam situasi yang lebih baik. Komunikasi terapeutik diharapkan dapat mengurangi keraguan serta membantu dilakukannya tindakan efektif, memperat interaksi kedua pihak, yakni antara pasien dan perawat secara profesional dan proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah pasien.

Menurut Indrawati (2003), tujuan komunikasi terapeutik adalah membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran, membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri. Sedangkan menurut Stuart & Laraia (2005), tujuan komunikasi terapeutik adalah kesadaran diri, penerimaan diri, dan meningkatnya kehormatan diri, identitas pribadi yang jelas dan meningkatnya integritas pribadi, kemampuan untuk membentuk suatu keintiman, saling ketergantungan, hubungan interpersonal, dengan kapasitas memberi dan menerima cinta, mendorong fungsi dan meningkatkan kemampuan terhadap kebutuhan yang memuaskan dan mencapai tujuan pribadi yang realistik.

Karakteristik Komunikasi Terapeutik 

Menurut Arwani (2002), terdapat tiga ciri-ciri yang menjadi karakteristik serta membedakan komunikasi terapeutik dengan komunikasi yang lain, yaitu:

a. Keikhlasan (genuiness) 

Perawat harus menyadari tentang nilai, sikap dan perasaan yang dimiliki terhadap keadaan klien. Perawat yang mampu menunjukkan rasa ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai sikap yang dipunyai terhadap klien sehingga mampu belajar untuk mengkomunikasikan secara tepat.

b. Empati (empathy) 

Empati merupakan perasaan pemahaman dan penerimaan perawat terhadap perasaan yang dialami klien dan kemampuan merasakan dunia pribadi klien. Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif dan tidak dibuat-buat (objektif) didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Empati cenderung bergantung pada kesamaan pengalaman diantara orang yang terlibat komunikasi.

c. Kehangatan (heat) 

Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang hangat, permisif dan tanpa adanya ancaman menunjukkan adanya rasa penerimaan perawat terhadap klien. Sehingga klien akan mengekspresikan perasaannya secara lebih mendalam.

Prinsip-prinsip Komunikasi Terapeutik 

Menurut Suryani (2005), terdapat beberapa prinsip yang harus dipahami dalam membangun dan mempertahankan komunikasi terapeutik, yaitu: 

  1. Hubungan perawat dengan klien adalah hubungan terapeutik yang saling menguntungkan. hubungan ini didasarkan pada prinsip humanity of nurse and consumers. Kualitas hubungan perawat-klien ditentukan oleh bagaimana perawat mendefenisikan dirinya sebagai manusia. Hubungan perawat dengan klien tidak hanya sekedar hubungan seorang penolong dengan kliennya tapi lebih dari itu, yaitu hubungan antar manusia yang bermartabat. 
  2. Perawat harus menghargai keunikan klien. Tiap individu mempunyai karakter yang berbeda-beda. Karena itu perawat perlu memahami perasaan dan perilaku klien dengan melihat perbedaan latar belakang keluarga, budaya, dan keunikan setiap individu. 
  3. Komunikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan, dalam hal ini perawat harus mampu menjaga harga dirinya dan harga diri klien. 
  4. Komunikasi yang menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya harus dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan memberikan alternatif pemecahan masalah. hubungan saling percaya antara perawat dan klien adalah kunci dari komunikasi terapeutik.

Teknik Komunikasi Terapeutik 

Menurut Uripni dkk (2002), teknik yang dilakukan dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik, adalah sebagai berikut: 

  1. Mendengar dengan penuh perhatian. Hal ini perawat harus mendengarkan masalah yang disampaikan oleh klien untuk mengetahui perasaan, pikiran dan persepsi klien itu sendiri. Sikap yang dibutuhkan untuk menjadi pendengar yang baik adalah menatap matanya saat berbicara, tidak menyilangkan kaki dan tangan, hindari gerakan yang tidak perlu dan condongkan tubuh kearah lawan bicara.
  2. Menunjukkan penerimaan. Mendukung dan menerima dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Menerima bukan berarti menyetujui. Menerima berarti mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. 
  3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan. Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai masalah yang telah disampaikan oleh klien. Oleh sebab itu, sebaiknya pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. 
  4. Mengulang ucapan klien dengan kata-kata sendiri. Melalui pengulangan kembali kata-kata klien, seorang perawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan. 
  5. Mengklarifikasi. Klarifikasi terjadi pada saat perawat menjelaskan dalam kata-kata mengenai ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien. Tujuan dari teknik ini untuk menyamakan pengertian. 
  6. Memfokuskan. Tujuan dari memfokuskan untuk membatasi pembicaraan sehingga pembicaraan menjadi lebih spesifik dan dimengerti. Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak memutuskan pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah yang sedang dihadapi.

Tahapan Komunikasi Terapeutik 

Menurut Stuart dan Sundeen (1995), tahapan-tahapan dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik, adalah sebagai berikut:

a. Fase Prainteraksi 

Prainteraksi dimulai sebelum kontrak pertama dengan klien. Tahap ini merupakan tahap persiapan perawat sebelum bertemu dan berkomunikasi dengan pasien. Perawat perlu mengevaluasi diri tentang kemampuan yang dimiliki. Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri, dengan analisa diri perawat akan dapat memaksimalkan dirinya agar bernilai terapeutik ketika bertemu dan berkomunikasi dengan pasien, jika dirasa dirinya belum siap untuk bertemu dengan pasien makan perawat perlu belajar kembali dan berdiskusi dengan teman kelompok yang lebih berkompeten. Perawat mengumpulkan information tentang klien, mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri dan membuat rencana pertemuan dengan klien.

b. Fase Orientasi 

Fase ini dimulai ketika perawat bertemu dengan klien untuk pertama kalinya. Hal utama yang perlu dikaji adalah alasan klien minta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya hubungan perawat klien. Dalam memulai hubungan tugas pertama adalah membina rasa percaya, penerimaan dan pengertian komunikasi yang terbuka dan perumusan kontrak dengan klien. Untuk dapat membina hubungan saling percaya dengan pasien, perawat harus bersikap terbuka, jujur, ikhlas, menerima pasien, menghargai pasien dan mampu menepati janji kepada pasien. Selain itu perawat harus merumuskan suatu kontrak bersama dengan pasien. Kontrak yang harus dirumuskan dan disetujui bersama adalah tempat, waktu dan topik pertemuan.

Perawat juga bertugas untuk menggali perasaan dan pikiran pasien serta dapat mengidentifikasi masalah pasien. Pada tahap ini perawat melakukan kegiatan sebagai berikut: memberi salam dan senyum pada klien, melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif), memperkenalkan nama perawat, menanyakan nama kesukaan klien, menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan, menjelaskan kerahasiaan. Tujuan akhir pada fase ini ialah terbina hubungan saling percaya.

c. Fase Kerja 

Pada tahap kerja dalam komunikasi terapeutik, kegiatan yang dilakukan adalah memberi kesempatan pada klien untuk bertanya, menanyakan keluhan utama, memulai kegiatan dengan cara yang baik, melakukan kegiatan sesuai rencana. Perawat memenuhi kebutuhan dan mengembangkan pola-pola adaptif klien. Interaksi yang memuaskan akan menciptakan situasi/suasana yang meningkatkan integritas klien dengan meminimalisasi ketakutan, ketidakpercayaan, kecemasan dan tekanan pada klien.

d. Fase Terminasi 

Pada tahap terminasi dalam komunikasi terapeutik kegiatan yang dilakukan oleh perawat adalah menyimpulkan hasil wawancara, tindak lanjut dengan klien, melakukan kontrak (waktu, tempat dan topik), mengakhiri wawancara dengan cara yang baik. Tahap terminasi dibagi menjadi 2, yaitu: 

  1. Terminasi Sementara. Terminasi sementara merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan pasien, akan tetapi masih ada pertemuan lainnya yang akan dilakukan pada waktu yang telah disepakati bersama. 
  2. Terminasi Akhir. Pada terminasi akhir perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh.

Daftar Pustaka

  • Yubiliana, Gilang. 2017. Komunikasi Terapeutik: Penatalaksanaan Komunikasi Efektif & Terapeutik Pasien & Dokter Gigi. Bandung: UNPAD Press.
  • Priyanto, A. 2009. Komunikasi dan Konseling Aplikasi dalam Sarana Pelayanan Kesehatan Untuk Perawat dan Bidan. Jakarta: Salemba Medika.
  • Purwanto, Heri. 1994. Komunikasi untuk Perawat. Jakarta: EGC.
  • Stuart dan Sundeen. 1995. Buku Keperawatan. Jakarta: EGC.
  • Suryani. 2005. Komunikasi Terapeutik: Teori dan Praktik. Jakarta: EGC.
  • Indrawati. 2003. Komunikasi untuk Perawat. Jakarta: EGC.
  • Stuart dan Laraia. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
  • Arwani. 2002. Komunikasi dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.
  • Uripni, C.L., dkk. 2002. Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC.
Categories
Uncategorized

Membangun Komunikasi Efektif Dalam Menentukan Keberhasilan Pembelajaran

Abstrak

Komunikasi secara umum merupakan suatu proses penyampaian – penerimaan pesan antar dua orang atau lebih. Pesan yang disampaikan dapat berupa komunikasi lisan, komunukasi tulisan, komunikasi verbal, komunikasi non verbal. Komunikasi tulisan suatu proses penyampaian pesan komunikasi dengan menggunakan kata-kata dalam bentuk tulisan yang memilki makna tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa komunikasi tulisan adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili komunikasi lisan termasuk kedalamnya adalah menulis dan membaca.

Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam pembelajaran.

Dengan  menguasai dan mengembangkan beberapa strategi serta  teknik berkomunikasi secara otomatis akan meningkatkan kemampuan untuk berhubungan dengan berbagai macam orang.Seorang pendidik bisa menciptakan dan mengembangkan  komunikasi yang efektif melalui materi pembelajaran yang bisa diterima dan mudah dipahami oleh peserta didik.

Dalam komunikasi pendidikan, seorang pendidik  harus mempunyai komunikasi pribadi yang baik karena ini akan berpengaruh untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didiknya.  Seorang pendidik juga harus mempunyai peranan yang penting untuk bisa mengendalikan kondisi kelas yang sehat karena merupakan tolak ukur keberhasilan.

Bahasa tubuh merupakan bagian yang sangat penting dalam komunikasi manusia yang merupakan bagian komunikasi nonverbal untuk dapat menyampaikan pesan-pesannya sendiri. Kita bahkan bisa memahami maksud komunikasi seseorang melalui bahasa tubuhnya. Hal lain yang penting dari bahasa tubuh dalam komunikasi umumnya dan komunikasi antar pribadi khususnya adalah membantu efektivitas komunikasi kita.

Kata kunci : komunikasi, pembelajaran, Pendidik,bahasa tubuh, efektif.

A. Latar Belakang

Komunikasi pendidikan sangat diperlukan demi keberlangsungan pendidikan. Proses belajar-mengajar merupakan komunikasi antara seorang guru dengan muridnya. Di sini, diperlukan penyampaian pesan yang efektif dengan  tujuan pesan yang berisi topik-topik tertentu dapat diterima dengan  baik oleh peserta didik. Oleh karena itu, seorang guru hendaknya menyadari bahwa dalam kegiatan belajar mengajar itu sesungguhnya ia sedang berkomunikasi.Guru harus pandai dan memilih kalimat yang mudah dimengerti oleh muridnya. dengan demikian pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh muridnyadan kkomunikasi pendidikan dapat berjalan dengan baik. komunikasi pada hakekatnya adalah suatu proses sosial yaitu sesuatu yang berlangsung atau berjalan antara manusia. sebagai proses sosial dalam komunikasi terjadi interaksi individu dengan lingkungannya. inilah yang akhirnya menyebabkan terjadinya proses perubahan prilaku dari tidak tahu menjadi tahu dari tidak paham menjadi paham. Didalam UU No. 20 Tahun 2003tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal three disampaikan tujuan pendidikan nasional. Yang mana tujuan tersebut adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat,  berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawqab.

B, Pembahasan

1.    Arti Komunikasi

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.  Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu: Human communication is the strategy through which people –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the surroundings and each other. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.  Ada beberapa ahli  menyatakan  beberapa pendapat tentang komunikasi;

  1. Evertt M. Rogers mendefinisikan komunikasi sebagai proses yang di dalamnya terdapat suatu gagasan yang dikirimkan dari sumber kepada penerima dengan tujuan untuk merubah perilakunya. Pendapat senada dikemukakan oleh Theodore Herbert, yang mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses yang di dalamnya menunjukkan arti pengetahuan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, biasanya dengan maksud mencapai beberapa tujuan khusus
  2. Wilbur Schramm memiliki pengertian yang sedikit lebih detil. Menurutnya, komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim, dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima.(Suranto : 2005)
  3. Mulyana(2000:sixty one-sixty 9)mengungkapkanpengertiankomunikasidalampandangan:

1. Komunikasi Sebagai Tindakan Satu Arah

Komunikasisebagaisuatuprosespenyampaianpesandari komunikator ke komunikan,  misalnyatenaga pendidik  kepadapihaklain(peserta didik), baik langsung  melalui  suatu  tatap  muka  ataupun  tidak  langsung  melalui  suatu  media.  Peristiwanya: seseorang atau organisasi mempunyai suatu informasi kemudian disampaikan kepada orang lain,dan orang lain itu menerima informasi tersebut baik dengan cara mendengarkan atau dengan cara membaca (suatu quiz).

Komunikasi yang terjadi berorientasi pada pesan: amessage-centered philosophy of communication.Keberhasilan komunikasi  seperti  ini  terletak pada  penguasaan  fakta  atau  informasi  dan  pengaturan  mengenai  cara-cara penyampaian fakta atau informasi tersebut.

2. Komunikasi sebagai Interaksi

Komunikasi merupakan suatu proses sebab-akibat atau aksi-reaksi secara bergantian baik verbal ataupun non-verbal.Misalnya :seseorang menyampaikan informasi kepada pihak penerima yang kemudian  memberikan respon atas informasi yang diterimanya  itu untuk  kemudian pihak pertama  bereaksi  lagi  setelah  menerima respon  atau umpan balik dari orang atau pihak kedua,dan seterusnya.Komunikasi demikian berorientasi pada pembicara :    a speaker – centered philosophy of communication dan mengabaikan kemungkinan seseorang bisa mengirim dan atau menerima informasi pada saat yang sama. Di sini unsur  umpan balik  (feed-back) menjadi cukup penting. Bagaimana  pihak pengirim dan penerima suatu informasi bisa silih berganti peran karena persoalan umpan balik.

Komunikasi sebagai transaksi merupakan suatu proses yang bersifat personal karena makna atau arti yang diperoleh pada dasarnya bersifat pribadi. Penafsiran atas suatu informasi melalui proses penyandian (encoding course of) dan melalui penyandian kembali (decoding course of) dalam peristiwa komunikasi baik atas perilaku verbal atau pun atas perilaku non-verbal bisa amat bervariasi.

Peristiwanya:melibatkan penafsiran yang bervariasi dan pembentukan makna yang lebih kompleks.Komunikasi tidak membatasi pada kesengajaan atau respons yang teramati melainkan pula mencakup spontanitas,bersifat simultan dan kontekstual.Komunikasi ini berorientasi pada arti baru yang terbentuk: a that means-centered philosophy of communication.

Berdasarkan beberapa definisi para ahli  di atas dapat diambil pemahaman bahwa :

  1. Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses penyampaian informasi. Dilihat dari sudut pandang ini, kesuksesan komunikasi tergantung kepada desain pesan atau informasi dan cara penyampaiannya. Menurut konsep ini pengirim dan penerima pesan tidak menjadi komponen yang menentukan.
  2. Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang kepada orang lain. Pengirim pesan atau komunikator memiliki peran yang paling menentukan dalam keberhasilan komumikasi, sedangkan komunikan atau penerima pesan hanya sebagai objek yang pasif.
  3. Komunikasi diartikan sebagai proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide yang disampaikan. Pemahaman ini menempatkan tiga komponen yaitu pengirim, pesan, dan penerima pesan pada posisi yang seimbang. Proses ini menuntut adanya proses encoding oleh pengirim dan decoding oleh penerima, sehingga informasi dapat bermakna.

2.   Tujuan Komunikasi

  1. Untuk mempelajari secara lebih baik dunia luar,seperti berbagai objek, peristiwa dan orang lain. Meskipun informasi tentang dunia luar itukita kenal umumnya melalui mass-media, tetapi hal itu pada akhirnya seringkali didiskusikan, dipelajari,  diinternalisasi  melalui  komunikasi  dalam pembelajaran.  Nilai-nilai,  sistem  kepercayaan,  dan  sikap-sikap nampaknya lebih banyak dipengaruhi oleh pertemuan interpersonal dari pada dipengaruhi mediab ahkan sekolah.

  2. Untuk memelihara hubungan dan mengembangkan kedekatan atau keakraban. Melalui komunikasi kita berkeinginan untuk menjalin rasa cinta dan kasih sayang. Disamping cara demikian mengurangi rasa kesepian atau rasa depresi, komunikasi bertujuan membagi dan meningkatkan rasa bahagia yang pada akhirnya mengembangkan perasaan positif tentang diri kita sendir Kita diajari tidak boleh iri, dengki, dendam, saling fitnah dan saling bunuh; kita semua akan mati dan dikuburkan orang lain.

  3. Melalui komunikasi, seorang pendidik mencoba mencapai tujuan pembelajaran dengan cara berinteraksi dengan peserta didik; membagi informasi atau gagasan, melakukan tukar pengalaman, mendorong dan saling membentuk sikap- sikapdan kebiasaan-kebiasaan baru yang efektif berdasarkan persepsi yang diperoleh selama pembelajaran.

three.   Jenis-jenis Komunikasi

Komunikasi intrapersonal
Komunikasi didalam diri individu yang berfungsi agar adanya kreativitas imajinasi, suatu pemahaman untuk bisa mengendalikan diri, dan adanya kedewasaan untuk bisa mengambil keputusan sesuai dengan kapasitasnya

Komunikasi interpersonal
Komunikasi yang terjadi antara dua orang dengan ciri adanya kontak secara langsung dan adanya percakapan

Komunikasi kelompok
Komunikasi ini terdiri atas interaksi tatap muka dengan tujuan untuk saling berbagi informasi atau menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam hal ini, setiap anggota dapat saling mengetahui karakteristik pribadi anggotanya

Komunikasi masa
Komunikasi ini ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada orang banyak dengan harapan orang lain akan mengikuti pesan yang disampaikan


4.    Bentuk Komunikasi berdasarkan adanya media atau tidak

Komunikasi langsung
Komunikasi langsung adalah komunikasi yang dilakukan secara face to face (tatap muka). Selain itu juga, komunikasi langsung dapat dilakukan dengan cara melakukannya melalui telepon. Jadi dapat dikatakan bahwa komunikasi langsung merupakan salah satu cara berinteraksi antara seseorang dengan orang lain secara langsung

Komunikasi tidak langsung
Komunikasi tidak langsung adalah komunikasi yang dilakukan biasanya melalui perantara, biasanya pengirim pesan menyampaikan pesannya melalui surat atau fax.

5.    Model Proses Komunikasi

Secara sederhana komunikasi dapat dipahami sebagai suatu  proses atau aliran mengenai suatu pesan atau informasi bergerakdari suatu sumber(komunikator) hingga penerima  (komunikan) dan berlangsung dinamis.Suatu penyimpangan yang terjadi dalam komunikasi pada dasarnya merupakan hambatan. Bagan dibawah inimenggambarkan  sebuah proses komunikasi :

Tujuan sebuah proses komunikasi adalah menyampaikan suatu pesan atau informasi dari komunikator kepada penerima setepat mungkin; apapun bentuk dan cara penyampaiannya. Akan tetapi fakta dilapangan yang sering terjadi bahwa sebuah pesan atau informasi itu berubah arti (distorsi) sampai penerima. Sedangkan distorsi disebabkan karena akibat gangguan (noise) dalam proses komunikasi. Distorsi sebenarnya  tidak boleh terlalu banyak dan sering terjadi dalam sebuah komunikasi.

 Untuk meminimalisasi distorsi yang terjadi dalam sebuah proses komunikasi perlu mencermati eight komponen yaitu:

  1. Konteks(lingkungan)merupakan sesuatu yang kompleks  antara dimensi fisik,sosial-psikologis dan dimensi temporal saling mempengaruhi satu sama lain. Kita mesti memahami bahwa kenyamanan ruangan, peranan seseorang dan tafsir budaya serta hitungan waktu, merupakan contoh dari sekian banyak unsur lingkungan komunikasi.

  2. Komponen sumber-penerima menunjukkan bahwa keterlibatan pendidikdan peserta didik dalam berkomunikasi sama yaitu mereka sebagai penyampai pesan dan juga penerima.Sebagai sumber dalam berkomunikasi menunjukkan bahwa Anda mengirim pesan. Pengirim pesan berarti berbicara, menulis,memberikan isyarat tubuh atau tersenyum.Selain sebagai pengirim pesan, juga menerima pesan. Pada saat Anda berbicara dengan  orang  lain,  Anda  berusaha  untuk  memperoleh  tanggapan: dukungan,  pengertian,  simpati,  dan sebagainya;   dan   pada   saat   Anda   menyerap   isyarat-isyarat   non-verbal,   Anda   menjalankan   fungsi   penerima   dalam berkomunikasi.

  3. Encoding dan decoding ; seseorang  mengawali   proses komunikasi dengan mengemas sebuah pesan yang dituangkan kedalam gelombang suara atau kedalam selembar kertas.  Kode-kode  yang dihasilkan ini berlangsung  melalui proses pengkodean  (enkoding). Bagaimana  suatu pesan terkodifikasi,  amat tergantung pada keterampilan,sikap, pengetahuan  dan sistem sosial budaya yang mempengaruhi. Artinya, keyakinan dan nilai-nilai yang dianut memiliki peranan dalam menentukan tingkat efektivitas sumber komunikasi. Proses kodifikasi(pengkodean) dipihak sumber komunikasi hingga pesan itu terkode, pada dasarnya mengandung unsur penafsiran subjektifatas simbol-simbol yang terdiri dariperspektif sosial budaya yang bisa menimbulkan distorsi bahkan makna yang berlainan sama  sekali. Sebelum suatu pesan itu disampaikan atau diterimakan dalam berkomunikasi kita berusaha menghasilkan pesan simbol-simbol patut diterjemahkan lebih dahulu kedalam ragam kode atau simbol tertentu oleh si-penerima melalui mendengarkan atau membaca.

  4. Kompetensi Komunikasi; mengacu pada kemampuan Anda berkomunikasi secara efektif (dari SpitzbergdanCupach,1989). Kompetensi ini mencakup pengetahuan tentang peranlingkungan dalam mempengaruhi isi dan bentuk pesan komunikasi. Suatu topik pembicaraan dapat dipahami karena hal itu layak dikomunikasikan pada orang tertentu dalam lingkungan tertentu akan tetapi bisa tidak layakun tuk orang dan lingkungan yang lain.Kompetensi komunikasi juga mencakup kemampuan tentang tata cara perilaku non-verbal seperti kedekatan, sentuhan fisik,dan suara keras.

  5. Pesan dan Saluran : Pesan sebenarnya merupakan produk fisik dari proses kodifikasi. Jika seseorang itu berbicara maka pembicaraan itu adalah pesan.Jika seseorang itu menulis maka tulisan itu adalah pesan.Bila kita melakukan suatu gerakan maka gerakan itu adalah pesan.Pesan itu dipengaruhi oleh kode atau kelompok simbol yang digunakan untuk mentransfer makna atau isi dari pesan itu sendiri dan dipengaruhi oleh keputusan memilih dan menata kodedan isi tersebut. Menurut  Sendjaja(1994) mengutip pendapat  Reardon bahwa kendala utama dalam berkomunikasi seringkali  lambang atau simbol yang sama mempunyai makna yang berbeda. Kurangnya kecermatan dalam memilih kode atau mentransfer makna dan menata kode serta isi pesan dapat memunculkan sumber distorsi komunikasi.  Saluran merupakan medium; lewat mana suatu pesan itu berjalan. Saluran dipilih oleh sumberkomunikasi. Sedangkan sumber komunikasi dapat dibedakan berdasarkan jaringan otoritas dan pelaksanaan yang disebut formal dan saluran casual biasanya digunakan untuk meneruskan pesan-pesan pribadi atau pesan-pesan sosial yang menyertai pesan-pesan yang disampaikan secara formal.

  6. Umpan balik secara efektif adalah suatu cara  yang  dapat dipertimbangkan untuk  menghindari dan  mengoreksi terjadinya distorsi. Umpan balik merupakan pengecekan sejauh mana keberhasilan yang dicapai dalam mentransfer makna pesan antara komunikator dan komunikan.Setelah si-penerima pesan melaksanakan pengkodean kembali, maka yang bersangkutansesungguhnya telah berubah menjadi sumber. Maksudnya bahwayang bersangkutan  mempunyai tujuan tertentu, yakni untuk memberikan respon atas pesan yang diterima, dan ia harus melakukan  penkodean  sebuah pesan dan mengirimkannya  melaluisalurantertentukepada pihakyang semula bertindaksebagai pengirim. Umpanbalik menentukan apakah suatu pesan telah benar -benar dipahami atau belum dan adakah suatu perbaikan patut dilakukan.
  7. Gangguan  merupakan komponen yang mendistorsi sebuahpesan.Gangguan dapat terjadi pada kedua belah pihak baik penyampai atau penerima pesan dalam komunikasi. Gangguan ini dapat berupa fisik, psikologis dan semantik ataukebahasaan. Misalnya desingan suara mobil, pandangan atau pikiran yang sempit dan penggunaan istilah yang menimbulkan arti yang berbeda-beda, merupakan contoh dari masing-masing jenis gangguan yang dapat mendistorsi pesan yang dimaksudkan dalam komunikasi.

  8. Efek Komunikasi. Pada setiap peristiwa komunikasi selalu mempunyai konsekuensi atau dampak atas satu atau lebih yang terlibat. Dampak itu berupa perolehan pengetahuan, sikap-sikap baru atau memperoleh cara-cara gerakan baru sebagai refleksi sikomotorik.

6.    Persepsi dan Hubungan Interpersonal

Dalam setiap komunikasi yang melibatkan dua orang atau beberapa orang, akan ditemukan beragam pribadi yang harus dikenali, yaitu diri kita sendiri dan diri pihak/orang lain yang menjadi  partner komunikasi. Sedangkan untuk mengenali  orang lain bukanlah perkara mudah dan sederhana. Hal itu akan berhubungan dengan proses psikologis yaitu persepsi. Persepsi merupakan proses inside dalam diri seseorang yang memungkinkan ia memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan sehingga hal itu mempengaruhi perilaku yang bersangkutan.

Proses persepsi melibatkan penginderaan atas suatu objek yaitu melalui penglihatan, pendengaran,  penciuman,  perabaan,  dan  pengecapan; kemudian  perhatian  atas  sesuatu  objek / pesan tersebut dapat menarik perhatian; dan interpretasi.   Karena itu, persepsi merupakan inti komunikasi sedangkan penafsiran (interpretasi) merupakan inti persepsi (Mulyana,2000).

Secara  teoritik  persepsi  baik terhadap  lingkungan  fisik  ataupun terhadap  lingkungan  sosial  (termasuk lingkungan masyarakat  atau  organisasi    seperti  halnya  sekolah)  tidak  akan  akurat  dan  banyak  memiliki  keterbatasan  untuk  dijadikan perolehan pengetahuan/informasi. Dalam memahami suatu objek dan mempersepsi orang lain, kita harus membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap, yaitu informasi yang hanya diperoleh melalui kelima indera kita. Maka, ketika kita berkomunikasi, kita akan mendasarkan persepsi terhadap orang lain atas perilaku komunikasinya yang dapat kita amati.

Jendela Johariadalah salahsatu modelinovatifuntukmemahamitingkat-tingkat kesadarandan penyingkapan diri dalam komunikasi dalam pelatihan (Tubbsdan Moss; Editor:Mulyana,1996:13).Modelini menawarkan  suatu  cara  melihat  kesaling-bergantungan  hubungan  antara  intrapersonal dan  hubungan  interpersonal.  Model Jendela Johari digambarkan dalam empat kuadran yang mirip empat kaca pada sebuah jendela seperti gambar dibawah ini.

Kuadran pertama disebut kuadran terbuka.Tahap ini mencerminkan keterbukaan Anda pada dunia secara umum. Kuadran ini mencakup semua aspek diri Anda yang Anda ketahui dan diketahui oleh orang lain.Kuadran ini menjadi dasar dalam berkomunikasi antar dua orang.

Kuadran kedua adalah kuadran gelap meliputi semua hal mengenai diri Anda yang dirasakan orang lain tetapi tidak anda rasakan. Contoh Anda terlalu memonopoli percakapan tanpa Anda sadari.

Kuadran ketiga,kuadran tersembunyi. Kuadran ini menentukan kebijaksanaan. Kuadran ini dibangun oleh semua hal yang Anda lebih suka tidak membeberkannya kepada oranglain.Misalkan permasalahan perceraian orang tua Anda, gaji Anda, perasaan Anda pada sahabat sekamar.

Kuadran keempat, sering disebut kuadran tak terketahui. Kuadran gelap tidak Anda ketahui meskipun diketahui orang lain.Kuadran ini mewakili segala sesuatu tentang diri Anda yang belum pernah ditelusuri, oleh Anda atau oleh orang lain. Anda hanya dapat menduga bahwa hal ini ada, atau menyadarinya dalam retrospeksi.

Tahapan hubungan interpersonal berlangsung dalam beberapa tahap, mulai tahap interaksi awal sampai tahap  pemutusan  (dissolution). Seorang  kawan  yang  akrab  tidak  begitu  saja  terjadi  setelah  adanya  pertemuan,  untuk menumbuhkan keakraban  dilakukan secara bertahap.Terdapat lima tahapan yang dikemukakan DeVito (1986b) dimana tahapan ini dapat menjadi dasar dalam menjalin hubungan. Kelima tahap itu adalah kontak, keterlibatan, keakraban, perusakan dan pemutusan.

  • Tahap pertama kita membuat kontak, ada beberapa macam persepsi alat indra, Anda melihat, mendengar dan membaui  seseorang. Beberapa  peneliti,  dalam  tahap  ini  selama  empat  menit  pertama  (interaksi  awal),  Anda  akan memutuskan apakah ingin melanjutkan hubungan ini atau tidak.Pada tahap ini penampilan fisik begitu penting, karena dimensi fisik begitu terbuka untuk diamati secara mudah. Namun demikian, kualitas-kualitas lain, seperti bersahabat, kehangatan, keterbukaan,dan dinamisme juga terungkap dalam tahap ini.Jika Anda menyukai orang tersebut maka akan berlanjut ketahap kedua.
  • Pada tahap ini Anda mengikat diri Anda lebih jauh. Anda mengikatkan diri untuk lebih mengenal orang lain. Anda mungkin membina hubungan primer, sehingga orang lain itu menjadi sahabat baik atau kekasih Anda. Komitmen ini dapat menjadi berbagai bentuk, perkawinan, membantu orang itu atau mengungkapkan rahasia besar Anda. Tahap ini hanya disediakan untuk sedikit orang paling banyak empat orang, karena jarang sekali orang memiliki lebih dari empat orang sahabat.
  • Dalam tahap berikutnya merupakan penurunan hubungan, ketika ikatan diantara kedua pihak melemah. Pada tahap perusakan, Anda mulai merasa bahwa hubungan ini mungkin tidaklah seperti yang Anda pikirkan sebelumnya. Anda berdua menjadi semakin jauh, makin sedikit waktu senggang yang Anda lalui bersama dan apabila Anda berdua bertemu Anda saling berdiam diri tidak lagi banyak mengungkapkan diri. Jika tahap perusakan ini berlanjut Anda memasuki tahap pemutusan.
  • Tahap pemutusan adalah pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua pihak.Jika bentuk ikatan itu adalah perkawinan pemutusan hubungan dilambangkan dengan perceraian, walaupun pemutusan hubungan aktual dapat berupa hidup terpisah.Dalam bentuk materi inilah tahap ketika harta kekayaan dibagi dan pasangan suami istri saling berebut hak pemeliharaan anak.

7.   Mendengarkan dan Berbicara

Mendengarkan dan berbicara merupakan hal yang utama dalam berkomunikasi secara interpersonal. Pendengar aktif adalah mendengar untuk mengerti apa yang dikatakan dibalik pesan itu. Apabila terjadi kekurangan dalam proses mendengarkan maka yang terjadi adalah ketidak-mengertian bahasa yang digunakan dalam menerjemahkan pesan yang disampaikan, kurangnya waktu untuk menerjemahkan pesan dalam bentuk kata-kata, atau mengabaikan isyarat nonverbal yang mengiringi pesan verbal.

Seseorang yang mendengarkan dengan aktif harus dapat mengetahui juga pesan yang diterima secara keseluruhan  dan dari sudut pandang yang berbeda dari apa yang dikatakan seseorang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendengarkan secara aktif, yaitu:

  • Mendengarkan dengan menangkap ungkapan nonverbal sebaik isyarat verba Pada saat mendengarkan dengan aktif, penerima  akan  mendapat  umpan  balik  dengan  menguraikan  sendiri  kata-kata  tentang pesan  yang disampaikan oleh sumber.
  • Penerima pesan mengecek kembali (notion check) yaitu apa yang terkandung dalam sebuah pesan yang diterimanya untuk mengerti pesan apa yang sesungguhnya.
  • Gambaran  perilaku  (habits  descriptions)  ini  merupakan  gambaran  individu  yang  sangat  spesifik.  Kegiatan pengamatan kepada orang lain tanpa membuat keputusan atau mengeneralisasi tentang  apa latar belakang dan sifat-sifatnya.

Teknik mendengarkan efektif  dapat membantu para komunikator mempunyai informasi yang akurat. Pastikan bahwa kualitas informasi yang baik tidak hanya merupakan tantangan dalam mendengarkan. Keduanya baik pengirim maupun penerima harus  memastikan  bahwa  mereka mempunyai  kualitas  ketepatan  dari  informasi  yang  benar.  Brownell  menyatakan  bahwa efektivitas mendengarkan dapat dimengerti melalui indikator perilaku: seseorang merasa berhubungan dengan mendengarkan secara efektif dalam enam unsur yang dikenal HURIERModel (Hearing, Understanding, Remembering, Interpreting, Evaluating, and Responding).

 


eight.    KetrampilanBerbicara

Ketrampilan  verbal  dalam  berbicara  merupakan  kemampuan  mengekspresikan  bahan  pembicaraan  dalam bahasa kata-kata.Tidak ada aturan yang mengikat atau standar dalam penggunaannya, baik menyangkut panjang kata-kata maupun rincian uraian yang akan disampaikan. Semuanya tergantung pada unsur tingkat pengalaman, panjang pembicaraan, materi pembicaraan,serta waktu yang tersedia.

Dalam berbicara tidak baik mengunakan kata-kata jargon yaitu kata-kata yang dibuat dan digunakan  untuk kalangan tertentu saja dimana orang lain tidak mengerti. Untuk menghindari kata-kata jargon dalam komunikasi disarankan untuk mengunakan kata-kata yang pendek, sederhana, dan langsung pada sasaran. Sedangkan teknik yang dapat digunakan dalam meningkatkan effektifitas penampilan berbicara verbal adalah sebagai berikut:

  1. Percaya diri: adalah keyakinan  pada kemampuan dan penilaian diri sendiri dalam melakukan tugas dan memilih pendekatan yang efektif.  Hal ini termasuk kepercayaan atas kemampuannya menghadapi lingkungan yang semakin menantang dan kepercayaan atas  pendapatnya.
  2. Ucapkan  kata-kata  dengan  jelas  dan  perlahan-lahan,  berikan  penekanan dan pengulangan untuk  hal-hal yang dianggap penting.
  3. Berbicaralah  dengan  wajar sebagaimana biasanya,   jangan  terkesan  seperti  penyair  atau  sedang berdeklarasi
  4. Hindari suara monoton, gunakan tekanan dan irama tertentu untuk menampilkan poin-poin tertentu seperti marah dengan nadatinggi, sedih dengan suara memelas, tetapi hindarkan kesan seperti pemain drama.
  5. Menarik napas dalam-dalam,dua sampai dua kali untuk mengurangi  ketegangan. Atur napas secara normal jangan terkesan seperti yang sedang dikejar-kejar.
  6. Hindari sindro mem, ah, anu, apa dan sebagainya.Jika terpojok dan kehabisan bicara.
  7. Membaca paragraf yang dianggap penting dari teks tulisan.Jangan merasa malu dengan hal ini karena pendengar akan berfikir bahwa kita akan menekankan poin pembicaraan.
  8. Siapkan air minum (terutama mereka yang sering kali kehabisan napas jika berbicara).

9.    Pengertian Komunikasi Nonverbal dan Bahasa Tubuh

Dalam daftar istilah Cultural and Communication Studies, Sebuah Pengantar Paling Komprehensif dinyatakan, komunikasi nonverbal adalah ”semua eksprsi eksternal selain kata-kata terucap atau tertulis (spoken and written word), termasuk gerak tubuh, karakteristik penampilan, karakteristik suara, dan penggunaan ruang dan jarak (Fiske, 2004;281). Sedangkan Harris (1990:7) menyebutkan komunikasi nonverbal diacukan pada bahasa tubuh, seperti gerak-gerik tubuh. Pengertian yang lebih ringkas diberikan Jandt (1998:97) yang menyebut komunikasi nonverbal sebagai ”pesan yang disampaikan tanpa menggunakan kata-kata”.

Secara sederhana bahasa tubuh dapat diartikan, ”penyampaian pesan nonlisan yang menggunakan kemampuan seluruh anggota badan untuk menyampaikan pesan”, seperti menggunakan gerak tubuh, mimik wajah, isyarat tangan dan jarak tubuh. Pease (1987) menyebut bahasa tubuh itu mencakup mulai dari isyarat tangan, isyarat mata, posisi tubuh hingga jarak yang dibangun antara dua orang yang berbicara.

Fungsi Komunikasi Nonverbal

Jandt (1998:100-one hundred and one) menyebutkan beberapa fungsi komunikasi nonverbal dalam komunikasi manusia, yaitu sebagai berikut. Menggantikan pesan lisan, yang biasanya dilakukan bila situasi tak memungkinkan untuk menyampaikan pesan lisan.

  • Menyampaikan pesan-pesan yang enak disampaikan secara lisan, penyampaian dengan menggunakan isyarat tanpa merasa menyinggung perasaan atau mempermalukan.
  • Membentuk kesan yang mengarahkan komunikasi, ada saatnya kita mengelola kesan orang lain terhadap diri kita melalui pesan nonverbal.
  • Memperjelas relasi, mengingat pesan komunikasi itu mengandung isi dan informasi tentang relasi.
  • Mengatur interaksi, ini terjadi, misalnya manakala kita terlibat dalam percakapan antar pribadi.
  • Memperkuat dan memodifikasi pesan-pesan verbal, isyarat-isyarat nonverbal dapat menjadi mata pesan yang mempengaruhi penyandibalikan (decoding) pesan.
  • Sedangkan Wood (1994:152-100 and fifty five) menyebut ada 3 (tiga) fungsi komunikasi nonverbal, yaitu:
  • komunikasi nonverbal melengkapi komunikasi verbal;
  • komunikasi nonverbal mengatur interaksi;
  • komunikasi nonverbal membangun relasi tingkatan makna, yang pada dasarnya terdiri dari tiga dimensi-dimensi primer relasi tingkat makna, yaitu responsivitas, menunjukan suka-tidak suka, dan kekuasaan atau kontrol.

Jenis-Jenis Komunikasi Nonverbal

Jandt (1998:104-116) mencatat ada (9) sembilan jenis komunikasi nonverbal, yaitu sebagai berikut:

  • Proxemics (Kedekatan), Istilah ini berasal dari Edward Hall yang mengambilnya dari kata Proximity (kedekatan) untuk menunjukan adanya ruang atau tetorial baku dan ruang personal yang kita gunakan dalam berkomunikasi.
  • Kinesics (Kinesik), Istilah ini digunakan untuk menunjukan gerak-gerik atau sikap tubuh (gestures), gerak tubuh (physique movement), ekspresi wajah, dan kontak mata.
  • Chronemics (Kronemik), Istilah ini berkaitan dengan waktu. Ada yang memandang waktu itu berjalan linier atau mengikuti garis lurus yang bergerak dari titik awal menuju titik akhir.
  • Paralanguage (Parabahasa), Istilah ini menunjuk pada unsur-unsur nonverbal sauara dalam percakapan verbal.
  • Kebisuan, Istilah ini dipandang agak membingungkan karena membisu dipandang tidak berkomunikasi. Namun sebenarnya, dalam kebisuan orang mengkomunikasikan sesuatu.
  • Haptics, Istilah ini berkaitan dengan penggunaan sentuhan dalam berkomunikasi.
  • Tampilan Fisik dan Busana, Istilah ini menunjukan pesan nonverbal dapat juga berupa tampilan fisik dan busana yang dikenakan.
  • Olfactics, Istilah ini berkaitan dengan penggunaan indera penciuman dalam berkomunikasi nonverbal. Bukan hanya bau wangi parfum, tetapi juga bau badan berpengaruh terhadap komunikasi.
  • Oculesics, Istilah ini menunjuk pada pesan yang disampaikan melalui mata.
  • Dengan demikian, komunikasi nonverbal yang menyampaikan pesan-pesan nonverbal merupakan bagian dari setiap bentuk komunikasi manusia. Tanpa ada pesan nonverbal, kita akan merasakan komunikasi berlangsung hambar dan dingin karena fungsi komunikasi nonverbal yang amat penting dalam kegiatan komunikasi.

Jenis-Jenis Komunikasi Nonverbal

Bahasa Tubuh

Bahasa tubuh pada dasarnya penyampaian pesan dengan menggunakan tubuh kita sendiri sebagai penyampai pesannya diluar mulut kita. Dalam berkomunikasi melalui bahasa tubuh, manusia menggunakan semua unsur komunikasi, kecuali ungkapan lisan. Sebagai bagian dari komunikasi nonverbal, fungsi-fungsi komunikasi nonverbal pun melekat pada fungsi bahasa tubuh.

Ekspresi Wajah

Baskin dan Aronoff (1980:104) menyebutkan sejumlah kondisi emosional yang tampak pada wajah yang sifatnya common, seperti berikut  ini:

  • Tertarik adalah  Emosi yang menunjukan senang yang mungkin terkait dengan observasi atas satu fenomena baru untuk pertama kalinya.
  • Gembira adalah  Ekspresi kesenangan atau kegembiraan, yang dekat dengan emosi positif yang sudah ada.
  • Terkejut adalah  Ekspresi yang merupakan respons awal terhadap stimulus yang tiba-tiba muncul yang melebihi ambang batas.
  • Takut adalah  Ekspresi yang terkait dengan naluri menjaga diri. Pada manusia ada tentang luas kemungkinan rasa takut mulai dari yang ancaman bahaya yang biasa-biasa saja hingga teror complete.
  • Kesedihan adalah  Ekspresi kekecewaan terhadap beberapa peristiwa yang terjadi saat ini atau pada masa lalu, kekecewaan atas sesuatu yang tak bisa kita kendalikan sepenuhnya hingga hinaan atau cacian tentang diri kita yang sebenarnya bisa kita lakukan dengan lebih baik.
  • Marah adalah  Ekspresi yang bersumber sari sesuatu yang mungkin membuat sedih yang ingin kita hindari. Juga merupakan ekspresi terbuka rasa permusuhan yang membentang mulai dari ketidak senangan yang biasa-biasa saja hingga amukan.
  • Jijik adalah  Ekspresi tidak bisa menerima atau merendahkan yang sangat kuat. Pengirim pesan ini melihat dirinya jelas lebih unggul dibandingkan penerima pesan.

Mata

Kepribadian yang kuat diidentikan dengan sorot mata yang tajam. Permainan mata juga dianggap sebagai bagian penting dalam perjuangan hidup. Konon mata manusia, akan membesar atau berkonsentrasi karena sikap dan suasana hatinya berubah dari positif ke negatif (Pease, 1987:ninety three).

Anggota Badan

Baskin Aronoff (1980:106) memyebutkan beberapa fungsi gerakan anggota tubuh dalam komunikasi. Fungsi tersebut adalah (a) mengilustrasikan apa yang kita komunikasikan, (b) menekankan pada apa yang kita komunikasikan, (c) menata interaksi dalam komunikasi, (d) menunjukan emosi, khususnya tingkat emosi, dan (e) menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan kebutuhan emosional. Bahasa tubuh merupakan bagian sangat penting dalam komunikasi manusia. Bahasa tubuh, sebagai bagian komunikasi nonverbal, juga menyampaikan pesan-pesannya sendiri. Kita bahkan bisa memahami maksud komunikasi seseorang melalui bahasa tubuhnya. Bahkan kita pun bisa memperoleh ”bocoran”mengenai kondisi emosi lawan komunikasi kita melalui bahasa tubuhnya. Hal lain yang penting dari bahasa tubuh dalam komunikasi adalah membantu efektivitas komunikasi kita. Pesan verbal diperkuat dengan pesan nonverbal atau bahasa tubuh atau pesan nonverbal  dapat menggantikan pesan verbal. Pesan verbal tersebut dapat dilakukan baik karena situasinya seperti ditengah keramaian atau pun karena memang isi pesannya seperti pesan yang bernada kritik terhadap orang yang dekat dengan kita.

Dengan demikian, dalam komunikasi antarpribadi, bahasa tubuh memainkan peran penting. Penggunaan zona dalam komunikasi antarpribadi merupakan salah satu aspek penting bahasa tubuh. Kita akan membawa lawan komunikasi kita pada zona intim untuk menunjukan keakraban sehingga suasana komunikasi antarpribadi bisa terbangun. Kita pun menggunakan bahasa tubuh lainnya, seperti tatapan mata dan sentuhan. Ini menunjukan bahasa tubuh sangat penting dalam komunikasi antarpribadi karena bukan hanya membantu menyampaikan pesan tetapi juga menunjukan sikap kita terhadap lawan komunikasi


B. Strategi  meningkatkan Komunikasi

Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan atau planning dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.

Demikian pula dengan strategi komunikasi yang merupakan perpaduan antara perencanaan komunikasi dengan menajemen komunikasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan bagaimana operasional praktis yang harus dilakukan, dalam arti bahwa pendekatan bisa berbeda-beda sewaktu-waktu tergantung pada situasi dan kondisi.

 Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan komunikasi yaitu;

1.   Mengenali sasaran komunikasi

Sebelum melakukan komunikasi  seseorang  perlu mengetahui dan memahami  siapa saja yang akan menjadi sasaran komunikasi tersebut. Sudah tentu ini tergantung pada tujuan komunikasi, apakah agar komunikan hanya sekedar mengetahui ataukah agar komunikan melakukan tindakan tertentu. Apapun tujuan, metode, dan banyaknya sasaran, pada diri komunikan perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

Kerangka referensi

Kerangka referensi seseorang terbentuk dalam dirinya sebagai hasil dari perpaduan  pengalaman, pendidikan, cita-cita, gaya hidup, norma hidup, standing sosial, ideologi, dan lain-lain.

Situasi dan kondisi

Faktor situasi  ini terjadi pada saat komunikan akan menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator. Situasi yang bisa menghambat komunikasi harus bisa diantisipasi sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud kondisi adalah keadaan fisik dan psikis komunikan pada saat ia sedang menyampaikan atau   menerima pesan komunikasi. Komunikasi kita tidak akan efektif jika komunikan sedang marah, sedih, bingung, sakit, atau lapar.

2.   Pemilihan media komunikasi

Ada berbagai macam  media komunikasi yang jumblahnya banyak, mulai dari yang tradisional sampai dengan  trendy. Untuk mencapai sasaran komunikasi  kita bisa memilih salah satu atau menggabungkan beberapa media  tergantung dari tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan dipergunakan. Peran media sangatlah penting untuk membantu proses komunikasi tersebut dan  masing-masing media memiliki  kelebihan atau keunggulan dan kekurangan.

three. Pengkajian tujuan pesan

Penentuan tujuan berkomunikasi sangat penting bagi komunikator dalam berkomunikasi  karena akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan teknik yang akan diambil.

4. Peranan komunikator dalam komunikasi

Ada beberapa faktor  esensi yang harus diperhatikan oleh  komunikator melakukan komunikasi yaitu;

Daya tarik sumber

Seorang komunikator akan berhasil dalam komunikasi jika mampu mengubah sikap, opini, dan perilaku komunikan melalui mekanisme daya tarik, yakni ketika pihak komunikan merasa bahwa komunikator ikut serta dengannya. Dengan kata lain, komunikan merasa memiliki kesamaan dengan komunikator sehingga komunikan bersedia taat pada isi pesan yang disampaikan komunikator.

Kredibilitas sumber

 Faktor kedua yang bisa menyebabkan komunikasi berhasil adalah kepercayaan komunikan pada komunikator. Kepercayaan ini banyak bersangkutan dengan profesi keahlian yang dimiliki seorang komunikator.

 Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran banyak ditentukan oleh keaktifan antara pendidik dan peserta didik dalam bentuk timbal balik berupa pertanyaan, jawaban pertanyaan atau berupa perbuatan baik secara fisik maupun secara psychological. Adanya umpan balik ini memungkinkan pembelajar mengadakan perbaikan-perbaikan cara komunikasi yang pernah dilakukan. Keefektifan komunikasi dapat mengambarkan kemampuan orang dalam menciptakan suatu pesan dengan tepat, yaitu pengirim pesan dapat mengetahui bahwa penerima pesan mampu menginterprestasikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si pengirim.

Selain itu keefektifan pembelajaran sangat ditentukan oleh adanya perhatian dan minat pebelajar. Ini sesuai dengan model “AIDA singkatan dari Attention (perhatian ), Interest (minat), Desire (hasrat), dan Action (kegiatan)” . Maksudnya agar terjadi kegiatan pada diri pebelajar sebagai komunikan, maka terlebih dahulu harus dibangkitkan perhatian dan minatnya kemudian dilanjutkan dengan penyajian bahan. Dengan demikian timbul hasratnya untuk melaksanakan kegiatan, sehingga walaupun persepsinya tidak terlalu sama dalam menerima pesan tetapi perbedaannya tidak terlalu banyak. Karena secara psikologis setiap orang akan menanggapi dan memberi makna yang berbeda-beda sesuai dengan karakternya masing-masing.

Komunikasi yang jelas dalam sebuah pembelajaran adalah salah satu syarat bahwa pembelajaran berlangsung efektif. Jadi bila kita ingin menjadi guru yang efektif, marilah kita bersama-sama memperbaiki kemampuan kita berkomunikasi kepada peserta didik dalam setiap pembelajaran.

 Ada beberapa komponen dalam komunikasi pembelajaran yang efektif, yaitu:

  • Penggunaan terminologi yang tepat
  • Presentasi yang berkesinambungan dan sistematis
  • Sinyal transisi atau perpindahan topik bahasan
  • Tekanan pada bagian-bagian penting pembelajaran
  • Kesesuaian antara tingkah laku komunikasi verbal dengan tingkah laku komunikasi nonverbal.

 Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi yang efektif:

 1) Respect adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Jika kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan seseorang. Pahami bahwa seorang pendidik harus bisa menghargai setiap peserta didik yang dihadapinya. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam  berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektivitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai tim.

 Menurut Dale Carnegie dalam bukunya “How to Win Friends and Influence People”, rahasia terbesar yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam berurusan dengan manusia adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Seorang psikolog yang sangat terkenal William James juga mengatakan bahwa “Prinsip paling dalam dari sifat dasar manusia adalah kebutuhan untuk dihargai”. Dia mengatakan ini sebagai suatu kebutuhan (bukan harapan ataupun keinginan yang bisa ditunda atau tidak harus dipenuhi), yang harus dipenuhi. Ini adalah suatu rasa lapar manusia yang tak terperikan dan tak tergoyahkan.

 Lebih jauh Carnegie mengatakan bahwa setiap individu yang dapat memuaskan kelaparan hati akan menggenggam orang dalam telapak tangannya. Charles Schwaab, salah satu orang pertama dalam sejarah perusahaan Amerika yang mendapat gaji lebih dari satu juta dolar setahun, mengatakan bahwa aset paling besar yang dia miliki adalah kemampuan dalam membangkitkan antusiasme pada orang lain. Dan cara untuk  membangkitkan antusiasme dan mendorong orang lain melakukan hal–hal terbaik adalah dengan memberikan penghargaan yang tulus.

 Berikan sebuah penghargaan yang tulus kepada masing–masing peserta didik. Sehingga peserta didik dapat membedakan antara perlakuan yang tulus dan tidak tulus. Ketika memberikan penghargaan maka Anda sebagai seorang pendidik akan dihargai oleh peserta didik. 

 2)  Emphaty, kemampuan menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi orang lain. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi didunia pendidikan. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan, perilaku, dan keinginan dari peserta didik. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam membangun sebuah suasana kondusif di dalam proses belajar-mengajar. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologi atau penolakan dari penerima.

 three)  Audible  berarti “dapat didengarkan” atau bisa dimengerti dengan baik.  Sebuah pesan harus dapat disampaikan dengan cara atau sikap yang bisa diterima oleh si penerima pesan.  Raut muka yang cerah, bahasa tubuh yang baik, kata-kata yang sopan, atau cara menunjuk, termasuk ke dalam komunikasi audible.

 four) Clarity adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan transparansi.

Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme peserta didik dalam proses belajar-mengajar.

Perjelas maksud Anda dalam mengajar sesuatu, sampaikan secara sistematis dan teratur, gunakan alat bantu peraga jika memang diperlukan. Semakin peserta didik merasakan mendapat banyak ilmu dari Anda, maka peserta didik akan semakin terpacu untuk terus menghadiri dan memperhatikan pelajaran yang Anda sampaikan.

 Dengan cara seperti ini peserta didik tidak akan menganggap lagi proses belajar-mengajar sebagai formalitas tetapi akan mengganggapnya sebagai sebuah kebutuhan pokok bagi kehidupannya.

 5) Humble atau rendah hati adalah menghargai orang lain, mau mendengar, menerima kritik, tidak sombong, dan tidak memandang rendah orang lain.

Seperti yang disampaikan Wilbur Schramm, “the condition of success in communication”, yakni kondisi yang harus dipenuhi jikakita menginginkan agar suatu pesan yang membangkitkan tanggapan yang kita kehendaki dengan memperhatikan:

  • Pesan harus dirancang dan disampaikan dengan menarik.
  • Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman antara komunikator dan komunikan, sehingga dimengerti.
  • Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan.
  • Pesan  harus  menyarankan  suatu  jalan  untuk  memperoleh  kebutuhan komunikan.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana  bisa menarik  perhatian komunikan. Dengan  mendapatkan perhatian komunikan  maka kita juga akan membuat komunikan tertarik untuk mengetahui isi pesan yang disampaikan. Penyajian pesan agar menarik, jelas pada awalnya, tergantung pada packaging pesan sesuai dengan media yang akan digunakan.

Saat  menggunakan  media  cetak  misalnya,  pesan  yang  disampaikan haruslah  disajikan  dengan  menarik.  Baik  dari  segi content material materials,  maupun  tampilan secara keseluruhan. Bisa diakali dengan pemilihan font (jenis huruf), warna ataupun desain grafis secara keseluruhan.  Isi sesuai dengan konsep komunikasi yang dinamakan AIDDA, dikembangkan sekitar dasawarsa 1920-an. AIDDA merupakan singkatan dari Attention   (Perhatian)   Interest   (Minat)   Decision   (Keputusan)   dan   Action (Kegiatan).

Untuk menjadikan sebuah komunikasi akan menjadi lebih effektif maka perlu memperhatikan beberapa hal;

  1. Berikan kesan bahwa anda antusias berbicara dengan mereka. Ketika anda memberikan kesan bahwa anda sangat antusias berbicara dengan mereka dan bahwa anda peduli kepada mereka, anda membuat perasaan mereka lebih positif dan percaya diri. Mereka akan lebih terbuka kepada anda dan sangat mungkin memiliki percakapan yang mendalam dengan anda.
  2. Ajukan pertanyaan tentang minat mereka – jenis  pertanyaan terbuka akan membuat mereka berbicara tentang minat dan kehidupan mereka. Galilah sedetail mungkin sehingga akan membantu mereka memperoleh perspektif baru tentang diri mereka sendiri dan tujuan hidup mereka.
  3. Beradaptasi dengan bahasa tubuh dan perasaan mereka – Rasakan bagaimana perasaan mereka pada saat ini dengan mengamati bahasa tubuh dan nada suara. Dari sudut pandang ini, anda dapat menyesuaikan kata-kata, bahasa tubuh, dan nada suara anda sehingga mereka akan merespon lebih positif.
  4. Tunjukkan rasa persetujuan: Katakan kepada mereka apa yang anda kagumi tentang mereka dan mengapa – Salah satu cara terbaik untuk segera berhubungan dengan orang adalah dengan menjadi jujur dan memberitahu mereka mengapa anda menyukai atau mengagumi mereka. Jika menyatakan secara langsung dirasakan kurang tepat, cobalah dengan pernyataan tidak langsung. Kedua pendekatan tersebut bisa sama-sama efektif.
  5. Dengarkan dengan penuh perhatian semua yang mereka katakan – Jangan terlalu berfokus pada apa yang akan Anda katakan selanjutnya selagi mereka berbicara. Sebaliknya, dengarkan setiap kata yang mereka katakan dan responlah serelevan mungkin. Hal ini menunjukkan bahwa anda benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan dan anda sepenuhnya terlibat di dalam suasana bersama dengan mereka. Juga pastikan untuk bertanya setiap kali ada sesuatu yang tidak mengerti pada hal-hal yang mereka katakan. Anda tentu saja ingin menghindari semua penyimpangan yang mungkin terjadi dalam komunikasi jika anda ingin mengembangkan hubungan yang sepenuhnya dengan orang tersebut.
  6. Beri mereka kontak mata yang lama – kontak mata yang kuat mengkomunikasikan kepada orang lain bahwa anda tidak hanya terpikat oleh mereka dan apa yang mereka katakan tetapi juga menunjukkan bahwa anda dapat dipercaya. Ketika dilakukan dengan tidak berlebihan, mereka juga akan menganggap anda yakin pada diri anda sendiri karena kesediaan anda untuk bertemu mereka secara langsung. Akibatnya, orang secara alami akan lebih memperhatikan anda dan apa yang anda katakan.
  7. Ungkapkan diri anda sebanyak mungkin – Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan kepercayaan seseorang adalah dengan mengungkapkan diri secara terbuka. Bercerita tentang kejadian yang menarik dari hidup anda atau hanya menggambarkan contoh lucu dari kehidupan normal sehari-hari. Ketika anda bercerita tentang diri anda, pastikan untuk tidak menyebutkan hal-hal yang menyimpang terlalu jauh dari minat mereka atau bahkan berlebihan. Anda dapat membiarkan mereka mengetahui lebih jauh tentang diri anda seiring berjalannya waktu.
  8. Berikan kesan bahwa anda berdua berada di tim yang sama – Gunakan kata-kata seperti “kami, kita ” untuk segera membangun sebuah ikatan. Bila anda menggunakan kata-kata tersebut, anda membuatnya tampak seperti anda dan mereka berada di tim yang sama, sementara orang lain berada di tim yang berbeda.
  9. Berikan mereka senyuman terbaik anda – Ketika anda tersenyum pada orang, anda menyampaikan pesan bahwa anda menyukai mereka dan kehadiran mereka membawa anda kebahagiaan. Tersenyum pada mereka akan menyebabkan mereka sadar ingin tersenyum kembali pada anda yang secara langsung akan membangun hubungan antara anda berdua.
  10. Menawarkan saran yang bermanfaat – Kenalkan tempat makan yang pernah anda kunjungi, movie yang anda tonton, orang-orang baik yang mereka ingin temui, buku yang anda baca, peluang karir atau apa pun yang terpikirkan oleh anda. Jelaskan apa yang menarik dari orang-orang, tempat atau hal-hal tersebut. Jika anda memberi ide yang cukup menarik perhatian mereka, mereka akan mencari anda ketika mereka memerlukan seseorang untuk membantu membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
  11. Beri mereka motivasi – Jika orang yang anda hadapi lebih muda atau dalam posisi yang lebih sulit dari anda, mereka mungkin ingin mendengar beberapa kata motivasi dari anda karena anda lebih berpengalaman atau anda tampaknya menjalani kehidupan dengan baik . Jika anda ingin memiliki hubungan yang sehat dengan orang tersebut, anda tentu saja tidak ingin tampak seperti anda memiliki semuanya sementara mereka tidak. Yakinkan mereka bahwa mereka dapat melampaui masalah dan keterbatasan mereka, sehingga mereka akan berharap menjadikan anda sebagai teman yang enak untuk diajak bicara.
  12. Tampil dengan tingkat energi yang sedikit lebih tinggi dibanding orang lain – Umumnya, orang ingin berada di sekitar orang-orang yang akan mengangkat mereka, bukannya membawa mereka ke bawah. Jika anda secara konsisten memiliki tingkat energi yang lebih rendah daripada orang lain, mereka secara alami akan menjauh dari Anda menuju seseorang yang lebih energik. Untuk mencegah hal ini terjadi, secara konsisten tunjukkan dengan suara dan bahasa tubuh anda bahwa anda memiliki tingkat energi yang sedikit lebih tinggi sehingga mereka akan merasa lebih bersemangat dan positif berada di sekitar Anda. Namun jangan juga anda terlalu berlebihan berenergik sehingga menyebabkan orang-orang tampak seperti tidak berdaya. Energi dan gairah yang tepat akan membangun antusiasme mereka.
  13. Sebut nama mereka dengan cara yang menyenangkan telinga mereka – nama seseorang adalah salah satu kata yang memiliki emosional yang sangat kuat bagi mereka. Tapi hal itu belum tentu seberapa sering anda katakan nama seseorang, namun lebih pada bagaimana anda mengatakannya. Hal ini dapat terbantu dengan cara anda berlatih mengatakan nama seseorang untuk satu atau dua menit sampai anda merasakan adanya emosional yang kuat. Ketika anda menyebutkan nama mereka lebih menyentuh dibanding orang lain yang mereka kenal, mereka akan menemukan bahwa anda lah yang paling berkesan.
  14. Tawarkan untuk menjalani hubungan selangkah lebih maju – Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk memajukan persahabatan anda dengan seseorang: tawaran untuk makan dengan mereka, berbicara sambil minum kopi, melihat pertandingan olahraga, dll. Meskipun jika orang tersebut tidak menerima tawaran anda, mereka akan tetap tersanjung bahwa anda ingin mereka menjalani persahabatan ke tingkat yang lebih dalam. Di satu sisi, mereka akan memandang anda karena anda memiliki keberanian untuk membangun persahabatan bukan mengharapkan persahabatan yang instan.

C.   Melaksanakan Komunikasi dalam Pembelajaran

(Melaksanakan komunikasi efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi kegiatan/permainan yang mendidik)

Proses Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses, bukan sesuatu yang bersifat statis. Komunikasi memerlukan tempat, dinamis, menghasilkan perubahan dalam usaha mencapai hasil, melibatkan interaksi bersama, serta melibatkan suatu kelompok.

Pengirim pesan melakukan encode, yaitu memformulasikan pesan yang akan disampaikannya dalam bentuk code yang sedapat mungkin dapat ditafsirkan oleh penerima pesan. Penerima pesan kemudian menafsirkan atau males-decode code yang disampaikan oleh pengirim pesan. Jika dilihat dari prosesnya, komunikasi dibedakan atas komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan bahasa, baik bahasa tulis maupun bahasa lisan. Sedangkan komunikasi nonoverbal adalah komunikasi yang menggunakan isyarat, gerak gerik, gambar, lambing, mimik muka, dan sejenisnya.

Menurut Endang Lestari G dalam bukunya yang berjudul “Komunikasi yang Efektif” ada dua model proses komunikasi, yaitu :

Model ini mempunyai ciri sebuah proses yang hanya terdiri dari dua garis lurus, dimana proses komunikasi berawal dari komunikator dan berakhir pada komunikan. Berkaitan dengan mannequin ini ada yang dinamakan Formula Laswell. Formula ini merupakan cara untuk menggambarkan sebuah tindakan komunikasi dengan menjawab pertanyaan: who, says what, in wich channel, to whom, dan with what impact.

Model ini ditandai dengan adanya unsur umpan balik (suggestions). Pada hakekatnya mannequin sirkuler ini merupakan proses komunikasi yang berlangsung dua arah. Melalui mannequin ini dapat diketahui efektif dan tidaknya suatu komunikasi, karena komunikasi dikatakan efektif apabila terjadi umpan balik dari pihak penerima pesan.

Proses komunikasi dapat berlangsung satu arah dan dua arah. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang terjadi adanya arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Dalam proses komunikasi yang baik akan terjadi tahapan pemaknaan terhadap pesan (which means) yang akan disampaikan oleh komunikator, kemudian komunikator melakukan proses encoding, yaitu interpretasi atau mempersepsikan makna dari pesan tadi, dan selanjutnya dikirim kepada komunikan melalui channel yang dipilih. Pihak komunikan menerima informasi dari pengirim dengan melakukan proses decoding, yaitu menginterpretasi pesan yang diterima, dan kemudian memahaminya sesuai dengan maksud komunikator. Sinkronisasi pemahaman antara komunikan dengan komunikator akan menimbulkan respon yang disebut dengan umpan balik.

Desain Pesan dalam Pembelajaran

Pembelajaran merupakan sebuah proses komunikasi yang dilakukan secara sengaja dan terencana, karena memiliki tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Agar pesan pembelajaran yang ingin ditransformasikan dapat sampai dengan baik, maka  perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut; Malcolm sebagaimana disampaikan oleh Abdul Gaffur dalam handout kuliah Teknologi Pendidikan PPs UNY (2006) menyarankan agar pendidik perlu mendesain pesan pembelajaran tersebut dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

Kesiapan disini mencakup kesiapan psychological dan fisik. Untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam menerima belajar dapat dilakukan dengan tes diagnostik atau tes prasyarat. Ada dua jenis motivasi yaitu inside dan eksternal, yang dapat ditumbuhkan dengan pemberian penghargaan, hukuman, serta deskripsi mengenai keuntungan dan kerugian dari pembelajaran yang akan dilakukan.

Pada dasarnya perhatian manusia adalah sangat flrksibel dan cenderung sering berubah-ubah. Sehingga dalam mendesain pesan belajar, pendidik harus pandai-pandai membuat daya tarik  guna mengendalikan perhatian peserta didik pada saat belajar.  Sedangkan penarik perhatian dapat dilakukan melalui: warna, efek musik, pergerakan/perubahan, humor, kejutan, ilustrasi verbal dan seen, serta sesuatu yang aneh.

  •     Partisipasi Aktif Peserta didik

Pendidik  harus mampu dan berusaha untuk membuat peserta didik aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu cara untuk menumbuhkan keaktifan peserta didik dapat melakukan rangsangan-rangsangan berupa : tanya jawab, praktik dan latihan, drill, membuat ringkasan, kritik dan komentar, serta pemberian proyek (tugas).

Agar peserta didik dapat menerima dan memahami materi dengan baik, maka penyampaian materi sebaiknya dilakukan berulang kali.

Dalam proses pembelajaran sebagaimana yang terjadi pada komunikasi perlu adanya umpan balik yang tepat dan sesuai oleh pendidik. Sehingga Umpan balik tersebut dapat memotivasi dan memberikan semangat bagi peserta didik. Umpan balik yang diberikan dapat berupa : informasi kemajuan belajar peserta didik, penguatan terhadap jawaban benar, meluruskan jawaban yang keliru, memberi komentar terhadap pekerjaan peserta didik, dan dapat pula memberi umpan balik yang menyeluruh terhadap performansi peserta didik.

  •     Materi relevan degan peserta didik

Agar materi pelajaran yang diterima peserta belajar tidak menimbulkan kebingungan atau bias dalam pemahaman, maka sedapat mungkin harus dihindari materi-materi yang tidak relevan dengan topik yang dibicarakan. Dalam mendesain pesan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : materi yang disajikan hanyalah informasi yang penting, memberikan define materi, memberikan konsep-konsep kunci yang akan dipelajari, membuang informasi distraktor, dan memberikan topik diskusi.


Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran

Komunikasi yang efektif terjadi apabila terdapat aliran informasi dari dua arah antara komunikator dengan komunikan dan informasi tersebut sama-sama direspon dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut memahaminya. Ada 5 aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif, yaitu :

Komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi secara jelas sehingga mudah diterima dan dipahami.

Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan.

Konteks atau sering disebut dengan situasi, adalah bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan  dimana komunikasi itu terjadi.

Bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap

Komunikasi tidak hanya berhubungan dengan bahasa saja tetapi perlu memperhatikan tatakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi. (Endang Lestari G : 2003)

Menurut Santoso Sastropoetro (Riyono Pratikno : 1987) berkomunkasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan, atau sering disebut dengan “the communication is in tune”. Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, harus dipenuhi beberapa syarat :

  • menciptakan suasana komunikasi yang menguntungkan
  • menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti
  • pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi pihak komunikan
  • pesan dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan
  • pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan.

Dalam sebuah proses pembelajaran, komunikasi dikatakan efektif jika pesan yang merupakan materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik dapat diterima dan dipahami, serta menimbulkan umpan balik yang positif dari peserta didik. Komunikasi efektif dalam pembelajaran harus didukung dengan keterampilan komunikasi antar pribadi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung secara casual antara dua orang individu. Komunikasi ini berlangsung dari hati ke hati, karena diantara keduabelah pihak terdapat hubungan saling mempercayai. Komunikasi antar pribadi akan berlangsung efektif apabila pihak yang berkomunikasi menguasai keterampilan komunikasi antar

Dalam kegiatan belajar mengajar, komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta didik. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar ini sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi seorang pengajar memiliki tanggung jawab terhadap keefektipan berkomunikasi dalam proses pembelajaran. Keberhasilan pengajar dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi ini.

Sokolove dan Sadker seperti dikutip IGAK Wardani dalam bukunya membagi keterampilan antar pribadi dalam pembelajaran menjadi tiga kelompok, yaitu :

Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan peserta didik.

Kemampuan yang berkaitan dengan penciptaan iklim yang positif dalam proses belajar mengajar. Pendidik mampu memotivasi peserta didik untuk dapat mengungkapkan perasaan atau masalah yang dihadapinya tanpa merasa dipaksa atau dipojokkan. Iklim semacam ini dapat ditumbuhkan oleh pendidik dengan dua cara, yaitu menunjukkan sikap memperhatikan dan mendengarkan dengan aktif. Untuk menumbuhkan iklim semacam ini,

Kemampuan menjelaskan perasaan yang diungkapkan peserta didik.

Apabila peserta didik telah bebas mengungkapkan drawback yang dihadapinya, selanjutnya tugas pendidik adalah membantu mengklarifikasi ungkapan perasaan mereka tersebut. Untuk kepentingan ini, pendidik perlu menguasai dua jenis keterampilan, yaitu merefleksikan dan mengajukan pertanyaan inventori. Pertanyaan inventori adalah pertanyaan yang menyebabkan orang melacak pikiran, perasaan, dan perbuatannya sendiri, serta menilai kefektifan dari perbuatan tersebut. Pertanyaan inventori dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu pertanyaan yang menuntut peserta didik untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya, pertanyaan yang menggiring peserta didik untuk mengidentifikasi pola-pola perasaan, pikiran, dan perbuatannya, dan pertanyaan yang menggiring peserta didik untuk mengidentifikasi konsekuensi/akibat dari perasaan, pikiran, dan perbuatannya.

 Agar dapat merefleksikan ungkapan perasaan peserta didik secara efektif, pengajar perlu mengingat hal-hal berikut :

  • Hindari prasangka terhadap pembicara atau topik yang dibicarakan.
  • Perhatikan dengan cermat semua pesan verbal maupun nonoverbal dari pembicara.
  • Lihat, dengar, dan rekam dalam hati, kata-kata/perilaku khas yang diperlihatkan pembicara.
  • Bedakan/simpulkan kata-kata/pesan yang bersifat emosional.
  • Beri tanggapan dengan cara memparaphrase kata-kata yang diucapkan, menggambarkan perilaku khusus yang diperlihatkan, dan tanggapan mengenai kedua hal tersebut.
  • Jaga nada suara, jangan sampai berteriak, menghakimi, atau seperti memusuhi.
  • Meminta klarifikasi terhadap pertanyaan atau pernyataan yang disampaikan.
  • Mendorong Peserta didik untuk Memilih Perilaku Alternatif.

Komunikasi dan interaksi didalam kelas dan diluar kelas sangat menentukan efektivitas dan mutu pendidikan. Pendidik mempunyai peran untuk menjelaskan sedang peserta didik yang bertanya, berbicara dan mendengarkan yang terjadi silih berganti, semuanya itu merupakan bagian dari pendidikan yang penting serta berlaku dalam kehidupan. Bertanya pun harus jelas serta menggunakan bahasa yang baik dan benar, supaya diperoleh jawaban yang baik dan benar pula. Mereka yang pandai mendengarkan sangatlah beruntung karena dapat belajar dan mendapatkan informasi lebih banyak. Peserta didik hendaknya diberi motivasi untuk bertanya tentang sesuatu yang belum jelas atau masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dengan demikian pendidik dipacu untuk senantiasa mengikuti perkembangan dan peserta didik memahami semua materi yang dibahas.

Keberhasilan pendidikan salah satu faktornya tidak lepas dari keberhasilan proses pembelajaran. Ketika proses pembelajaran didukung oleh kemampuan pendidik dalam memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi dan berkontribusi serta keterlibatan dalam pembelajaran. Jika proses pembelajaran sangat menarik maka peserta didik akan merasa senang  dan merasa perlu mengikuti proses belajar mengajar. Secara tidak langsung pendidik akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi serta dapat membaca pikiran atau gagasan peserta didik. Jika dalam pembelajaran terjadi komunikasi yang efektif antara pengajar dengan peserta didik, maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran tersebut berhasil.

D. Kesimpulan

Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian atau penerimaan pesan antara dua orang atau lebih.  Sedangkan pesan bentuknya berupa komunikasi lisan, komunukasi tulisan, komunikasi verbal, komunikasi non verbal. Komunikasi tulisan adalah proses penyampaian pesan dengan menggunakan kata-kata dalam bentuk tulisan yang memilki makna tertentu. Dengan kata lain bahwa komunikasi tulisan adalah kegiatan komunikasi yang menggunakan sarana tulisan yang dapat menggambarkan atau mewakili komunikasi lisan termasuk kedalamnya adalah menulis dan membaca.

Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi yang disampaikan  pendidik kepada peserta didik, sehingga  peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi untukmenciptakan  perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pendidik merupakan orang yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam proses pembelajaran.

Pendidik yang menguasai beberapa strategi dan teknik komunikasi dan mampu mengembangkanya maka secara otomatis akan meningkatkan kemampuan untuk berhubungan dengan berbagai macam orang.Seorang pendidik bisa menciptakan dan mengembangkan  komunikasi yang efektif melaluipenyusunan dan pembuatan materi pembelajaran yang bisa diterima dan mudah dipahami oleh peserta didik.

Dalam komunikasi pendidikan, seorang pendidik  harus mempunyai komunikasi pribadi yang baik. Dengan demikian ia akan  berpengaruh dalam menciptakan hubungan harmonis antara pendidik dan peserta didiknya.  Seorang pendidik juga harus mempunyai peranan yang penting untuk bisa mengendalikan kondisi kelas yang sehat karena merupakan tolak ukur keberhasilan.

Bahasa tubuh merupakan bagian yang sangat penting dalam komunikasi manusia yang merupakan bagian komunikasi nonverbal. Untukdapat menyampaikan pesan-pesannya sendiri maka  harus bisa memahami maksud komunikasi seseorang melalui bahasa tubuhnya. Hal lain yang penting dari bahasa tubuh dalam komunikasi umumnya dan komunikasi antar pribadi khususnya adalah membantu efektivitas komunikasi kita.

RUJUKAN

  1. Devito,  Joseph  A.  (1996).  Human  Communication.  Alih  bahasa  oleh  Maulana,  Agus.  (1997).  Komunikasi  Antar Manusia.Jakarta:ProfessionalBooks.
  2. Devito,Joseph A.(1992).TheInterpersonalCommunicationBook.SixthEdition.NewYork:HarperCollinsPublishers.
  3. Gurnitowati, Endang Lestari; Maliki,M.A. (2001). Komunikasi Yang Efektif Bahan Ajar Diklat Prajabatan Golongan III. Jakarta:LembagaAdministrasiNegaraRepublikIndonesia.
  4. Mulyana,Deddy.(2002).Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.
  5. Mulyana,Deddy.(2000).IlmuKomunikasi:Suatu Pengantar.Bandung:PT.RemajaRosdakarya.
  6. Pepper,GeraldL.(1995).CommunicatingInOrganizations:ACulturalApproach.InternationalEditions.NewYork: McGraw-Hill,Inc.
  7. Sastrodiningrat, Soebagio;dkk. (1986). Perilaku Administrasi.  Jakarta: Karunika Universitas Terbuka. Sendjaja, Djuarsa; dkk.(1994).TeoriKomunikasi,Jakarta:UniversitasTerbuka.
  8.  Soeprapto,H.R.Riyadi.(2002).InteraksiSimbolik;PerspektifSosiologiModern.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
  9.  Triguno.(2000).BudayaKerja;MenciptakanLingkunganyangKondusiveUntukMeningkatkanProduktivitasKerja.
  10.  Jakarta:PT.GoldenTerayon Press.
  11.  Tubbs,StewartL.;Moss,Sylvia;EditorMulyana,Deddy.(1996).HumanCommunication:Konteks-KonteksKomunikasi.
  12.  BukuKedua.Bandung:PT.RemajaRosdakarya.
  13.  Veeger,K.J.Redaksi: Bertens,K .dan Nugroho,A.A. (1993). Realitas Sosial; refleksi filsafat sosial atas hubungan individu-masyarakat dalam sejarah sosiologi. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.
  14.  http://grandmall10.wordpress.com/2010/10/20/peran-komunikasi-terhadap-lancarnya-proses-belajar-mengajar/ diakses pada tgl.12 Februari  2015 pkl.19.00.
  15.  http://yogoz.wordpress.com/2011/02/12/komunikasi-pembelajaran/#more, diakses pada 11 Maret  2015, pkl.20.00.
  16.  Gafur, Abdul. (2006). Handout Kuliah Landasan Teknologi Pendidikan. PPs UNY. Yogyakarta
  17.  Lestari G, Endang dan Maliki, MA. (2003). Komunikasi yang Efektif. Lembaga Administrasi Negara. Jakarta.
  18.  Wardani, IGAK. (2005). Dasar-Dasar Komunikasi dan Keterampilan Dasar Mengajar. PAU-DIKTI DIKNAS. Jakarta.

Aris Dwi Cahyono, M.Pd.
Widyaiswara Madya Progli Manajemen Pendidikan Vokasi
PPPPTK BOE Malang

Categories
Uncategorized

Komunikasi Terapeutik Dalam Keperawatan

Komunikasi merupakan komponen penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab hanya dengan berkomunikasi, seseorang  bisa menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya kepada orang lain. Baik itu untuk menyampaikan informasi maupun untuk mendapatkan informasi dan semacamnya. Dalam bidang keperawatan, komunikasi juga mutlak diperlukan. Salah satunya komunikasi antara perawat dengan pasiennya.

Dalam bidang keperawatan,  komunikasi merupakan metoda utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan. Dalam hal ini,  perawat dituntut  untuk memiliki keterampilan berkomunikasi secara terapeutik. Kominikasi yang dijalin oleh perawat dengan pasiennya dalam proses keperawatan ini disebut dengan komunikasi terapeutik.

Komunikasi terapeutik dalam keperawatan bukan hanya sekedar komunikasi biasa, komunikasi ini dilakukan oleh perawat untuk membantu/ mendukung proses penyembuhan pasien. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini akan PakarKomunikasi jelaskan mengenai komunikasi terapeutik dalam keperawatan

Baca juga:

Pengertian Komunikasi Terapeutik

Berikut pengertian komunikasi terapeutik dalam keperawatan menurut beberapa ahli:

  • Northouse (1998): Komunikasi terapeutik adalah kemampuan perawat dalam membantu klien untuk dapat beradaptasi dengan stress yang dialaminya. Serta mengatasi gangguan psikologis, dan belajar untuk berhubungan baik dengan orang lain. (baca: Teori Semiotika Ferdinand De Saussure)
  • Stuart G.W (1998): komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara  perawat dan pasiennya. Dimana dalam hubungan ini, perawat dan klien bersama-sama belajar untuk memperbaiki pengalaman emosional klien. (baca: Sistem Pers di Indonesia)
  • Sundeen (1990): hubungan terapeutik merupakan sebuah hubungan kerjasama. Hubungan ini ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman antara perawat dan pasien untuk membina hubungan intim yang terapeutik. (Baca: Komunikasi Asertif)
  • Mahmud Machfoedz (2009): Komunikasi Terapeurik merupakan pengalaman interaktif antara perawat dan pasien ya ng didapatkan secara bersama melalui komunikasi. Komunikasi disini bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang pasien hadapi. (baca: Jurnalistik Televisi)
  • Wahyu Purwaningsih dan Ina Karlina (2010): komunikasi terapeutik berfokus pada klien dalam memenuhi kebutuhan klien, serta memiliki tujuan spesifik, dan batas waktu yang ditetapkan bersama. Merupakan hubungan timbal balik saling berbagi perasaan yang berorientasi pada masa sekarang.

Baca juga:

2. Tujuan Komunikasi Terapeutik

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, fokus komunikasi terapeutik dalam keperawatan adalah penyembuhan pasien. Berikut rincian tujuan dilakukannya komunikasi terapeutik:

  • Terjadinya perubahan dalam diri pasien dalam bentuk kesadaran diri serta penerimaan diri yang diikuti peningkatan akan penghormatan diri, sehingga pasien terhindar dari rasa stress dan depresi akibat penyakit kronis yang dideritanya. (baca: Model Komunikasi)
  • Pasien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain, sehingga memiliki kemampuan dalam membina hubungan intrapersonal yang tidak superficial serta saling bergantung.
  • Meningkatkan fungsi dan kemampuan pasien dalam mencapai tujuan dan penetapan tujuan yang realistis, sesuai dengan kemampuan pasien. Tidak terlalu tinggi (perfect) atau terlalu rendah (rendah diri).
  • Meningkatnya integritas diri pasien, dan kejelasan akan identitas dirinya. Biasanya pasien menggalami gangguan identitas personal, dan rendah diri. (baca: Jenis Metode Penelitian Kualitatif)

Baca juga:

three. Prinsip Komunikasi Terapeutik

Menurut Suryani (2005), komunikasi terapeutik dalam keperawatan mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:

A. Melihat permasalahan dari sudut pandang pasien

Untuk dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi pasien, perawat harus memandang masalah tersebu dari sudut pandang klien. Perawat hendaknya mendengarkan secara aktif dan sabar apa yang dikomunikasikan oleh pasien, sehingga perawat menyimak keseluruhan masalah dan dapat merumuskan diagnosa yang sesuai dengan masalah klien dengan baik. Karna diagnose yang salah, bukannya memperbaiki,  malah akan bisa merusak pasien.

B. Tidak mudah dipengaruhi masa lalu pasien dan masalalu perawat sendiri

Seseorang tidak akan mampu berbuat yang terbaik saat ini, jika dia masih dihantui oleh penyesalan masa lalunya. Perawat yang memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan dalam hidupnya, akan sulit untuk dapat membantu pasien, sebelum dia sendiri menyelesaikan masalah pribadinya tersebut.

C. Empati bukan simpati

dengan sikap empati, perawat akan mampu merasakan dan memikirkan masalah yang dialami pasien dari sudut pandang klien. Namun perawat tidak larut dalam masalah tersebut, sehingga dapat melihat masalah secara objektif dan dapat memberikan alternatif pemecahan masalah. (baca: Konvergensi Media)

D. Menerima apa adanya

Penerimaan yang tulus dari perawat akan membuat pasien merasa aman dan nyaman, sehingga hubungan terapeutik dapat berjalan dengan baik. Perawat hendaknya tidak memberikan penilaian atau kritik terhadap pasien, karna itu menunjukkan bahwa perawat tidak menerima pasien apa adanya. (baca: Fotografi Jurnalistik)

Prinsip Lainnya:

  • Kejujuranuntuk dapat membina hubungan saling percaya, diperlukan kejujuran. Pasien akan jujur dan terbuka hanya jika dia yakin perawat juga jujur sehingga dapat dipercaya.
  • Ekspresif, tidak membingungkan: perawat sebaiknya menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan didukung oleh komunikasi nonverbal. (baca: Teori Komunikasi Kelompok)
  • Bersikap positif: perawat hendaknya bersikap hangat, penuh pernghargaan dan perhatian yang tulus terhadap pasien. (baca: Teknik Dasar Fotografi)
  • Sensitif terhadap perasaan pasien: perawat harus mampu untuk peka akan perasaan yang dialami pasien,. Ini sangat penting agar perawat tidak melakukan pelanggaran batas, privasi, atau menyinggung perasaan pasien.

Baca juga:

four. Metode Komunikasi Terapeutik

Stuart dan Sundeen dalam buku ‘Buku Saku Keperawatan Jiwa’ (1998 ) menyebutkan metode atau teknik yang digunakan dalam komunikasi terapeutik dalam bidang keperawatan antara lain:

  • Mendengarkan dengan penuh perhatian: perawat harus menjadi pendengar yang aktif, beri kesempatan pasien untuk lebih banyak berbicara. Dengan begitu perawat dapat mengetahui perasaan pasien.
  • Menunjukkan penerimaan: menerima bukan berarti menyetujui, namun kesediaan untuk mendengarkan tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan akan apa yang dikatakan pasien.
  • Menanyakan pertanyaan yang berkaitan: ini dilakukan untuk mendapatkan informasi spesifik mengenai hal yang diampaikan pasien. (baca: Analisis Framing)
  • Mengulangi ucapan klien menggunakan kata-kata sendiri: ini dilakukan untuk mendapatkan umpan balik. Bahwa perawat mengerti pesan pasien, dan berharap komunikasi dilanjutkan kembali.
  • Mengklasifikasi: usaha perawat untuk menjelaskan kata-kata ide atau pikiran yang kurang jelas dari pasien.
  • Memfokuskan: Bahan pembicaraan dibatasi agar pembicaraan lebih spesifik.
  • Menyatakan hasil observasi: perawat menguraikan kesan yang didapatnya dari isyarat nonverbal yang dilakukan pasien. (baca: Strategi Komunikasi Pemasaran)
  • Menawarkan informasi: memberikan tambahan informasi yang bertujuan untuk memfasilitasi klien dalam mengambil keputusan. (baca: Etnografi Komunikasi)
  • Diam: dengan diam, pasien dan perawat memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Mengorganisir pikiran dan memproses informasi yang didapatkan.
  • Meringkas: pengulangan ide utama secara singkat. (baca: Teori Efek Media Massa)
  • Memberi penghargaan kepada pasien.
  • Memberi pasien kesempatan untuk memulai pembicaraan, memberi inisiatif dalam memilih topic pembicaraan. (baca: Nilai Berita)
  • Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan, dalam metoda ini perawat memberikan pasien kesempatan untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan yang berlangsung.
  • Menempatkan kejadian secara berurutan, untuk membantu perawat juga pasien melihatnya dalam suatu perspektif. (baca: Prospek Kerja Ilmu Komunikasi)
  • Memberikan pasien kesempatan untuk menguraikan persepsinya.
  • Refleksi: memberikan pasien kesempatan untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya. (baca: Pengertian Jurnalistik Menurut Para Ahli)

Baca juga:

5. Tahap-Tahap Komunikasi Terapeutik

Berikut tahapan komunikasi terapeutik dalam keperawatan, diantaranya:

  • Tahap Persiapan/ Pra-interaksi:

Pada tahap ini perawat mengeksplorasi perasaannya,  menganalisis  kelebihan dan kekurangan dirinya, dan mengumpulkan informasi mengenai pasiennya. Kemudian merencanakan pertemuan pertama dengan pasien. Ini dilakukan untuk mengurangi rasa cemas yang mungkin dialami perawat ketika pertamakali melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien. (baca: Paradigma Komunikasi)

  • Tahap Perkenalan/ Orientasi:

Tahap ini selalu dilakukan ketika dikalukan pertemuan dengan pasien. Tujuannya untuk memvalidasi keakuratan information dan rencana yang telah dibuat. Dalam tahap ini mperawat membina rasa saling percaya, menggali pikiran dan perasaan pasien,meindentifikasi masalah, dan merumuskan tujuan interaksi.

Tahap ini merupakan inti proses komunikasi terapeutik. Dalam tahap ini perawat dituntut untuk dapat membantu klien menyampaikan perasaan dan pikirannya, lalu menganalisis pesan yang disampaikan serta respon pasien dan mendefinisikan masalah yang dihadapi pasien serta mencari pemecahan masalahnya.

Tahap ini dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir. Terminasi sementara merupakan akhir sesi pertemuan dimana perawat dan pasien masih akan bertemu kembali di sesi pertemuan lain. Terminasi akhir dilakukan perawat setelah semua proses keperawatan telah selesai dilaksanakan. Dalam tahap ini perawat mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi, serta tindak lanjutnya (untuk terminasi sementara).

Demikian penjelasan terkait Komunikasi terapeutik dalam keperawatan.

Artikel Komunikasi Lainnya

Categories
Uncategorized

4 Jenis Komunikasi

Ada lebih dari a hundred and fifty negara di dunia dengan keberagaman Bahasa yang dimiliki oleh masing-masing negara. Tidak hanya itu, Indonesia yang terhampar dari Sabang sampai Merauke, ditambah dengan berbagai latar belakang, suku dan budaya yang ada, tentunya melahirkan berbagai jenis komunikasi yang berbeda-beda. 

Tidak dapat disangkal lagi bahwa saya dan semua pembaca Career Advice pasti memiliki cara berkomunikasi yang unik satu sama lain. Dan, ini tidak hanya berlaku dalam kehidupan pribadi kita saja, namun juga di tempat kerja. 

Dari berbagai macam jenis komunikasi yang dimiliki setiap orang itu lah, kita akan bertemu dengan sebagian orang yang cocok dengan kita, dan sebagiannya lagi sangat menjengkelkan untuk diajak berkomunikasi. 

Nah pada artikel kali ini, kami ingin mengajak semua rekan-rekan Career Advice untuk mengenal four jenis komunikasi yang berbeda-beda. Dengan mengenal empat jenis komunikasi tersebut, ini akan sangat bermanfaat bagi kita di tempat kerja. Kita juga akan tahu jenis komunikasi apa yang selama ini kita terapkan, walaupun seseorang mungkin bisa memiliki lebih dari satu jenis komunikasi yang ada. 

1. Fungsional

Untuk mengetahuinya dengan lebih jelas, komunikator fungsional ini akan memahami dengan betul segala hal yang perlu mereka persiapkan dan lakukan sebelum mereka memulai suatu proyek. Mereka ingin semuanya dilakukan dengan persiapan yang sangat rinci. 

Hasilnya? Para komunikator yang menerapkan gaya fungsional sangat jarang melakukan kesalahan besar, karena mereka sangat terperinci dan bekerja dengan persiapan yang sangat matang. 

Begitu banyak orang yang menyukai cara kerja mereka, karena setiap ada kesalahan yang terjadi, dengan pasti para komunikator ini dapat menebaknya. 

2. Pribadi

Apakah rekan-rekan Career Advice pernah bertemu dengan seorang yang sangat bersikap diplomatis dan sangat hebat dalam memecahkan konflik? Jika “ya”, itu adalah salah satu ciri yang dimiliki oleh para komunikator dengan gaya pribadi. 

Para komunikator yang menggunakan ini sangat menghargai tata Bahasa dan koneksi emosional. Mereka bukan hanya mempertimbangkan apa yang orang lain katakan dan apa yang mereka pikirkan, namun juga apa yang mereka rasakan. Dalam kata lain, mereka sangat percaya bahwa “saat merasa ragu, kita perlu mengikuti kata hati”. Itulah mengapa mereka sangat menjaga hubungan dengan orang lain, terutama dengan rekan-rekan kerja, agar tetap harmonis. 

Positifnya, mereka yang memiliki gaya komunikasi ini cenderung memiliki hubungan pribadi yang mendalam dengan orang-orang di sekitarnya, mereka dapat menjadi penyatu dengan semua orang. 

Bagaimana dengan sisi negatifnya? Komunikator pribadi ini dianggap terlalu “menyentuh” kehidupan orang lain, yang mana tidak semua orang suka diperlakukan seperti ini, terutama para komunikator analitis. 

Penasaran seperti apa komunikator analitis yang dimaksud? Yuk, baca poin selanjutnya.

3. Analitik

Seperti namanya yaitu, analitik. Para komunikator analitik sangat menyukai angka dan data-data yang jelas. Komunikator yang menerapkan gaya analitik dan fungsional memiliki persamaan, yang mana mereka cenderung kurang emosional. 

Pernah melihat seseorang yang berbicara dengan langsung kepada poinnya? Jika “ya”, ini adalah ciri-ciri dari komunikator analitik. Mereka tidak suka berbicara dengan berbelit-belit atau dengan Bahasa yang ambigu. Mereka menyukai percakapan secara langsung dan benar-benar menjelaskan, bahwa sesuatu yang berwarna hitam, ya hitam. Apabila putih, ya putih. Bukan abu-abu yang tidak jelas apakah itu hitam atau putih. 

Tidak hanya itu, mereka juga pembuat keputusan yang ulung, tentunya bukan berdasarkan opini yang mereka miliki, namun segala keputusan diambil berdasarkan angka dan data legitimate yang mereka miliki. 

Saat mereka mengambil keputusan, biasanya dilakukan tanpa perasaan emosional sedikitpun. Itulah mengapa kesan “dingin sedingin salju” sangat melekat pada diri mereka. 

Positifnya, dengan sikap mereka yang sangat analitik, mereka dapat melihat setiap masalah dengan sangat logis. Namun, mereka sering terlihat seperti robotic karena sikap mereka yang sangat kaku. 

4. Intuitif

Kebalikan dari komunikator fungsional, para komunikator intuitif sangat tidak suka terjebak dengan segala sesuatu yang terlalu banyak element. Namun, mereka suka untuk melihat gambaran besarnya. 

Para komunikator ini memang sangat hebat dalam melihat gambaran besar, sayangnya mereka adalah tipe orang yang tidak sabaran. Dikarenakan mereka bukan orang yang suka untuk mengetahui segala component yang ada, ini membuat mereka selalu ingin melompat kepada kesimpulan atau poin-poin signifikan lainnya. Tanpa omong kosong dan tidak bertele-tele.  

Lalu, Bagaimana Cara Bekerja dengan Berbagai Jenis Komunikasi?

1. Cara Bekerja dengan Komunikator Fungsional

Mari kita ingat-ingat kembali, sebelumnya sudah dijelaskan bahwa komunikator fungsional sangat suka melihat element dari keseluruhan gambar. Nah, saat rekan pembaca menghadapi komunikator dengan gaya ini, coba tunjukkan rencana lengkap tentang apa yang akan kita bicarakan dengan mereka.

Komunikator fungsional juga sangat suka mendapatkan umpan balik. Berikan mereka masukan tentang bagaimana kinerja mereka. Mereka biasanya terbuka terhadap umpan balik dari rekan-rekan mereka.

Jika mereka mengajukan banyak pertanyaan, biarkan saja. Karena seorang komunikator fungsional memang akan bekerja dengan sangat baik jika mereka menanyakan segala hal dengan rinci. 

2. Cara Bekerja dengan Komunikator Pribadi

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa komunikator pribadi akan sangat menjaga hubungan mereka dengan orang-orang di sekitarnya. Untuk menghadapi dan bekerja sama dengan baik bersama para komunikator pribadi, coba diskusikan segala hal yang memang kita memerlukan masukan dari orang lain. 

Komunikator pribadi sangat senang diajak berbincang banyak hal. Ya, memang tidak harus menanyakan hal pribadi kita kepada mereka sih. Tapi dengan melakukan hal ini, mereka akan lebih merasa nyaman dengan kita. Sehingga, hubungan pekerjaan yang lain akan lebih mudah. 

Hal yang perlu kita jauhi adalah hindari memberikan information metrik dan angka kepada para komunikator pribadi. Kenapa? Karena mereka tidak suka dengan hal-hal tersebut. Sebenarnya mereka bisa berkomunikasi dengan information, tapi tidak semua information akan dilihat sampai habis. 

3. Cara Bekerja dengan Komunikator Analitik

Nah, jika kita ingin berkomunikasi dengan komunikator analitik, jangan lupa untuk membawa angka serta data-data yang valid sebagai pendukung pembicaraan Anda. Data adalah segalanya bagi para komunikator analitik. Semakin banyak knowledge yang diberikan, maka alur perbincangan dengan mereka akan semakin lancar. Segala keputusan yang mereka buat akan selalu berdasarkan dengan angka dan data-info legitimate yang ada, bukan berdasarkan perasaan atau emosi belaka. 

four. Cara Bekerja dengan Komunikator Intuitif

Singkat, padat dan manis. Ini adalah hal yang sangat diinginkan oleh para komunikator intuitif saat melakukan perbincangan dengan orang lain. Mereka tidak ingin bertele-tele, hanya ingin melihat gambaran secara besar. Jadi saat kita berkomunikasi dengan mereka, cukup berikan gambaran yang besar, tidak perlu terperinci. 

Jika rekan pembaca tetap ingin memberikan component, tidak masalah. Tetapi, pastikan element yang diberikan adalah yang paling signifikan. Karena kalau tidak, mereka akan kehilangan kesabaran untuk mendengarkannya. 

Nah karena para komunikator intuitif suka melihat keseluruhan gambar, coba untuk berikan satu atau dua visual yang sangat bagus ketika berinteraksi dengan mereka. 

Dengan memahami jenis komunikasi yang berbeda-beda, ini akan membantu kita dalam bekerja dan berkomunikasi dengan lebih baik di tempat kerja. Tidak hanya itu, ini dapat memberikan kita kesadaran tentang bagaimana seharusnya kita berbicara, berinteraksi, dan berkomunikasi satu sama lain dan membantu kita menjadi komunikator yang lebih efektif.
Categories
Uncategorized

4 Jenis Komunikasi

Ada beberapa cara berbeda untuk berbagi informasi satu sama lain. Misalnya, Anda mungkin menggunakan komunikasi verbal saat berbagi presentasi dengan grup. Anda mungkin menggunakan komunikasi tertulis saat melamar pekerjaan atau mengirim e mail.

Ada empat kategori utama atau gaya komunikasi termasuk verbal, nonverbal, tertulis dan visible:

1 . Lisan

Komunikasi verbal adalah penggunaan bahasa untuk mentransfer informasi melalui berbicara atau bahasa isyarat. Ini adalah salah satu jenis yang paling umum, sering digunakan selama presentasi, konferensi video dan panggilan telepon, rapat dan percakapan satu lawan satu. Komunikasi verbal penting karena efisien. 

Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengembangkan keterampilan komunikasi verbal Anda:

  • Gunakan suara bicara yang kuat dan percaya diri. Apalagi saat menyampaikan informasi kepada beberapa atau sekelompok orang, pastikan untuk menggunakan suara yang kuat agar semua orang dapat dengan mudah mendengar Anda. Percaya diri saat berbicara sehingga ide Anda jelas dan mudah dipahami orang lain.
  • Gunakan mendengarkan secara aktif. Sisi lain dari penggunaan komunikasi verbal adalah mendengarkan dan mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Keterampilan mendengarkan secara aktif adalah kunci saat mengadakan rapat, presentasi, atau bahkan saat berpartisipasi dalam percakapan empat mata. Melakukannya akan membantu Anda tumbuh sebagai komunikator.
  • Hindari kata-kata pengisi. Mungkin Anda tergoda, terutama selama presentasi, untuk menggunakan kata-kata pengisi seperti “um,” “seperti”, “jadi” atau “ya.” Meskipun mungkin terasa alami setelah menyelesaikan kalimat atau berhenti sejenak untuk mengumpulkan pikiran Anda, hal itu juga dapat mengganggu audiens Anda. Cobalah menyajikan kepada teman atau kolega tepercaya yang dapat menarik perhatian saat Anda menggunakan kata-kata pengisi. Cobalah untuk menggantinya dengan menarik napas saat Anda tergoda untuk menggunakannya.

2 . Nonverbal

Komunikasi nonverbal adalah penggunaan bahasa tubuh, gerak tubuh dan ekspresi wajah untuk menyampaikan informasi kepada orang lain. Ini dapat digunakan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Misalnya, Anda mungkin tersenyum secara tidak sengaja saat mendengar ide atau informasi yang menyenangkan atau menyenangkan. 

Jika mereka menunjukkan bahasa tubuh yang “tertutup”, seperti lengan disilangkan atau bahu membungkuk, mereka mungkin merasa cemas, marah atau gugup. Jika mereka menunjukkan bahasa tubuh “terbuka” dengan kedua kaki di lantai dan lengan di samping atau di atas meja, mereka cenderung merasa positif dan terbuka terhadap informasi.

Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan :

  • Perhatikan bagaimana perasaan Anda secara fisik. Sepanjang hari, saat Anda mengalami serangkaian emosi (mulai dari yang berenergi, bosan, bahagia, atau frustrasi), cobalah untuk mengidentifikasi di mana Anda merasakan emosi itu di dalam tubuh Anda. Misalnya, jika Anda merasa cemas, Anda mungkin memperhatikan bahwa perut Anda terasa sesak. Mengembangkan kesadaran diri tentang bagaimana emosi Anda memengaruhi tubuh Anda dapat memberi Anda penguasaan yang lebih besar atas presentasi eksternal Anda.
  • Bersikaplah sungguh-sungguh dengan komunikasi nonverbal Anda. Usahakan untuk menunjukkan bahasa tubuh yang positif saat Anda merasa waspada, terbuka, dan positif tentang lingkungan Anda. Anda juga dapat menggunakan bahasa tubuh untuk mendukung komunikasi verbal jika Anda merasa bingung atau cemas tentang informasi, seperti menggunakan alis yang berkerut.
  • Tiru komunikasi nonverbal yang menurut Anda efektif. Jika Anda merasa ekspresi wajah atau bahasa tubuh tertentu bermanfaat untuk situasi tertentu, gunakan itu sebagai panduan saat meningkatkan komunikasi nonverbal Anda sendiri. Misalnya, jika Anda melihat bahwa ketika seseorang menganggukkan kepalanya, itu mengomunikasikan persetujuan dan umpan balik positif secara efisien, gunakan itu dalam pertemuan Anda berikutnya ketika Anda memiliki perasaan yang sama.

three . Tertulis

Komunikasi tertulis adalah tindakan menulis, mengetik atau mencetak simbol seperti huruf dan angka untuk menyampaikan informasi. Hal ini membantu karena memberikan catatan informasi untuk referensi. Menulis biasanya digunakan untuk berbagi informasi melalui buku, pamflet, weblog, surat, memo dan lainnya. 

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk mengembangkan keterampilan komunikasi tertulis Anda:

  • Berusahalah untuk kesederhanaan. Komunikasi tertulis harus sesederhana dan sejelas mungkin. Meskipun mungkin berguna untuk memasukkan banyak detail dalam komunikasi instruksional, misalnya, Anda harus mencari area di mana Anda dapat menulis sejelas mungkin untuk dipahami audiens Anda.
  • Jangan mengandalkan nada. Karena Anda tidak memiliki nuansa komunikasi verbal dan nonverbal, berhati-hatilah saat mencoba mengomunikasikan nada tertentu saat menulis. Misalnya, mencoba mengomunikasikan lelucon, sarkasme, atau kegembiraan mungkin diterjemahkan secara berbeda bergantung pada audiens. Sebaliknya, cobalah untuk membuat tulisan Anda sesederhana dan sejelas mungkin dan tindak lanjuti dengan komunikasi verbal di mana Anda dapat menambahkan lebih banyak kepribadian.
  • Luangkan waktu untuk meninjau komunikasi tertulis Anda. Menyisihkan waktu untuk membaca kembali e mail, surat, atau memo Anda dapat membantu Anda mengidentifikasi kesalahan atau peluang untuk mengatakan sesuatu secara berbeda. Untuk komunikasi penting atau yang akan dikirim ke banyak orang, mungkin berguna untuk meminta kolega tepercaya meninjaunya juga.
  • Simpanlah file tulisan yang menurut Anda efektif atau menyenangkan. Jika Anda menerima pamflet, e mail, atau memo tertentu yang menurut Anda sangat membantu atau menarik, simpanlah itu sebagai referensi saat menulis komunikasi Anda sendiri. Memasukkan metode atau gaya yang Anda suka dapat membantu Anda meningkat seiring waktu.

4 . Visual

Komunikasi seen adalah tindakan menggunakan foto, seni, gambar, sketsa, bagan, dan grafik untuk menyampaikan informasi. Visual sering digunakan sebagai bantuan selama presentasi untuk memberikan konteks yang membantu di samping komunikasi tertulis dan / atau verbal. Karena orang memiliki gaya belajar yang berbeda, komunikasi visual mungkin lebih membantu bagi beberapa orang untuk mengonsumsi ide dan informasi.

Berikut beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengembangkan keterampilan komunikasi visual Anda:

  • Tanya orang lain sebelum memasukkan visual. Jika Anda mempertimbangkan untuk berbagi bantuan visible dalam presentasi atau e-mail Anda, pertimbangkan untuk meminta umpan balik dari orang lain. Menambahkan seen terkadang dapat membuat konsep membingungkan atau tidak jelas. Mendapatkan perspektif pihak ketiga dapat membantu Anda memutuskan apakah visible menambah nilai komunikasi Anda.
  • Pertimbangkan audiens Anda. Pastikan untuk menyertakan seen yang mudah dipahami oleh audiens Anda. Misalnya, jika Anda menampilkan bagan dengan knowledge yang tidak dikenal, pastikan untuk meluangkan waktu dan menjelaskan apa yang terjadi dalam visible dan bagaimana kaitannya dengan apa yang Anda katakan. Anda tidak boleh menggunakan seen yang sensitif, menyinggung, kekerasan, atau grafis dalam bentuk apa pun.

Untuk meningkatkan keterampilan komunikasi Anda, tetapkan tujuan pribadi untuk menyelesaikan hal-hal yang ingin Anda capai selangkah demi selangkah. Mungkin bermanfaat untuk berkonsultasi dengan kolega, manajer, atau mentor tepercaya untuk mengidentifikasi house mana yang sebaiknya menjadi fokus pertama.

Categories
Uncategorized

17 Teknik Komunikasi Terapeutik Yang Benar

Komunikasi Terapeutik dalam Keperawatan merupakan sebuah hal yang sangat penting dan berguna, karena komunikasi inilah yang akan membantu perawat untuk memahami pasien. Prinsip Komunikasi Terapeutik yang berusaha untuk membuat pasien mampu beradaptasi terhadap gangguan psikologis seperti stress, juga akan membantu perawat untuk meningkatkan kemampuan serta ketrampilannya dalam menghadapi pasien.

Jika dilihat dari Karakteristik Komunikasi Terapeutik, maka tujuan utamanya adalah membuat perawat dan pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan benar serta membuat pasien lebih mampu untuk belajar, memahami dan mengerti tentang situasi dan kondisi yang dialaminya. Untuk membuat komunikasi terapeutik menjadi sebuah Komunikasi yang Efektif, tentunya seorang pelajar harus mampu mempelajari, mengetahui dan menerapkan setiap Komponen Komunikasi Terapeutik dengan baik.

Ketika menerapkan seluruh komponen tersebut dengan baik, maka dapat dipastikan komunikasi terapeutik yang dilakukan sudah memiliki Teknik Komunikasi Efektif. Dengan menguasai teknik terapeutik dengan baik, maka Komunikasi Kesehatan antara perawat dengan pasien akan menjadi sebuah Cara Mengatasi Gap Komunikasi yang terjadi. Beberapa teknik komunikasi teraupetik yang harus dipelajari oleh perawat ataupun orang-orang yang terlibat didunia kesehatan, adalah :

1. Menjadi pendengar aktif

Seorang perawat ataupun orang-orang yang berada didalam dunia kesehatan, harus mampu untuk menjadi pendengar yang aktif. Menjadi pendengar yang aktif disini adalah memiliki konsentrasi dan perasaan yang baik dengan menggunakan seluruh indra dengan tujuan untuk menerima segala jenis keluhan, komplain, aduan ataupun protes dari setiap pasien. Cara untuk menjadi pendengar yang aktif antara lain adalah :

  • Membuat kontak mata dengan pasien dan berusaha menatap wajah pasien ketika pasien berbicara
  • Jangan melalukan gerakan yang tidak diperlukan, tapi lakukanlah gerakan ketika kamu merasa pasien butuh dipegang. Seperti misalnya dengan mengusap tangan, mengusap wajah atau menggenggam tangan pasien.
  • Berikan jawaban setiap pasien bertanya, misalnya dengan langsung berbicara atau hanya sekedar menggerakkan kepala pertanda kamu mendengarkan pasien.
  • Hadapkan atau arahkan tubuh kepada pasien, dan usahakan untuk tidak membelakangi pasien ketika berbicara

2. Menerima informasi 

Menerima informasi merupakan sebuah langkah yang bertujuan untuk mendukung segala informasi yang kamu terima dari pasien. Beberapa cara ataupun langkah-langkah yang harus kamu lakukan untuk menunjukkan bahwa kamu menerima informasi dari pasien adalah :

  • Ketika pasien bertanya, maka jawablah pertanyaan pasien tersebut sesuai dengan pengetahuan kamu. Pada saat kamu menjawab pertanyaan pasien, maka disitu kamu sudah melakukan klarifikasi apakah kamu mengerti dengan pertanyaannya atau tidak. Jika mengerti, maka cobalah untuk menjawab pertanyaannya.
  • Usahakan untuk tetap fokus pada topik yang dimulai oleh pasien, dan kembalikan pembicaraan ketika kamu merasa bahwa pasien sudah tidak membahas topik yang utama tadi.
  • Lakukanlah observasi terhadap pasien, misalnya dengan mengamati tingkah laku, gerak gerik, ekspresi wajah hingga cobalah untuk memahami perasaan pasien.

3. Menawarkan informasi

Menawarkan informasi kepada pasien bertujuan untuk melatih respon dan kecakapan pasien untuk mendengarkan perawatnya. Kamu dapat menawarkan informasi kepada pasien dengan mengatakan bahwa :

  • Kamu akan mencari tahu jawaban atas pertanyaannya
  • Kamu akan memfasilitasi komunikasi dengan dokter
  • Atau ketika ada informasi yang harus kamu tutupi, maka cobalah untuk memberikan informasi yang dapat menenangkan diri pasien

4. Diam

Ketika pasien sedang berbicara, maka usahakanlah untuk tidak berbicara dengan orang lain, atau bahkan diamlah sesaat dan dengarkan seluruh informasi yang diberikan oleh pasien. Ketika kamu diam pada saat pasien berbicara, maka pasien akan merasa bahwa kamu mau menunggu dirinya selesai berbicara dan dia akan merasa dihormati. Tapi, diam juga tidak boleh kamu lakukan terlalu lama karena akan membuat pasien menjadi khawatir kepada kamu. Bisa jadi, pasien akan merasa kamu menutup-nutupi sesuatu dari dirinya sehingga Ia menjadi cemas. (baca juga : Jenis-jenis Komunikasi Bisnis)

5. Meyakinkan 

Meyakinkan merupakan sebuah cara ataupun kemampuan perawat untuk memberikan keyakinan kepada seorang pasien, baik melalui ekspresi wajah, perkataan, hingga pandangan mata. Dengan mempelajari teknik terapeutik yang satu ini, maka seorang perawat akan mampu untuk menenangkan dan membuat pasien nyaman meskipun sebenarnya perawat sedang menutup-nutupi sesuatu tentang diri atau kondisi pasien. (baca juga : Strategi Komunikasi dalam Pembelajaran Audible)

6. Menyimpulkan

Ketika berkomunikasi dengan pasien, maka perawat juga harus mampu untuk menyimpulkan informasi yang disampaikan oleh pasien. Selain itu, perawat harus mampu untuk mengambil level penting dari percakapan tersebut dan mengklarifikasinya kepada pasien dengan kesimpulan yang telah dibuat. Perawat yang mampu menyimpulkan setiap informasi dari pasien dengan baik, maka akan memberikan sebuah Cara Berkomunikasi dengan Baik dan efektif. (baca juga : Metode Komunikasi Dalam Jaringan)

7. Memberi penghargan

Teknik yang selanjutnya yang harus dipelajari oleh seorang perawat adalah mencoba untuk mampu memberikan penghargaan ketika percakapan atau komunikasi sudah berakhir. Misalnya dengan memberikan semangan atau memberikan respon-respon yang sepertinya diharapkan oleh pasien. Dengan memberikan penghargaan kepada pasien, maka pasien akan merasa dihargai, dihormati dan dirawat dengan baik. (baca juga : Macam-macam Media Komunikasi dalam Jaringan)

eight. Membuka komunikasi

Ketika seorang pasien ingin menyampaikan sebuah informasi, namun Ia masih ragu untuk mengutarakannya, maka seorang perawat harus mampu untuk membuka komunikasi. Membuka komunikasi akan membuat komunikasi yang terjadi memiliki sifat terbuka dan tidak ada saling tutup menutupi, sehingga pasien akan secara terus terang dan berkata jujur untuk memberikan seluruh informasi kepada perawat yang merawatnya. Membuka komunikasi bisa dengan melakukan beberapa cara seperti :

  • Mendorong pasien untuk meneruskan komunikasi
  • Menunjukkan sikap bahwa kamu selaku perawat mau mendengarkan dirinya
  • Memotivasi diri pasien untuk terbuka dan membuka diri
  • Mendominasi komunikasi dengan tujuan untuk memancing respon pasien (baca juga : Jenis Informasi Edukatif yang Penting)

9. Menempatkan waktu dengan tepat

Teknik komunikasi terapeutik yang berikutnya yang juga harus dipelajari oleh seorang perawat adalah menempatkan atau memposisikan waktu berkomunikasi dengan tepat. Hal ini akan berguna untuk pasien dan perawat yang berkomunikasi untuk dapat lebih bisa bertukar informasi. Beberapa cara yag bisa dilakukan misalnya :

  • Klarifikasi waktu kejadian antara satu kejadian dengan kejadian lain
  • Mengeksplorasi ingatan pasien untuk dapat mengeluarkan informasi yang penting
  • Meyakinkan, memberikan dukungan serta memberikan nasehat yang berguna untuk menggali informasi dari pasien
  • Membuat jadwal komunikasi dengan pasien hingga kepada melihat ekspresi pasien untuk menentukan apakah waktu komunikasi sudah tepat atau belum

10. Mendukung deskripsi dari persepsi

 Mendukung deskripsi dari persepsi yang ada pada diri pasien juga sangat berguna untuk menjalin komunikasi yang baik. Caranya adalah dengan meminta izin kepada pasien untuk menyampaikan pendapat kamu tentang tentang apa yang diutarakan oleh pasien hingga menanyakan apa yang dirasakan pasien dan bagaimana perbedaan perasaan yang dirasakan oleh pasien. Selain itu, kamu juga bisa melakukan beberapa cara lain seperti :

  • Merefleksikan diri menjadi seorang pasien ketika pasien butuh sebuah jawaban
  • Mengeksplorasi masalah yang dialami pasien secara mendalam dan menyeluruh
  • Menunjukkan realita atau kenyataan yang terjadi dengan memberikan informasi yang tidak menyakiti pasien (baca juga : Model Komunikasi DeFleur)

11. Menunjukkan keraguan

Kadang kala, terlalu percaya diri dengan sebuah jawaban juga akan mempengaruhi pandangan seseorang. Itulah sebabnya, ketika melakukan komunikasi terapeutik, diperlukan sikap yang menunjukkan keraguan didalam diri seorang perawat. Ketika kamu ragu untuk memberikan sebuah jawaban, berusahalah untuk bersikap dengan tenang dan berikan jawaban yang menurut kamu benar dengan sangat hati-hati. Hal ini akan berguna untuk memberikan pandangan bahwa kamu menjawab pertanyaan pasien secara realistis. (baca juga : Teknik Penulisan Berita Media Cetak)

12. Melihat kondisi dan situasi

Teknik yang berikutnya yang harus dipelajari oleh perawat dalam menjalankan komunikasi terapeutik adalah cara atau kemampuan untuk melihat kondisi dan situasi yang dialami oleh pasien. Dengan kemampuan tersebut, seorang perawat akan mampu untuk menjelaskan pikiran dan informasi yang diberikannya. Caranya bisa dengan melakukan beberapa hal seperti :

  • Melakukan pencarian informasi yang tepat dan memberikan pengertian dengan baik dan benar terhadap informasi yang disampaikan
  • Memverbalisasaikan apa yang diucapkan oleh pasien baik mengenai anjuran, saran, kritik ataupun motivasi
  • Mempertimbangkan segala sesuatunya mulai dari risiko, keuntungan serta dampak informasi yang diberikan

thirteen. Menterjemahkan pesan

Seorang perawat harus mampu untuk mengidentifikasi dan menerjemahkan informasi yang diberikan oleh seorang pasien. Ketika seorang perawat mampu untuk melakukan hal ini, maka perawat akan mampu untuk mengidentifikasikan perasaan pasien mengenai topik yang sedang dibicarakan. Caranya dapat dengan melakukan beberapa hal seperti :

  • Mendukung pandangan pasien
  • Mengajak pasien untuk berkolaborasi
  • Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mendapatkan jawaban alternatif
  • Membaca pesan atau informasi bahkan statmen yang diucapkan oleh pasien

14. Membatasi diri

Membatasi diri merupakan sebuah hal yang wajar ketika terjadi sebuah komunikasi, tidak terkecuali dengan komunikasi terapeutik. Membatasi diri bagi seorang perawat adalah dengan menjaga informasi yang keluar berkaitan dengan kondisi pasien, dengan mempertimbangkan beberapa hal yang mungkin saja dapat memperburuk keadaan pasien. Contohnya adalah ketika pasien ingin membuka informasi mengenai suatu penyakit yang Ia derita dan ingin mengetahui penyakit apa yang Ia derita tersebut, maka sebisa mungkin perawat dapat mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain dengan tujuan untuk menjaga perasaan dan kondisi tubuh pasien. (baca juga : Manajemen Komunikasi Pemasaran)

15. Mendekatkan diri dengan pasien

Dengan mendekatkan diri kepada pasien, maka perawat telah menunjukkan sebuah penghormatan terhadap pasien. Ketika itu dilakukan, pasien juga akan merasa bahwa perawat ingin terlibat dan masuk kedalam diri pasien. Cara utama dari teknik yang satu ini adalah dengan sesering mungkin mengajak pasien untuk berkomunikasi dan sering menanyakan kabar pasien. (baca juga : Strategi Komunikasi Organisasi)

16. Memberikan humor

Memberikan humor atau bahan bercandaan adalah salah satu hal terpenting yang harus bisa dipelajari dan diaplikasikan oleh seorang perawat. Sebuah bahan bercandaan yang berhasil membuat pasien tertawa akan menunjukkan sebuah keberhasilan perawat dalam memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi pasien. (baca juga : Teknik Penulisan Berita Online)

17. Mendidik

Teknik teraupetik yang terahir adalah dengan mendidik pasien. Dengan berusaha mendidik pasien untuk mengikuti anjuran dokter, meminum obat dengan teratur ataupun melakukan terapi yang seharusnya dijalani tentunya akan membuat pasien merasa diperhatikan. Mendidik pasien juga akan memberikan timbal balik yang baik bagi perawat untuk dapat berkomunikasi dengan pasien-pasien yang lain. Selain itu, mendidik pasien untuk mengikuti seluruh proses perawatan yang ada akan membuat pasien lebih tenang dan lebih yakin. (baca juga : Sejarah Konsep Pemasaran)

Itulah tadi 17 teknik komunikasi terapeutik yang dapat kami jelaskan pada artikel kali ini, semoga penjelasan diatas dapat memberikan pengetahuan dan dapat menjadikan kamu sebagai perawat yang lebih baik dan lebih berkompeten lagi. Sampai jumpa pada artikel yang selanjutnya.

Diketahui diri sendiri

Tidak diketahui diri sendiri

Diketahui orang lain

Terbuka

1

Gelap

2

Tidak diketahui orang lain

Tersembunyi

three

Tidak diketahui

4

Gambar jendela Johari