Categories
Uncategorized

Komunikasi Terapeutik (pengertian, Fungsi, Karakteristik, Prinsip Dan Teknik)

Apa itu Komunikasi Terapeutik? 

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dirancang dan direncanakan untuk tujuan terapi, dalam rangka membina hubungan antara perawat dengan pasien agar dapat beradaptasi dengan stress, mengatasi gangguan psikologis, sehingga dapat melegakan serta membuat pasien merasa nyaman, yang pada akhirnya mempercepat proses kesembuhan pasien.

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan pasien meliputi: realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri. Sehingga komunikasi terapeutik itu sendiri merupakan salah satu bentuk dari berbagai macam komunikasi yang dilakukan secara terencana dan dilakukan untuk membantu proses penyembuhan pasien.

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien dan membina hubungan yang terapeutik antara perawat dan klien. Komunikasi terapeutik juga dapat dipersepsikan sebagai proses interaksi antara klien dan perawat yang membantu klien mengatasi stress sementara untuk hidup harmonis dengan orang lain, menyesuaikan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah dan mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi realisasi diri.

Berikut definisi dan pengertian komunikasi terapeutik dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Yubiliana (2017), komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang terjalin dengan baik, komunikatif dan bertujuan untuk menyembuhkan atau setidaknya dapat melegakan serta dapat membuat pasien merasa nyaman dan akhirnya mendapatkan kepuasan. 
  • Menurut Priyanto (2009), komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu klien beradaptasi terhadap stres, mengatasi gangguan psikologis dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain.
  • Menurut Purwanto (1994), komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. 
  • Menurut Stuart & Sundeen (1995), komunikasi terapeutik adalah cara untuk membina hubungan yang terapeutik dimana terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran dengan maksud untuk mempengaruhi orang lain. 
  • Menurut Suryani (2005), komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang dilakukan atau dirancang untuk tujuan terapi. Seorang penolong atau perawat dapat membantu klien mengatasi masalah yang dihadapinya melalui komunikasi.

Fungsi Komunikasi Terapeutik 

Komunikasi terapeutik dapat digunakan sebagai terapi untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien atau meningkatkan rasa percaya pasien terhadap perawatnya. Dengan pemberian komunikasi terapeutik diharapkan dapat menurunkan tingkat kecemasan pasien karena pasien merasa bahwa interaksinya dengan perawat merupakan kesempatan untuk berbagi pengetahuan, perasaan dan informasi dalam rangka mencapai tujuan perawatan yang optimal, sehingga proses penyembuhan akan lebih cepat.

Menurut Stuart dan Sundeen (1995), fungsi komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut: 

  1. Meningkatkan tingkat kemandirian klien melalui proses realisasi diri, penerimaan diri dan rasa hormat terhadap diri sendiri. 
  2. Identitas diri yang jelas dan rasa integritas yang tinggi.
  3. Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dan mencintai. 
  4. Meningkatkan kesejahteraan klien dengan peningkatan fungsi dan kemampuan memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.

Pemberian komunikasi terapeutik yang diberikan oleh perawat pada pasiennya berisi tentang diagnosa penyakit, manfaat, urgensinya tindakan medis, resiko, komplikasi yang mungkin dapat terjadi, prosedur alternatif yang dapat dilakukan, konsekuensi yang dapat terjadi apabila tidak dilakukan tindakan medis, prognosis penyakit, dampak yang ditimbulkan dari tindakan medis serta keberhasilan atau ketidakberhasilan dari tindakan medis tersebut.

Tujuan Komunikasi Terapeutik 

Pelaksanaan komunikasi terapeutik bertujuan membantu pasien memperjelas penyakit yang dialami, juga mengurangi beban pikiran dan perasaan untuk dasar tindakan guna mengubah ke dalam situasi yang lebih baik. Komunikasi terapeutik diharapkan dapat mengurangi keraguan serta membantu dilakukannya tindakan efektif, memperat interaksi kedua pihak, yakni antara pasien dan perawat secara profesional dan proporsional dalam rangka membantu penyelesaian masalah pasien.

Menurut Indrawati (2003), tujuan komunikasi terapeutik adalah membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran, membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri. Sedangkan menurut Stuart & Laraia (2005), tujuan komunikasi terapeutik adalah kesadaran diri, penerimaan diri, dan meningkatnya kehormatan diri, identitas pribadi yang jelas dan meningkatnya integritas pribadi, kemampuan untuk membentuk suatu keintiman, saling ketergantungan, hubungan interpersonal, dengan kapasitas memberi dan menerima cinta, mendorong fungsi dan meningkatkan kemampuan terhadap kebutuhan yang memuaskan dan mencapai tujuan pribadi yang realistik.

Karakteristik Komunikasi Terapeutik 

Menurut Arwani (2002), terdapat tiga ciri-ciri yang menjadi karakteristik serta membedakan komunikasi terapeutik dengan komunikasi yang lain, yaitu:

a. Keikhlasan (genuiness) 

Perawat harus menyadari tentang nilai, sikap dan perasaan yang dimiliki terhadap keadaan klien. Perawat yang mampu menunjukkan rasa ikhlasnya mempunyai kesadaran mengenai sikap yang dipunyai terhadap klien sehingga mampu belajar untuk mengkomunikasikan secara tepat.

b. Empati (empathy) 

Empati merupakan perasaan pemahaman dan penerimaan perawat terhadap perasaan yang dialami klien dan kemampuan merasakan dunia pribadi klien. Empati merupakan sesuatu yang jujur, sensitif dan tidak dibuat-buat (objektif) didasarkan atas apa yang dialami orang lain. Empati cenderung bergantung pada kesamaan pengalaman diantara orang yang terlibat komunikasi.

c. Kehangatan (heat) 

Dengan kehangatan, perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Suasana yang hangat, permisif dan tanpa adanya ancaman menunjukkan adanya rasa penerimaan perawat terhadap klien. Sehingga klien akan mengekspresikan perasaannya secara lebih mendalam.

Prinsip-prinsip Komunikasi Terapeutik 

Menurut Suryani (2005), terdapat beberapa prinsip yang harus dipahami dalam membangun dan mempertahankan komunikasi terapeutik, yaitu: 

  1. Hubungan perawat dengan klien adalah hubungan terapeutik yang saling menguntungkan. hubungan ini didasarkan pada prinsip humanity of nurse and consumers. Kualitas hubungan perawat-klien ditentukan oleh bagaimana perawat mendefenisikan dirinya sebagai manusia. Hubungan perawat dengan klien tidak hanya sekedar hubungan seorang penolong dengan kliennya tapi lebih dari itu, yaitu hubungan antar manusia yang bermartabat. 
  2. Perawat harus menghargai keunikan klien. Tiap individu mempunyai karakter yang berbeda-beda. Karena itu perawat perlu memahami perasaan dan perilaku klien dengan melihat perbedaan latar belakang keluarga, budaya, dan keunikan setiap individu. 
  3. Komunikasi yang dilakukan harus dapat menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan, dalam hal ini perawat harus mampu menjaga harga dirinya dan harga diri klien. 
  4. Komunikasi yang menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya harus dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan memberikan alternatif pemecahan masalah. hubungan saling percaya antara perawat dan klien adalah kunci dari komunikasi terapeutik.

Teknik Komunikasi Terapeutik 

Menurut Uripni dkk (2002), teknik yang dilakukan dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik, adalah sebagai berikut: 

  1. Mendengar dengan penuh perhatian. Hal ini perawat harus mendengarkan masalah yang disampaikan oleh klien untuk mengetahui perasaan, pikiran dan persepsi klien itu sendiri. Sikap yang dibutuhkan untuk menjadi pendengar yang baik adalah menatap matanya saat berbicara, tidak menyilangkan kaki dan tangan, hindari gerakan yang tidak perlu dan condongkan tubuh kearah lawan bicara.
  2. Menunjukkan penerimaan. Mendukung dan menerima dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Menerima bukan berarti menyetujui. Menerima berarti mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. 
  3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan. Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai masalah yang telah disampaikan oleh klien. Oleh sebab itu, sebaiknya pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. 
  4. Mengulang ucapan klien dengan kata-kata sendiri. Melalui pengulangan kembali kata-kata klien, seorang perawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan. 
  5. Mengklarifikasi. Klarifikasi terjadi pada saat perawat menjelaskan dalam kata-kata mengenai ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien. Tujuan dari teknik ini untuk menyamakan pengertian. 
  6. Memfokuskan. Tujuan dari memfokuskan untuk membatasi pembicaraan sehingga pembicaraan menjadi lebih spesifik dan dimengerti. Hal yang perlu diperhatikan adalah tidak memutuskan pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah yang sedang dihadapi.

Tahapan Komunikasi Terapeutik 

Menurut Stuart dan Sundeen (1995), tahapan-tahapan dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik, adalah sebagai berikut:

a. Fase Prainteraksi 

Prainteraksi dimulai sebelum kontrak pertama dengan klien. Tahap ini merupakan tahap persiapan perawat sebelum bertemu dan berkomunikasi dengan pasien. Perawat perlu mengevaluasi diri tentang kemampuan yang dimiliki. Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri, dengan analisa diri perawat akan dapat memaksimalkan dirinya agar bernilai terapeutik ketika bertemu dan berkomunikasi dengan pasien, jika dirasa dirinya belum siap untuk bertemu dengan pasien makan perawat perlu belajar kembali dan berdiskusi dengan teman kelompok yang lebih berkompeten. Perawat mengumpulkan information tentang klien, mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri dan membuat rencana pertemuan dengan klien.

b. Fase Orientasi 

Fase ini dimulai ketika perawat bertemu dengan klien untuk pertama kalinya. Hal utama yang perlu dikaji adalah alasan klien minta pertolongan yang akan mempengaruhi terbinanya hubungan perawat klien. Dalam memulai hubungan tugas pertama adalah membina rasa percaya, penerimaan dan pengertian komunikasi yang terbuka dan perumusan kontrak dengan klien. Untuk dapat membina hubungan saling percaya dengan pasien, perawat harus bersikap terbuka, jujur, ikhlas, menerima pasien, menghargai pasien dan mampu menepati janji kepada pasien. Selain itu perawat harus merumuskan suatu kontrak bersama dengan pasien. Kontrak yang harus dirumuskan dan disetujui bersama adalah tempat, waktu dan topik pertemuan.

Perawat juga bertugas untuk menggali perasaan dan pikiran pasien serta dapat mengidentifikasi masalah pasien. Pada tahap ini perawat melakukan kegiatan sebagai berikut: memberi salam dan senyum pada klien, melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif), memperkenalkan nama perawat, menanyakan nama kesukaan klien, menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan, menjelaskan kerahasiaan. Tujuan akhir pada fase ini ialah terbina hubungan saling percaya.

c. Fase Kerja 

Pada tahap kerja dalam komunikasi terapeutik, kegiatan yang dilakukan adalah memberi kesempatan pada klien untuk bertanya, menanyakan keluhan utama, memulai kegiatan dengan cara yang baik, melakukan kegiatan sesuai rencana. Perawat memenuhi kebutuhan dan mengembangkan pola-pola adaptif klien. Interaksi yang memuaskan akan menciptakan situasi/suasana yang meningkatkan integritas klien dengan meminimalisasi ketakutan, ketidakpercayaan, kecemasan dan tekanan pada klien.

d. Fase Terminasi 

Pada tahap terminasi dalam komunikasi terapeutik kegiatan yang dilakukan oleh perawat adalah menyimpulkan hasil wawancara, tindak lanjut dengan klien, melakukan kontrak (waktu, tempat dan topik), mengakhiri wawancara dengan cara yang baik. Tahap terminasi dibagi menjadi 2, yaitu: 

  1. Terminasi Sementara. Terminasi sementara merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan pasien, akan tetapi masih ada pertemuan lainnya yang akan dilakukan pada waktu yang telah disepakati bersama. 
  2. Terminasi Akhir. Pada terminasi akhir perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh.

Daftar Pustaka

  • Yubiliana, Gilang. 2017. Komunikasi Terapeutik: Penatalaksanaan Komunikasi Efektif & Terapeutik Pasien & Dokter Gigi. Bandung: UNPAD Press.
  • Priyanto, A. 2009. Komunikasi dan Konseling Aplikasi dalam Sarana Pelayanan Kesehatan Untuk Perawat dan Bidan. Jakarta: Salemba Medika.
  • Purwanto, Heri. 1994. Komunikasi untuk Perawat. Jakarta: EGC.
  • Stuart dan Sundeen. 1995. Buku Keperawatan. Jakarta: EGC.
  • Suryani. 2005. Komunikasi Terapeutik: Teori dan Praktik. Jakarta: EGC.
  • Indrawati. 2003. Komunikasi untuk Perawat. Jakarta: EGC.
  • Stuart dan Laraia. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
  • Arwani. 2002. Komunikasi dalam Keperawatan. Jakarta: EGC.
  • Uripni, C.L., dkk. 2002. Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC.
Categories
Uncategorized

17 Teknik Komunikasi Terapeutik Yang Benar

Komunikasi Terapeutik dalam Keperawatan merupakan sebuah hal yang sangat penting dan berguna, karena komunikasi inilah yang akan membantu perawat untuk memahami pasien. Prinsip Komunikasi Terapeutik yang berusaha untuk membuat pasien mampu beradaptasi terhadap gangguan psikologis seperti stress, juga akan membantu perawat untuk meningkatkan kemampuan serta ketrampilannya dalam menghadapi pasien.

Jika dilihat dari Karakteristik Komunikasi Terapeutik, maka tujuan utamanya adalah membuat perawat dan pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan benar serta membuat pasien lebih mampu untuk belajar, memahami dan mengerti tentang situasi dan kondisi yang dialaminya. Untuk membuat komunikasi terapeutik menjadi sebuah Komunikasi yang Efektif, tentunya seorang pelajar harus mampu mempelajari, mengetahui dan menerapkan setiap Komponen Komunikasi Terapeutik dengan baik.

Ketika menerapkan seluruh komponen tersebut dengan baik, maka dapat dipastikan komunikasi terapeutik yang dilakukan sudah memiliki Teknik Komunikasi Efektif. Dengan menguasai teknik terapeutik dengan baik, maka Komunikasi Kesehatan antara perawat dengan pasien akan menjadi sebuah Cara Mengatasi Gap Komunikasi yang terjadi. Beberapa teknik komunikasi teraupetik yang harus dipelajari oleh perawat ataupun orang-orang yang terlibat didunia kesehatan, adalah :

1. Menjadi pendengar aktif

Seorang perawat ataupun orang-orang yang berada didalam dunia kesehatan, harus mampu untuk menjadi pendengar yang aktif. Menjadi pendengar yang aktif disini adalah memiliki konsentrasi dan perasaan yang baik dengan menggunakan seluruh indra dengan tujuan untuk menerima segala jenis keluhan, komplain, aduan ataupun protes dari setiap pasien. Cara untuk menjadi pendengar yang aktif antara lain adalah :

  • Membuat kontak mata dengan pasien dan berusaha menatap wajah pasien ketika pasien berbicara
  • Jangan melalukan gerakan yang tidak diperlukan, tapi lakukanlah gerakan ketika kamu merasa pasien butuh dipegang. Seperti misalnya dengan mengusap tangan, mengusap wajah atau menggenggam tangan pasien.
  • Berikan jawaban setiap pasien bertanya, misalnya dengan langsung berbicara atau hanya sekedar menggerakkan kepala pertanda kamu mendengarkan pasien.
  • Hadapkan atau arahkan tubuh kepada pasien, dan usahakan untuk tidak membelakangi pasien ketika berbicara

2. Menerima informasi 

Menerima informasi merupakan sebuah langkah yang bertujuan untuk mendukung segala informasi yang kamu terima dari pasien. Beberapa cara ataupun langkah-langkah yang harus kamu lakukan untuk menunjukkan bahwa kamu menerima informasi dari pasien adalah :

  • Ketika pasien bertanya, maka jawablah pertanyaan pasien tersebut sesuai dengan pengetahuan kamu. Pada saat kamu menjawab pertanyaan pasien, maka disitu kamu sudah melakukan klarifikasi apakah kamu mengerti dengan pertanyaannya atau tidak. Jika mengerti, maka cobalah untuk menjawab pertanyaannya.
  • Usahakan untuk tetap fokus pada topik yang dimulai oleh pasien, dan kembalikan pembicaraan ketika kamu merasa bahwa pasien sudah tidak membahas topik yang utama tadi.
  • Lakukanlah observasi terhadap pasien, misalnya dengan mengamati tingkah laku, gerak gerik, ekspresi wajah hingga cobalah untuk memahami perasaan pasien.

3. Menawarkan informasi

Menawarkan informasi kepada pasien bertujuan untuk melatih respon dan kecakapan pasien untuk mendengarkan perawatnya. Kamu dapat menawarkan informasi kepada pasien dengan mengatakan bahwa :

  • Kamu akan mencari tahu jawaban atas pertanyaannya
  • Kamu akan memfasilitasi komunikasi dengan dokter
  • Atau ketika ada informasi yang harus kamu tutupi, maka cobalah untuk memberikan informasi yang dapat menenangkan diri pasien

4. Diam

Ketika pasien sedang berbicara, maka usahakanlah untuk tidak berbicara dengan orang lain, atau bahkan diamlah sesaat dan dengarkan seluruh informasi yang diberikan oleh pasien. Ketika kamu diam pada saat pasien berbicara, maka pasien akan merasa bahwa kamu mau menunggu dirinya selesai berbicara dan dia akan merasa dihormati. Tapi, diam juga tidak boleh kamu lakukan terlalu lama karena akan membuat pasien menjadi khawatir kepada kamu. Bisa jadi, pasien akan merasa kamu menutup-nutupi sesuatu dari dirinya sehingga Ia menjadi cemas. (baca juga : Jenis-jenis Komunikasi Bisnis)

5. Meyakinkan 

Meyakinkan merupakan sebuah cara ataupun kemampuan perawat untuk memberikan keyakinan kepada seorang pasien, baik melalui ekspresi wajah, perkataan, hingga pandangan mata. Dengan mempelajari teknik terapeutik yang satu ini, maka seorang perawat akan mampu untuk menenangkan dan membuat pasien nyaman meskipun sebenarnya perawat sedang menutup-nutupi sesuatu tentang diri atau kondisi pasien. (baca juga : Strategi Komunikasi dalam Pembelajaran Audible)

6. Menyimpulkan

Ketika berkomunikasi dengan pasien, maka perawat juga harus mampu untuk menyimpulkan informasi yang disampaikan oleh pasien. Selain itu, perawat harus mampu untuk mengambil level penting dari percakapan tersebut dan mengklarifikasinya kepada pasien dengan kesimpulan yang telah dibuat. Perawat yang mampu menyimpulkan setiap informasi dari pasien dengan baik, maka akan memberikan sebuah Cara Berkomunikasi dengan Baik dan efektif. (baca juga : Metode Komunikasi Dalam Jaringan)

7. Memberi penghargan

Teknik yang selanjutnya yang harus dipelajari oleh seorang perawat adalah mencoba untuk mampu memberikan penghargaan ketika percakapan atau komunikasi sudah berakhir. Misalnya dengan memberikan semangan atau memberikan respon-respon yang sepertinya diharapkan oleh pasien. Dengan memberikan penghargaan kepada pasien, maka pasien akan merasa dihargai, dihormati dan dirawat dengan baik. (baca juga : Macam-macam Media Komunikasi dalam Jaringan)

eight. Membuka komunikasi

Ketika seorang pasien ingin menyampaikan sebuah informasi, namun Ia masih ragu untuk mengutarakannya, maka seorang perawat harus mampu untuk membuka komunikasi. Membuka komunikasi akan membuat komunikasi yang terjadi memiliki sifat terbuka dan tidak ada saling tutup menutupi, sehingga pasien akan secara terus terang dan berkata jujur untuk memberikan seluruh informasi kepada perawat yang merawatnya. Membuka komunikasi bisa dengan melakukan beberapa cara seperti :

  • Mendorong pasien untuk meneruskan komunikasi
  • Menunjukkan sikap bahwa kamu selaku perawat mau mendengarkan dirinya
  • Memotivasi diri pasien untuk terbuka dan membuka diri
  • Mendominasi komunikasi dengan tujuan untuk memancing respon pasien (baca juga : Jenis Informasi Edukatif yang Penting)

9. Menempatkan waktu dengan tepat

Teknik komunikasi terapeutik yang berikutnya yang juga harus dipelajari oleh seorang perawat adalah menempatkan atau memposisikan waktu berkomunikasi dengan tepat. Hal ini akan berguna untuk pasien dan perawat yang berkomunikasi untuk dapat lebih bisa bertukar informasi. Beberapa cara yag bisa dilakukan misalnya :

  • Klarifikasi waktu kejadian antara satu kejadian dengan kejadian lain
  • Mengeksplorasi ingatan pasien untuk dapat mengeluarkan informasi yang penting
  • Meyakinkan, memberikan dukungan serta memberikan nasehat yang berguna untuk menggali informasi dari pasien
  • Membuat jadwal komunikasi dengan pasien hingga kepada melihat ekspresi pasien untuk menentukan apakah waktu komunikasi sudah tepat atau belum

10. Mendukung deskripsi dari persepsi

 Mendukung deskripsi dari persepsi yang ada pada diri pasien juga sangat berguna untuk menjalin komunikasi yang baik. Caranya adalah dengan meminta izin kepada pasien untuk menyampaikan pendapat kamu tentang tentang apa yang diutarakan oleh pasien hingga menanyakan apa yang dirasakan pasien dan bagaimana perbedaan perasaan yang dirasakan oleh pasien. Selain itu, kamu juga bisa melakukan beberapa cara lain seperti :

  • Merefleksikan diri menjadi seorang pasien ketika pasien butuh sebuah jawaban
  • Mengeksplorasi masalah yang dialami pasien secara mendalam dan menyeluruh
  • Menunjukkan realita atau kenyataan yang terjadi dengan memberikan informasi yang tidak menyakiti pasien (baca juga : Model Komunikasi DeFleur)

11. Menunjukkan keraguan

Kadang kala, terlalu percaya diri dengan sebuah jawaban juga akan mempengaruhi pandangan seseorang. Itulah sebabnya, ketika melakukan komunikasi terapeutik, diperlukan sikap yang menunjukkan keraguan didalam diri seorang perawat. Ketika kamu ragu untuk memberikan sebuah jawaban, berusahalah untuk bersikap dengan tenang dan berikan jawaban yang menurut kamu benar dengan sangat hati-hati. Hal ini akan berguna untuk memberikan pandangan bahwa kamu menjawab pertanyaan pasien secara realistis. (baca juga : Teknik Penulisan Berita Media Cetak)

12. Melihat kondisi dan situasi

Teknik yang berikutnya yang harus dipelajari oleh perawat dalam menjalankan komunikasi terapeutik adalah cara atau kemampuan untuk melihat kondisi dan situasi yang dialami oleh pasien. Dengan kemampuan tersebut, seorang perawat akan mampu untuk menjelaskan pikiran dan informasi yang diberikannya. Caranya bisa dengan melakukan beberapa hal seperti :

  • Melakukan pencarian informasi yang tepat dan memberikan pengertian dengan baik dan benar terhadap informasi yang disampaikan
  • Memverbalisasaikan apa yang diucapkan oleh pasien baik mengenai anjuran, saran, kritik ataupun motivasi
  • Mempertimbangkan segala sesuatunya mulai dari risiko, keuntungan serta dampak informasi yang diberikan

thirteen. Menterjemahkan pesan

Seorang perawat harus mampu untuk mengidentifikasi dan menerjemahkan informasi yang diberikan oleh seorang pasien. Ketika seorang perawat mampu untuk melakukan hal ini, maka perawat akan mampu untuk mengidentifikasikan perasaan pasien mengenai topik yang sedang dibicarakan. Caranya dapat dengan melakukan beberapa hal seperti :

  • Mendukung pandangan pasien
  • Mengajak pasien untuk berkolaborasi
  • Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mendapatkan jawaban alternatif
  • Membaca pesan atau informasi bahkan statmen yang diucapkan oleh pasien

14. Membatasi diri

Membatasi diri merupakan sebuah hal yang wajar ketika terjadi sebuah komunikasi, tidak terkecuali dengan komunikasi terapeutik. Membatasi diri bagi seorang perawat adalah dengan menjaga informasi yang keluar berkaitan dengan kondisi pasien, dengan mempertimbangkan beberapa hal yang mungkin saja dapat memperburuk keadaan pasien. Contohnya adalah ketika pasien ingin membuka informasi mengenai suatu penyakit yang Ia derita dan ingin mengetahui penyakit apa yang Ia derita tersebut, maka sebisa mungkin perawat dapat mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain dengan tujuan untuk menjaga perasaan dan kondisi tubuh pasien. (baca juga : Manajemen Komunikasi Pemasaran)

15. Mendekatkan diri dengan pasien

Dengan mendekatkan diri kepada pasien, maka perawat telah menunjukkan sebuah penghormatan terhadap pasien. Ketika itu dilakukan, pasien juga akan merasa bahwa perawat ingin terlibat dan masuk kedalam diri pasien. Cara utama dari teknik yang satu ini adalah dengan sesering mungkin mengajak pasien untuk berkomunikasi dan sering menanyakan kabar pasien. (baca juga : Strategi Komunikasi Organisasi)

16. Memberikan humor

Memberikan humor atau bahan bercandaan adalah salah satu hal terpenting yang harus bisa dipelajari dan diaplikasikan oleh seorang perawat. Sebuah bahan bercandaan yang berhasil membuat pasien tertawa akan menunjukkan sebuah keberhasilan perawat dalam memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi pasien. (baca juga : Teknik Penulisan Berita Online)

17. Mendidik

Teknik teraupetik yang terahir adalah dengan mendidik pasien. Dengan berusaha mendidik pasien untuk mengikuti anjuran dokter, meminum obat dengan teratur ataupun melakukan terapi yang seharusnya dijalani tentunya akan membuat pasien merasa diperhatikan. Mendidik pasien juga akan memberikan timbal balik yang baik bagi perawat untuk dapat berkomunikasi dengan pasien-pasien yang lain. Selain itu, mendidik pasien untuk mengikuti seluruh proses perawatan yang ada akan membuat pasien lebih tenang dan lebih yakin. (baca juga : Sejarah Konsep Pemasaran)

Itulah tadi 17 teknik komunikasi terapeutik yang dapat kami jelaskan pada artikel kali ini, semoga penjelasan diatas dapat memberikan pengetahuan dan dapat menjadikan kamu sebagai perawat yang lebih baik dan lebih berkompeten lagi. Sampai jumpa pada artikel yang selanjutnya.